YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menekankan bahwa pembangunan Padepokan Tapak Suci Putera Muhammadiyah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol semangat kemandirian yang menjadi ruh pergerakan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad. Hal ini disampaikan Haedar dalam acara Pengajian Akbar Pembangunan Padepokan Tapak Suci di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026).
Haedar menegaskan bahwa di Muhammadiyah tidak ada istilah proyek yang berhenti di tengah jalan setelah peletakan batu pertama. "Mesti ketika batu pertama diletakkan, itu tidak lama kemudian dalam proses membangun yang wajar, bangunan itu akan berdiri," ujarnya. Semangat kemandirian ini, menurutnya, dilakukan dalam bingkai kolaborasi dengan pemerintah dan kekuatan bangsa lainnya untuk membangun kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa hingga ke daerah tertinggal.
Dalam pidatonya, Haedar Nashir menggarisbawahi pentingnya peran Tapak Suci dalam membangun fisik, mental, dan karakter generasi muda (milenial, Gen Z, hingga Alpha) berbasis iman dan akhlak. Ia menyebut konsep pembangunan manusia di Muhammadiyah adalah pembangunan yang utuh, bukan serpihan, yang mencakup dimensi intelektual dan kesalehan.
"Kita membangun fisik, membangun mental berbasis iman dan akhlak. Ada istilah aqlus salim wa jinsus salim, yakni akal budi yang jernih dan saleh, tapi juga fisik yang sehat dan selamat," jelas Haedar. Ia menambahkan bahwa Tapak Suci harus tetap konsentrasi pada penyatuan kekuatan fisik, iman, dan kesalehan agar bangsa Indonesia mampu bersaing secara global.
Prof. Haedar juga menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai gerakan yang berkomitmen memberi dan meringankan beban pemerintah tanpa terkontaminasi oleh orientasi politik praktis. Muhammadiyah memposisikan diri sebagai kekuatan yang konstruktif namun tetap kritis dalam memberikan solusi atas masalah bangsa.
Lebih lanjut, Haedar memuji sifat inklusif Tapak Suci yang kini telah tersebar di 24 negara dan dapat diterima oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, usia, maupun kewarganegaraan. "Tapak Suci menjadi lembaga pengembangan SDM dan lembaga untuk membangun relasi yang inklusif," tuturnya.
Pesan Persatuan Nasional Menutup arahannya, Prof. Haedar mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah dan bangsa Indonesia untuk menjauhi sikap kebencian dan kemarahan yang tidak produktif di media sosial. Ia berharap Muhammadiyah, melalui Tapak Suci, terus menjadi kekuatan pencerdas dan pencerah yang menyatukan bangsa.
"Jika kita membangun dengan kasih sayang seperti seorang ibu, di situlah berkah Allah akan turun. Muhammadiyah harus terus menjadi kekuatan yang memajukan dan menyatukan bangsa, dan Tapak Suci adalah tempatnya," pungkas Haedar.
Hadir Ketua Umum PB IPSI yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI Sugiono, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Afnan Hadikusumo. Acara ini juga turut dihadiri oleh Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Anggota DPR RI Totok Daryanto dan Danang Wicaksono, serta jajaran tokoh Muhammadiyah lainnya dan ratusan pendekar hingga kader Tapak Suci.

