Hijrah Senja: Saat Lansia Tak Lagi Menua dalam Diam

Publish

16 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
34
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Hijrah Senja: Saat Lansia Tak Lagi Menua dalam Diam

Oleh Agus Subeno

1 Muharram 1448 H datang membawa pertanyaan yang sama seperti hijrah Rasulullah ﷺ dulu: mau dibawa ke mana peradaban kita? Dulu hijrah memindahkan kiblat dari kegelapan ke cahaya. Kini hijrah menuntut kita memindahkan cara pandang tentang senja. Selama ini kita merayakan panjang umur, tapi lupa menyiapkan martabat di ujungnya. Saat 1 dari 8 warga Indonesia sudah lansia, hijrah kita hari ini bukan lagi berpindah kota, tapi berpindah hati: dari membiarkan orang tua menua dalam diam, menuju memuliakan mereka sebagai penjaga peradaban.

Kita masih sibuk menyanyikan Indonesia Emas 2045. Bonus demografi, generasi muda, inovasi, pertumbuhan ekonomi — semua jadi narasi utama. Tapi ada realitas besar yang berjalan pelan di belakang layar: Indonesia sedang menua.  

Data BPS 2024 mencatat penduduk lanjut usia sudah mencapai 12% dari total populasi. Naik dari 11,75% tahun sebelumnya. Artinya 1 dari 8 warga Indonesia hari ini adalah lansia. Kita resmi melewati ambang batas PBB untuk “negara berpenduduk menua”.

Hijrah 1448 H: Menggeser Paradigma Lansia 

Tepat di awal Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, kita diajak merenung makna hijrah. Hijrah bukan sekadar pindah tempat, tapi perpindahan cara pandang dan cara bertindak. Rasulullah ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk membangun peradaban yang memuliakan manusia di setiap fase hidupnya.  

Kini saatnya kita “hijrah” juga dalam memperlakukan lansia. Hijrah dari pola lama yang menempatkan lansia sebagai beban, menuju sistem baru yang memandangnya sebagai aset peradaban. Hijrah dari “menua dalam diam” menuju “menua dengan makna”. Momentum 1448 H ini bisa jadi titik balik: resolusi kolektif bangsa untuk menyiapkan skenario penuaan yang sehat, mandiri, dan bermartabat.

Ini kabar baik. Bertambahnya lansia berarti kualitas kesehatan membaik, layanan publik naik, angka harapan hidup meningkat. Semakin banyak orang tua yang menikmati usia panjang. Tapi keberhasilan itu menagih jawaban baru: bukan sekadar membuat orang hidup lebih lama, melainkan memastikan mereka hidup lebih lama dengan sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat.

Persoalannya, kita belum sepenuhnya menjawab. Selama ini lansia sering dipersepsikan sebagai kelompok yang identik dengan ketergantungan dan beban sosial. Begitu memasuki usia senja, ia dianggap “selesai” dari produktivitas. Padahal kenyataannya tidak demikian. Banyak yang masih aktif: membimbing cucu, menggerakkan pengajian, menjadi penggerak sosial, menjaga kebijaksanaan yang makin langka di era serba cepat.

Islam meletakkan penghormatan pada lansia di tempat tertinggi. Setelah perintah tauhid, Al-Qur’an berulang kali menegaskan ihsan kepada kedua orang tua. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak” Quran Surah Al-Isra: 23. Memuliakan mereka bukan sekadar adab sosial. Itu manifestasi iman. Karena itu, isu lansia bukan hanya soal kesejahteraan. Ia adalah isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan peradaban.

Di titik inilah diskusi PP ‘Aisyiyah bersama Kementerian PPN/Bappenas tentang care economy dan pemberdayaan lansia menjadi relevan. Gagasannya sederhana tapi berani: perawatan bukan urusan dapur keluarga semata, melainkan pilar pembangunan nasional.

Data National Transfer Accounts menunjukkan fakta yang memprihatinkan: konsumsi lansia di Indonesia justru menurun seiring bertambahnya usia. Berbeda dengan negara yang punya sistem perlindungan sosial kuat, banyak lansia kita menghadapi tekanan ekonomi di masa tua. Bukan karena kebutuhannya berkurang, tapi karena sumber dayanya menyusut.

Sementara ILAS 2023 mencatat sebagian besar lansia masih menggantungkan hidup pada keluarga, terutama perempuan. Mereka menanggung peran ganda: merawat orang tua, mengurus rumah, sekaligus menopang ekonomi. Pengabdian itu mulia. Tapi jika seluruh beban perawatan dipikul keluarga tanpa dukungan sistem, yang lahir justru ketimpangan sosial dan ekonomi baru.

Konsep care economy hadir untuk memutus rantai itu. Perawatan dipandang sebagai investasi: bernilai ekonomi sekaligus kemanusiaan. Negara, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, dan keluarga harus berbagi tanggung jawab membangun sistem perawatan yang adil dan berkelanjutan.

Mekanisme “Hijrah Lansia” untuk Indonesia Masa Depan  

Menjelang 1448 H dan seterusnya, kita butuh “mekanisme hijrah” dalam tata kelola lansia. Hijrah di sini artinya 3 pergeseran strategis:  

1. Hijrah Layanan: Dari reaktif-kuratif ke promotif-preventif. Bangun “desa/komunitas ramah lansia” berbasis masjid, majelis taklim, dan ‘Aisyiyah. Ada posyandu lansia, pendamping sebaya, dan program ekonomi mikro lansia aktif.  

2. Hijrah Pembiayaan: Dari sepenuhnya bertumpu keluarga ke skema gotong royong nasional. Dorong integrasi BPJS Kesehatan + program perlindungan sosial + wakaf produktif untuk perawatan jangka panjang.  

3. Hijrah Nilai: Dari belas kasih ke keberdayaan. Lansia dilibatkan sebagai mentor, pendidik keluarga sakinah, penggerak UMKM, dan penjaga nilai. Rayakan 1 Muharram bukan hanya dengan doa, tapi juga dengan komitmen aksi nyata untuk orang tua kita.

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah punya modal sosial untuk memimpin gerakan hijrah ini. Jejak panjang di bidang kesehatan, pendidikan keluarga, dan pemberdayaan masyarakat adalah fondasi kuat untuk membangun ekosistem ramah lansia berbasis komunitas.

Namun layanan saja tidak cukup. Yang harus kita ubah adalah cara pandang. Lansia bukan objek belas kasih. Mereka subjek pembangunan. Pengalaman, jejaring, dan kearifannya adalah modal sosial yang tak bisa digantikan teknologi secanggih apa pun. Banyak dari mereka masih bisa menjadi mentor generasi muda, penggerak UMKM, pendidik keluarga, dan penjaga nilai.

Ke depan, kita butuh kebijakan yang berpihak. Perluasan perlindungan sosial, tenaga pendamping lansia profesional, layanan kesehatan ramah usia lanjut, dan program ekonomi bagi lansia aktif harus diperluas. Di saat yang sama, keluarga tetap jadi ruang utama kasih sayang dan penghormatan.

BPS memproyeksikan jumlah lansia akan terus naik dalam beberapa dekade mendatang. Jika disiapkan sejak sekarang, ini bisa jadi “bonus demografi kedua”: ketika lansia tetap sehat dan produktif, lalu terus menyumbang untuk bangsa.

Pada akhirnya, maju tidaknya peradaban tidak diukur dari tinggi gedung atau cepatnya pertumbuhan ekonomi. Peradaban maju diukur dari cara ia memperlakukan mereka yang lebih dulu mengabdikan hidupnya untuk keluarga dan bangsa.

Kolaborasi ‘Aisyiyah dan Bappenas harus menjadi titik awal gerakan lebih luas untuk Indonesia ramah lansia. Karena masa depan berkemajuan bukan hanya menyiapkan anak muda menggapai cita, tapi juga memastikan orang tua menjalani senja dengan sehat, dihormati, dan bermartabat.

Jadi pertanyaannya kembali ke kita semua:  

Kita mau memuliakan lansia, atau membiarkan mereka menua dalam diam?  

Sebab ketika sebuah bangsa memuliakan lansianya, saat itulah bangsa itu sedang memuliakan masa depannya sendiri.  

Dan ketika sebuah bangsa berhijrah menyambut 1448 H, maka hijrah itu harus sampai pada cara kita merawat senja orang tua.

Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II Jakarta Timur


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bersikap Ramah dan Berlapang Dada terhadap Tetangga Oleh: Mohammad Fakhrudin Butir (2) dari 11 but....

Suara Muhammadiyah

8 August 2025

Wawasan

Halal bi Halal: Tradisi Nusantara dan Kontribusi Muhammadiyah bagi Kesatuan Umat Penulis: M. Saifud....

Suara Muhammadiyah

24 March 2026

Wawasan

Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional Oleh: Mohammad Fakhrudin Ketika Perang Dunia II, pada....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Wawasan

Dakwah Menjawab Jiwa Zaman: Belajar Dari KH Ahmad Dahlan Keharusan Peta Dakwah Oleh: Saidun Derani....

Suara Muhammadiyah

7 February 2024

Wawasan

Brand “MU” Harus Disikapi dengan Cerdas dan Bijak  Oleh Amidi, Dosen FEB Universit....

Suara Muhammadiyah

20 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah