Haedar Nashir: Suara ‘Aisyiyah Rujukan Perempuan Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

10 October 2026

137
Foto Istimewa

Foto Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong Suara ‘Aisyiyah memperkuat transformasi media, profesionalisme pengelolaan, dan kualitas konten agar tetap relevan di tengah persaingan industri media yang semakin ketat. Memasuki usia satu abad, Suara ‘Aisyiyah perlu merumuskan visi pengembangan jangka panjang agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai media rujukan perempuan berkemajuan.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam peringatan Milad 100 Tahun Suara ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026). Ia menyebut usia satu abad sebagai pencapaian monumental karena tidak banyak majalah yang mampu mempertahankan kesinambungan penerbitannya selama 100 tahun. Haedar mengingatkan bahwa Suara Muhammadiyah telah lebih dahulu menempuh perjalanan panjang sejak 1915, sedangkan Suara ‘Aisyiyah mulai terbit pada 1926.

Menurut Haedar, peringatan satu abad tidak cukup dimaknai sebagai perayaan sejarah, tetapi harus menjadi momentum refleksi sekaligus penyusunan strategi masa depan. Suara ‘Aisyiyah perlu menentukan arah pengembangan yang jelas agar mampu menjawab kebutuhan anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia.

Ia menilai Suara ‘Aisyiyah memiliki potensi pembaca yang besar karena berada di lingkungan organisasi perempuan Muhammadiyah dengan anggota dan jaringan yang luas. Namun, jumlah anggota organisasi tidak secara otomatis berbanding lurus dengan jumlah pelanggan majalah.

“Suara ‘Aisyiyah sejatinya memiliki pasar yang jelas, yakni anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah. Tetapi, banyaknya anggota tidak otomatis membuat mereka berlangganan Suara ‘Aisyiyah,” ujarnya.

Karena itu, Haedar mendorong pengelola Suara ‘Aisyiyah bersama Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyusun visi pengembangan yang berkemajuan, termasuk memperkuat basis pelanggan dan membangun pengelolaan media yang profesional. Ia berharap majalah ini menghadirkan konten yang substantif, menarik dibaca, serta menjadi rujukan bagi warga persyarikatan dan masyarakat luas.

Menurutnya, Suara ‘Aisyiyah harus mampu menyajikan tulisan yang penting bagi pengembangan organisasi, sekaligus dikemas dengan cara yang menarik sehingga pembaca memperoleh manfaat nyata. Penguatan isi juga perlu disertai peningkatan kapasitas sumber daya manusia, termasuk pengetahuan dan wawasan para redaktur serta pengelola media.

Haedar mengingatkan bahwa lanskap media telah berubah secara signifikan. Masyarakat kini semakin akrab dengan perdagangan elektronik, media digital, dan media sosial yang memungkinkan informasi beredar dengan cepat dan mudah. Kondisi tersebut menuntut media cetak untuk beradaptasi, bukan sekadar mempertahankan pola kerja lama.

“Kita tidak bisa mengelola media massa hari ini dengan berjalan apa adanya dan berada di zona nyaman, karena lingkungan sekitar sudah berubah,” tegasnya.

Ia menilai persaingan dengan media digital merupakan tantangan serius yang perlu dijawab melalui pembaruan strategi penerbitan, penguatan distribusi, dan pemanfaatan teknologi. Suara ‘Aisyiyah perlu memperluas jangkauan konten melalui kanal digital agar gagasan tentang Islam berkemajuan dan perempuan berkemajuan dapat menjangkau lebih banyak orang.

Di sisi lain, Haedar menyoroti pentingnya dukungan finansial dalam pengembangan media. Profesionalisme membutuhkan investasi pada sumber daya manusia, teknologi, dan sistem distribusi. Namun, media yang berada di bawah organisasi sosial keagamaan juga menghadapi keterbatasan karena tidak selalu dapat mengandalkan pendapatan usahanya sendiri.

Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa tanggung jawab pengembangan Suara ‘Aisyiyah tidak hanya berada di tangan pemimpin redaksi dan jajaran pengelola, tetapi juga memerlukan perhatian pimpinan organisasi. Dukungan tersebut perlu dirancang secara proporsional agar Suara ‘Aisyiyah mampu memperkuat kemandirian sekaligus memperluas keberlanjutan usahanya.

Haedar juga menekankan pentingnya memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Pengelola media perlu memetakan aspirasi, tren informasi, minat masyarakat, serta faktor yang membuat orang semakin enggan membaca media massa. Dengan pemahaman tersebut, Suara ‘Aisyiyah dapat mengembangkan konten yang sesuai kebutuhan pembaca tanpa meninggalkan identitas dan misi dakwahnya.

Lebih jauh, Haedar berharap Suara ‘Aisyiyah menjadi corong sekaligus etalase pemikiran, aspirasi, dan gerakan ‘Aisyiyah. Isi majalah perlu memiliki keterkaitan yang kuat dengan kepentingan organisasi serta menghadirkan gagasan yang mendukung kemajuan persyarikatan, bangsa, dan kemanusiaan.

Ia mengingatkan bahwa tantangan media bukan hanya soal produksi dan distribusi, melainkan juga membangun budaya membaca di lingkungan organisasi. Menurutnya, konten yang bernas dan penting tidak akan memberikan dampak optimal apabila tidak dibaca dan dimanfaatkan oleh warga persyarikatan sendiri.

Haedar mengajak seluruh pihak menjadikan niat yang sungguh-sungguh sebagai dasar membangun etos kemajuan. Niat tersebut perlu diwujudkan melalui kerja keras, kegigihan menghadapi tantangan, dan kesabaran dalam menjalankan proses perubahan.

Ia juga membedakan sikap kritis dari kontribusi nyata. Kritik terhadap organisasi dan media, menurutnya, akan lebih bermakna apabila disertai gagasan, solusi, dan partisipasi untuk memperbaiki keadaan. Kemajuan tidak cukup berhenti sebagai wacana, tetapi harus diwujudkan melalui kerja bersama.

“Orang bisa dengan mudah berbicara tentang kemajuan, bahkan mengkritik. Tetapi, tidak selalu bisa membawa kemajuan itu sendiri. Ketika ada panggilan untuk memajukan organisasi dan Suara ‘Aisyiyah, harus ada solusi dan partisipasi,” pesannya.

Haedar berharap Suara ‘Aisyiyah terus menginspirasi anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah untuk merawat warisan literasi yang telah dibangun selama satu abad. Dengan pengelolaan yang profesional, isi yang berkualitas, dan dukungan organisasi yang kuat, Suara ‘Aisyiyah diharapkan semakin mantap menjadi representasi Islam berkemajuan dan perempuan berkemajuan di panggung persyarikatan, umat, bangsa, serta kemanusiaan semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Catatan Perjalanan Menghadiri Regional Meeting LPCRPM Se- Indonesia Timur Episode Ke-2: Kisah Hari P....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Hukum Bisnis, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Pr....

Suara Muhammadiyah

10 July 2025

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Cabang Muhammadiyah Pallangga Gowa terus menggerakkan dan menyebarkan syi....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Berita

DEPOK, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cimanggis Tapos sukses menyelen....

Suara Muhammadiyah

8 August 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) berhasil menyelenggarak....

Suara Muhammadiyah

21 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah