Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah: Meneguhkan Tradisi Intelektual dan Jurnalistik Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

134
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah: Meneguhkan Tradisi Intelektual dan Jurnalistik Berkemajuan

Oleh: Hendra Apriyadi, Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah/Penggiat Literasi Muhammadiyah

Tanpa media dan pers, demokrasi tidak akan berjalan dengan baik. Pers memiliki posisi penting sebagai salah satu pilar kehidupan demokrasi yang menjalankan fungsi informasi, kontrol sosial, edukasi, sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan secara kritis dan konstruktif.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Mamun Murod dalam rangkaian peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Menurutnya, keberadaan pers tidak dapat dipisahkan dari kehidupan demokrasi karena media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik dan menciptakan ruang dialog yang sehat.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Muchlas, menyampaikan bahwa peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah menjadi puncak rangkaian kegiatan yang meneguhkan kembali tradisi pers dan literasi dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki ekosistem pers dan literasi yang sangat besar. Tradisi tersebut telah tumbuh sejak awal perjalanan Persyarikatan. Pada 1915, Muhammadiyah telah memiliki media Suara Muhammadiyah dan Suara 'Aisyiyah sebagai bagian dari ikhtiar menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan nilai-nilai kemajuan.

Pers bagi Muhammadiyah bukan sekadar media penyampaian informasi, tetapi merupakan bagian dari tradisi intelektual dan pendidikan. Tradisi membaca dan menulis menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban dan mencerdaskan kehidupan umat.

Literasi merupakan DNA Muhammadiyah

Kesadaran tersebut perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang diperingati setiap 13 Agustus menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali etos literasi di lingkungan Persyarikatan.

Muhammadiyah membutuhkan kader-kader jurnalis yang kuat, berintegritas, profesional, dan memiliki keberpihakan pada kebenaran serta kemajuan umat. Jurnalis Muhammadiyah tidak cukup hanya mampu menyampaikan berita, tetapi juga harus mampu menghadirkan gagasan, mencerdaskan pembaca, dan membangun peradaban melalui informasi yang berkualitas.

Dalam konteks tersebut, perjalanan Prof. Dr. Haedar Nashir juga menjadi bagian dari tradisi jurnalistik Muhammadiyah. Sebagai seorang intelektual yang pernah memulai aktivitas jurnalistik melalui Suara Muhammadiyah, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa tradisi pers merupakan bagian penting dalam pembentukan pemikiran dan penguatan intelektualitas kader Muhammadiyah.

Literasi dan jurnalistik pada hakikatnya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya tumbuh dari tradisi membaca, menulis, berpikir, berdialog, dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat.

Karena itu, jurnalis Muhammadiyah harus mampu menghadirkan santun dalam pemikiran dan santun dalam jurnalistik. Kritik tetap diperlukan, tetapi disampaikan dengan argumentasi, etika, data, dan tanggung jawab moral.

Sementara itu, Hendra Apriyadi, S.Pd., M.Pd., mewakili Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah memiliki arti penting bagi perjalanan Persyarikatan.

“Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah sangat penting sebagai momentum lahirnya dan tumbuhnya literasi Muhammadiyah yang berkemajuan. Ini bukan hanya tentang bagaimana kita membaca dan menulis, tetapi bagaimana literasi melahirkan gagasan, membangun pemikiran, mencerdaskan generasi, dan menghadirkan kemajuan bagi umat dan bangsa.”

Menurut Hendra, momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa kekuatan Muhammadiyah tidak hanya dibangun melalui amal usaha dan kelembagaan, tetapi juga melalui kekuatan gagasan, pengetahuan, literasi, dan media.

Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, kader Muhammadiyah dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen pengetahuan dan informasi yang berkualitas.

Pers Muhammadiyah harus hadir sebagai media yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menciptakan ruang publik yang sehat. Di sinilah pentingnya melahirkan jurnalis-jurnalis Muhammadiyah yang profesional, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Persyarikatan.

Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah bukan sekadar peringatan tahunan. Sebagai pengingat bahwa membaca adalah jalan menuju pengetahuan, menulis adalah jalan merawat gagasan, dan pers adalah jalan menghadirkan gagasan itu kepada masyarakat.

Dari tradisi membaca lahir pemikiran. Dari pemikiran lahir tulisan. Dari tulisan lahir gerakan. Dan dari gerakan yang berkemajuan, lahirlah peradaban.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tiga Prinsip Hidup Menjaga Kualitas Kemanusiaan Oleh: M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag "Wa ja'alanī mu....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Wawasan

Kebahagiaan: Sebuah Pilihan dan Perspektif Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

3 March 2025

Wawasan

Jangan Sekadar Ber-IMM, Jadikan Tulisan Sebagai Karya Utama Oleh: Fathan Faris Saputro Dalam dunia....

Suara Muhammadiyah

28 November 2023

Wawasan

Gerakan IMM dalam Lintasan Peradaban (2) Oleh: Hilma Fanniar Rohman, Dosen Perbankan Syariah, Unive....

Suara Muhammadiyah

10 May 2024

Wawasan

Ibadah Haji dan Persamaan Nilai Kemanusiaan Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M. Pd Ibadah haji merupak....

Suara Muhammadiyah

19 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah