Hari Tarwiyah dan Lahirnya Muhammadiyah: Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
371

Hari Tarwiyah dan Lahirnya Muhammadiyah: Memajukan Kesejahteraan Bangsa

Oleh: M. Saifudin, Pengasuh PP Modern Muhammadiyah Sangen Weru Sukoharjo

Malam Refleksi Milad Muhammadiyah ke-117 berdasarkan kalender Hijriah (atau ke-113 berdasarkan penanggalan Masehi resmi Muhammadiyah) diselenggarakan oleh PDM Sukoharjo di Aula SMK Muhammadiyah Sukoharjo. Acara ini menghadirkan Ketua PP Muhammadiyah Drs. Dahlan Rais, M.Hum. dan Wakil Rektor III UMS Dr. Mutohharun Jinan. Kegiatan dipandu oleh Dr. Srilahir serta dibuka dengan sambutan Ketua PDM Sukoharjo, Djumari, M.Si.

Acara tersebut diikuti para ketua dan sekretaris PCM, PCA, organisasi otonom Muhammadiyah (Ortom), serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kabupaten Sukoharjo sebagai bagian dari konsolidasi dakwah dan penguatan gerakan Muhammadiyah di berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Muhammadiyah berdiri pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan dengan 18 November 1912 M. Selama ini mayoritas warga Muhammadiyah lebih mengenal tanggal 18 November 1912 karena itulah tanggal resmi yang tercatat secara legal di negara. Namun, KH Ahmad Dahlan memilih momentum 8 Dzulhijjah, karena bertepatan dengan rangkaian ibadah haji, tepatnya Hari Tarwiyah, saat jamaah haji bersiap menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.

Ibadah haji merupakan ibadah yang memerlukan istitha’ah atau kesiapan dalam berbagai aspek. Karena itu, KH Ahmad Dahlan menjadikan momentum Tarwiyah sebagai simbol bahwa dakwah Islam memerlukan persiapan, kesungguhan, ilmu, dan perjuangan kolektif. Muhammadiyah sejak awal tidak hanya dimaksudkan sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan dakwah yang membawa pencerahan dan kemajuan umat.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Dahlan Rais, M.Hum, menyampaikan sejumlah refleksi penting tentang arah perjuangan Muhammadiyah.

A. Refleksi dan Penguatan Karya Nyata Muhammadiyah

1. Mengapa Milad Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah?

Berdirinya Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan momentum jamaah haji melaksanakan Tarwiyah menuju Arafah. Tarwiyah adalah momentum persiapan bekal menuju puncak ibadah haji. Karena itu, Muhammadiyah dipersiapkan menjadi gerakan pembaruan umat menuju kemajuan Islam dengan bekal ilmu dan iman.

Menurut Dahlan Rais, Tarwiyah menjadi pengingat bahwa Muhammadiyah adalah gerakan yang fokus pada dakwah Islam yang mencerahkan umat melalui dakwah dan amal nyata.

2. Muhammadiyah berpijak pada ilmu dan amal

Manusia akan mencapai derajat ahsani taqwim apabila memiliki ilmu. Karena itu wahyu pertama adalah perintah membaca: Iqra’. Setelah itu Allah berfirman: “‘allamal insāna mā lam ya‘lam” (mengajarkan manusia dari apa yang tidak diketahuinya).

Artinya, perintah membaca harus diikuti dengan proses belajar dan mengajar. Dari sinilah Muhammadiyah dibangun di atas fondasi ilmu, pendidikan, dan amal nyata.

3. Bermuhammadiyah berarti meneladani KH Ahmad Dahlan

Karakter KH Ahmad Dahlan, menurut Pa Dahlan Rais, tercermin dalam kisah pertemuan beliau dengan Abdur Rasyid Sutan Mansur dari Minangkabau di Pekalongan (tokoh yang berbeda dengan Mas Mansur).

Sutan Mansur sangat terpesona dengan keluasan ilmu dan hujah KH Ahmad Dahlan. Setelah melihat beliau sebagai ahli ibadah, Mansur masih ingin mengetahui apakah beliau juga seorang yang dermawan. Ketika Mansur meminta sarung lusuh yang sedang dipakai KH Ahmad Dahlan, beliau justru memberikan sarung baru yang lebih baik.

Dari kisah itu tampak tiga karakter utama warisan KH Ahmad Dahlan, yaitu: berilmu, ahli ibadah, dan dermawan.

4. Menghidupkan masjid dan ranting Muhammadiyah

Dalam suasana penuh semangat, Pak Dahlan Rais menekankan bahwa ranting merupakan ujung tombak terdepan Muhammadiyah dalam berdakwah di tengah masyarakat. Karena itu, cabang harus terus berkembang sebagai penggerak, pembina, dan penguat ranting-ranting Muhammadiyah.

Beliau juga menegaskan bahwa fungsi masjid harus benar-benar dioptimalkan, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah, pembinaan umat, pendidikan, dan solusi berbagai persoalan masyarakat.

Pesan tersebut menegaskan pentingnya penguatan basis gerakan Muhammadiyah dari ranting, cabang, dan masjid sebagai pusat dakwah dan pemberdayaan umat.

5. Muhammadiyah memuliakan perempuan sejak awal

Beliau juga mengingatkan bahwa KH Ahmad Dahlan memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan perempuan. Setelah mendirikan Muhammadiyah tahun 1912, beliau mendirikan Sopo Tresno pada tahun 1914, yaitu perkumpulan pengajian perempuan yang dipimpin Nyai Walidah.

Gerakan itu kemudian berkembang menjadi ‘Aisyiyah pada tahun 1917. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal Muhammadiyah telah memberi perhatian serius terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan.

6. Fokus Muhammadiyah adalah dakwah dan pemberdayaan umat

Menurut beliau, Muhammadiyah hendaknya tetap fokus pada dakwah yang mencerahkan dan berkemajuan melalui amal nyata. Muhammadiyah dinilai lebih tepat berada di jalur dakwah, pendidikan, sosial, kesehatan, dan pemberdayaan umat.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa ketika Muhammadiyah terlalu masuk dalam politik praktis, energi dakwah sering melemah. Karena itu, Muhammadiyah perlu menjaga posisinya sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang memberi manfaat luas bagi masyarakat.


B. Penguatan Dakwah Keagamaan, Sosial, dan Sejahtera (Dr. Mutaharun Jinan)

1. Mengapa Muhammadiyah menjadi organisasi yang maju?

Menurut Mutohharun Jinan, Muhammadiyah menjadi organisasi kemasyarakatan yang maju karena merupakan organisasi tua yang kaya pengalaman dan matang dalam perjuangan. Muhammadiyah dibangun di atas empat nilai utama, yaitu: ilmu, amal nyata, kuat akhlak, dan wawasan luas.

2. Muhammadiyah selalu mendahului zamannya

Mutohharun Jinan menjelaskan bahwa banyak program Muhammadiyah pada awalnya sering dianggap sebagai “mimpi di siang bolong.” Namun, setelah program-program itu terwujud, barulah masyarakat mengakui manfaat dan keberhasilannya.

Muhammadiyah tidak hanya bergerak di dalam negeri, tetapi juga mendirikan sekolah di Australia, kampus di Malaysia, serta berbagai amal usaha besar lainnya yang sulit dicapai banyak pihak.

Keberhasilan tersebut terjadi karena Muhammadiyah menjadikan organisasi sebagai alat dakwah. Dengan organisasi yang tertata, nilai ilmu, amal, akhlak, dan wawasan luas dapat dijalankan secara rapi dan berkesinambungan.

3. Dakwah yang kuat harus ditopang sistem organisasi yang kuat

Muhammadiyah menjadikan semangat dakwah sebagai pijakan, sedangkan sistem organisasi yang kuat menjadi penggerak dakwah. Karena itu, gerakan Muhammadiyah tidak bergantung pada figur semata, tetapi berjalan secara teratur, sistematis, dan berkelanjutan.

4. Berkemajuan tanpa meninggalkan prinsip Islam

Mutohharun Jinan menegaskan bahwa Muhammadiyah selalu menjaga prinsip-prinsip Islam, sekaligus terus bergerak menuju kemajuan. Semangat berkemajuan itu diwujudkan dalam tindakan sosial yang konkret dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Acara ditutup dengan penuh semangat melalui yel-yel Muhammadiyah: “Ranting itu penting, cabang harus berkembang, masjid makmur memakmurkan, dari masjid kita bangkit, apa pun masalahnya masjid solusinya.”

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Hidup manusia tidak akan pernah terlepas dari cengkeraman salah dan....

Suara Muhammadiyah

18 March 2026

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Blimbing menggelar pengajian Ahad....

Suara Muhammadiyah

23 June 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah adalah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang besar....

Suara Muhammadiyah

30 June 2024

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan segera berakhir. Karenanya, Sukamta, Rektor Universitas ....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Berita

TUBAN, Suara Muhammadiyah - Santri-Santri Pesantren MBS Tuban menggelar acara dalam rangka peringata....

Suara Muhammadiyah

19 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah