Haji Misbach dan Muhammadiyah Kiri: Alarm Ideologis dari Sejarah

Publish

22 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
128
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Haji Misbach dan Muhammadiyah Kiri: Alarm Ideologis dari Sejarah

Oleh: Amrizal

Beberapa waktu lalu, saya bersilaturahmi ke UAD Press dan bertemu dengan sahabat saya, Mas Hatib. Dari ruang diskusi yang hangat dan penuh gagasan itulah, saya dihadiahi sebuah buku berjudul Muhammadiyah Kiri: Haji Misbach yang Terlupakan dan Tersingkir, karya Syifaul Arifin. Buku ini bukan sekadar bacaan sejarah, melainkan bahan refleksi ideologis bagi kader Muhammadiyah untuk membaca ulang dinamika gerakan, pergulatan pemikiran, serta jejak tokoh-tokoh yang kerap terpinggirkan dalam narasi arus utama. Dari telaah atas buku inilah, saya mencoba menuliskan sebuah narasi sebagai ikhtiar kaderisasi—menghidupkan ingatan, menajamkan kesadaran, dan merawat keberanian berpikir kritis dalam tubuh Persyarikatan.

Di tengah gegap gempita pengelolaan amal usaha, rapat struktural yang padat, dan kaderisasi yang kian prosedural, ada satu pertanyaan sunyi yang kerap tak terucap: ke mana perginya daya gugat ideologi kita? Pertanyaan ini bukan lahir dari kekecewaan, melainkan dari kegelisahan. Kegelisahan yang—suka atau tidak—pernah disentil secara tajam melalui sebuah narasi kontroversial: Muhammadiyah Kiri dan kisah Haji Misbach.

Nama Haji Misbach mungkin tidak populer di mimbar-mimbar resmi Muhammadiyah. Namun dalam sejarah pergerakan Islam awal abad ke-20, ia hadir sebagai figur yang keras, frontal, dan tanpa kompromi terhadap ketidakadilan. Seorang pedagang batik dari Surakarta, muslim taat, yang menjadikan Islam sebagai bahasa perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme yang menindas kaum kecil. Ia bukan kader Muhammadiyah, bahkan pada titik tertentu berseberangan. Namun justru di situlah letak relevansinya sebagai cermin.

Dalam buku Muhammadiyah Kiri, Syifaul Arifin tidak sedang mengajak Muhammadiyah berpindah ideologi. Ia sedang mengajak bercermin. Istilah “kiri” dipakai bukan dalam makna politik praktis atau ideologi impor, melainkan sebagai simbol keberpihakan sosial—berdiri di sisi mustadh‘afin, berani menggugat struktur yang timpang, dan tidak jinak di hadapan kekuasaan.

Bahasa Perlawanan

Haji Misbach memandang Islam bukan sekadar ritual personal, tetapi energi pembebasan. Ia lantang mengkritik ulama yang dekat dengan penguasa kolonial, mengecam agama yang dijadikan penenang rakyat agar patuh pada ketidakadilan. Dalam pandangannya, iman yang sejati harus melahirkan keberanian moral.

Narasi ini penting dibaca secara dewasa. Muhammadiyah sejak awal memang memilih jalan berbeda: dakwah tajdid melalui pendidikan, kesehatan, dan pembaruan sosial yang berkelanjutan. Ahmad Dahlan tidak memimpin revolusi bersenjata, tetapi membangun kesadaran melalui ilmu dan amal. Namun kesamaan keduanya terletak pada satu titik: keberpihakan. Keduanya sama-sama resah melihat kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan umat.

Masalahnya, seiring waktu, keberpihakan itu berisiko memudar ketika gerakan terlalu sibuk mengelola institusi, tetapi lupa merawat nurani ideologisnya. Di sinilah kisah Haji Misbach berfungsi sebagai alarm sejarah.

Burnout Ideologis di Akar Rumput

Dalam pengalaman kaderisasi di akar rumput Muhammadiyah, kegelisahan serupa kerap terdengar. Banyak kader muda rajin mengikuti pelatihan, naik jenjang struktural, tetapi merasa kosong secara ideologis. Mereka lelah, bukan karena terlalu banyak berbuat, melainkan karena tidak lagi merasakan makna dari apa yang diperbuat. Inilah yang bisa disebut sebagai burnout ideologis.

Ilmu pendidikan menjelaskan bahwa manusia membutuhkan keterlibatan yang bermakna. Tanpa makna, aktivitas berubah menjadi rutinitas mekanis. Ketika ideologi hanya hadir sebagai materi pelatihan, bukan sebagai nilai yang dialami dalam praksis sosial, kader akan mengalami keterputusan antara keyakinan dan realitas.

Muhammadiyah sejatinya kaya nilai: keikhlasan, integritas, ilmu, dan amal. Namun nilai-nilai itu menuntut keteladanan dan keberanian praksis. Tanpa itu, kaderisasi berisiko kehilangan ruh.

Membaca “Kiri” secara Proporsional

Di sinilah pentingnya membaca Muhammadiyah Kiri secara jernih. Syifaul Arifin tidak sedang meromantisasi Haji Misbach atau mengusulkan jalan revolusioner. Ia justru menantang Muhammadiyah agar tidak kehilangan watak profetiknya. Amar ma’ruf nahi munkar tidak berhenti pada nasihat moral, tetapi juga menyentuh struktur yang menindas.

Dalam perspektif Islam moderat, keberanian moral harus berjalan seiring kebijaksanaan. Al-Qur’an menegaskan agar umat menjadi saksi keadilan. Keadilan itu menuntut keberpihakan, bukan netralitas semu. Namun keberpihakan Muhammadiyah selalu dibingkai oleh etika, ilmu, dan maslahat.

Karena itu, ketakutan berlebihan terhadap istilah “kiri” justru bisa menutup ruang refleksi. Yang perlu dijaga adalah garis ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan—bukan status quo, bukan pula ekstrem.

Menyalakan Kembali Ruh Tajdid

Kisah Haji Misbach mengingatkan kita bahwa sejarah Islam Indonesia penuh dinamika dan perdebatan. Muhammadiyah tumbuh besar justru karena keberanian melakukan tajdid—pembaruan yang tidak selalu nyaman. Hari ini, tajdid itu mungkin bukan soal fiqh semata, melainkan soal keberanian ideologis: berpihak pada umat di tengah ketimpangan ekonomi, krisis pendidikan, dan problem kemanusiaan.

Solusinya bukan menjadikan Muhammadiyah “kiri”, tetapi menjadikannya kembali hidup. Kaderisasi perlu dihidupkan dengan refleksi ideologis yang jujur, keteladanan pimpinan, dan keterlibatan nyata dalam problem sosial. Ideologi harus dirasakan sebagai energi moral, bukan sekadar identitas organisasi.

Sejarah sebagai Cermin, Bukan Beban

Haji Misbach bukan untuk ditiru jalannya, tetapi untuk direnungkan semangatnya. Ia adalah pengingat bahwa agama kehilangan makna ketika menjauh dari penderitaan manusia. Muhammadiyah, dengan seluruh kekuatan amal usahanya, justru memiliki modal besar untuk menghadirkan Islam yang membebaskan dan mencerahkan.

Mungkin, yang kita perlukan hari ini bukan kader yang paling lantang berbicara ideologi, tetapi yang paling berani hidup dalam nilai-nilainya. Dari sanalah ideologi berhenti menjadi slogan, dan kembali menjadi cahaya—menerangi jalan dakwah dan kemanusiaan. Wallahu a’lam Bish Shawab.

Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara, Dosen Universitas Negeri Medan, Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Karakter Ayat-ayat Shiyām Ramadhān (1): Iman Menumbuhkan Kekuatan Pengendali Ust. Rifqi Rosy....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Wawasan

Anak Saleh (30)Oleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah Magelang "Anak saleh bukan barang instan....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Wawasan

Ketika Film Lebih Lantang dari Upacara Kemerdekaan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Waki....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Wawasan

Sekolah yang Dinamis Oleh; Daryono Kepemimpinan Visioner Penciptaan bumi dan seisinya membutuhkan....

Suara Muhammadiyah

25 September 2023

Wawasan

Ramadhan, Lebaran dan Sikap Egaliter Oleh: Royyan Mahmuda Al’Arisyi Daulay, S.H.,M.H., Bidang Advo....

Suara Muhammadiyah

30 March 2025