JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lembaga Al Fahmu Institute secara resmi menyelenggarakan acara Peluncuran dan Bedah Buku mahakarya terbaru karya pendiri Al Fahmu Institute, KH. Fahmi Salim, Lc., MA, yang berjudul “HAJI: Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan”. Bertempat di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, acara ini menghadirkan para tokoh bangsa, ulama, akademisi, serta pimpinan lembaga tinggi negara, Senin, 28 September 2026.
Buku ini hadir membedah ibadah haji secara holistik dan mendalam—melampaui sekadar rutinitas ritual fikih formalitas atau narasi fasilitas fisik semata. Menggabungkan aspek fikih, tasawuf, dan filsafat sosial, karya ini menegaskan bahwa manasik haji adalah “madrasah tauhid”, rekonstruksi jejak perjuangan Nabi Ibrahim AS, serta manifesto spiritual untuk persatuan, keadilan sosial, dan kebangkitan peradaban umat manusia.
Hadir sebagai pembicara kunci (Keynote Speaker) dalam acara peluncuran ini, yaitu KH. Fahmi Salim, Lc., MA (Founder Al Fahmu Institute / Penulis) bersama Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, M.PKP.
Membedah Dimensi Fikih, Sosial, dan Peradaban Global
Dalam pemaparannya, KH. Fahmi Salim menjelaskan bahwa buku ini menguraikan esensi manasik haji ke dalam tiga bagian utama:
1. Manasik untuk Ketakwaan: Mengupas keterkaitan rukun dan filosofi manasik langsung dengan Al-Qur'an dan jejak Nabi Ibrahim AS, pemurnian niat, serta pembekalan lahir-batin jamaah.
2. Kebangkitan & Ketahanan Sosial-Keluarga: Menjadikan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS (Ibrahim, Hajar, dan Ismail) sebagai fondasi moral dan benteng ketahanan keluarga modern dalam menghadapi disrupsi zaman.
3. Refleksi Perjalanan Menuju Perdamaian Dunia: Menempatkan haji sebagai miniatur tatanan dunia yang adil—simulasi kehidupan bebas konflik, antidiskriminasi, antirasisme melalui ihram, serta pemerataan keadilan ekonomi melalui kurban.
“Haji bukan sekadar pergerakan fisik atau kemewahan fasilitas perjalanan, melainkan praktikum lapangan yang menyatukan pengendalian nafsu, transendensi spiritual, pengorbanan harta, dan mobilitas fisik. Manasik haji adalah sistem penyelamat makna hidup dan universitas tauhid yang merekatkan jutaan manusia dalam kesetaraan mutlak di hadapan Allah Ta'ala,” papar KH. Fahmi Salim.
Turut memperkaya bedah buku ini deretan narasumber dan tokoh inspiratif, di antaranya Ustadz Derry Sulaiman, Ustadz Dr. Erick Yusuf, S.Sy., M.Pd., Ustadz Zulkifli M. Ali, Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, Dr. Elly Warti Maliki, serta figur publik Arie K. Untung.
Karya ini mendapat sambutan hangat serta testimoni dari jajaran menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan MPR RI, pimpinan ormas Islam, hingga militer dan ulama nasional.

