BANTUL, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan ucapan selamat atas pengukuhan guru besar salah satu kader terbaik persyarikatan Ridho Al-Hamdi hari ini (Kamis 16 April 2026). Hal tersebut disampaikan Haedar dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar Prof Dr phli Ridho Al-Hamdi MA di gedung AR Fachrudin B lantai 5 UMY.
Haedar sangat mengapresiasi keberhasilan Ridho Al-Hamdi ini, karena ia meraihnya dalam usia yang cukup muda yaitu 40 tahun. “Semoga yang lain bisa segera menyusul,” harap Haedar.
Harapan yang sama juga disampaikan Haedar kepada Ridho Al-Hamdi, khususnya dalam hal pengembangan ilmu di Indonesia, terlebih di PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah). “Agar kultur keilmuan disini lebih baik dan dalam,” pesannya.
Senada dengan itu, diawal kegiatan Rektor UMY Achmad Nurmandi juga menyampaikan bahwa, apa yang sudah diraih oleh Ridho Al-Hamdi tentu menginspirasi dosen-dosen muda UMY yang lain, juga di PTM lain. “Semoga di UMY makin bermunculan guru besar muda di bawah 45 tahun,” harapnya.
Ridho Al-Hamdi yang merupakan Dekan Fisipol UMY dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang kepakaran partai politik dan sistem kepartaian. Karenanya orasi ilmiahnya berjudul Dis (mal) fungsi Partai Politik, Tren Selatan Global dan Model Pelembagaan Sistem Kepartaian.
Dalam orasinya Ridho menjelaskan, bahwa dis (mal) fungsi mengandung 2 makna. Disfungsi artinya pantai politik tidak berfungsi secara optimal, sedang malfungsi artinya partai politik sama sekali tidak berfungsi atau berfungsi tapi tidak sesuai dengan harapan rakyat.
Karenanya kemudian Ridho Al-Hamdi menawarkan metode atau teorinya yang bernama Embedded Party System Institutionalization (EPSI) Cube. Yaitu sebagai paradigma baru pelembagaan sistem kepartaian yang berlaku tidak hanya di Indonesia tapi juga negara demokrasi lainnya.
