Ibadah Kurban sebagai Manifestasi Menyejahterakan Sesama Tanpa Diskriminasi

Suara Muhammadiyah

29 May 2026

334
dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Humas Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Kota Jakarta Pusat.

dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Humas Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Kota Jakarta Pusat.

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban menjadi satu paket rangkaian dari Hari Raya Idul Adha. Dan itu, kata Agus Taufiqurrahman, tidak bisa dilepaskan dari peristiwa pada zaman kehidupan Nabi Ibrahim dan Ismail.

Demikian Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menerangkan. "Nabi Ibrahim sebagai nabi yang mendapat sebutan Abulanbiya (bapak para nabi)," katanya, Rabu (27/5) saat Khutbah Idul Adha 1447 H di Halaman Parkir Masjid Ar-Rahmah Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Kota Jakarta Pusat.

Sosok itulah yang menjadi suluh teladan umat Islam kini dan di masa mendatang. Betapa tidak, di saat penantian panjang kehadiran seorang anak, diuji Nabi Ibrahim oleh Allah untuk menyembelih anak terkasih tersebut.

"Ibrahim lulus dari ujian Allah yang berat itu. Ibrahim adalah nabi yang dikasihi Allah karena keimanan yang sangat kuat dan ketakwaan yang sangat tinggi," terangnya.

Di situlah titik fundamenntal dari implementasi ibadah kurban. Kata Agus, ibadah kurban itu punya dua dimensi, pertama vertikal, semata-mata berbakti dan mengharapkan rida Allah.

"Hanya ikhlas karena Allah kurban itu dilakukan," ucapnya, di samping juga, disebut Agus, kurban sebagai perwujudan pancaran tauhid.

"Mencintai Allah di atas cinta kepada yang lain, melebihi cintanya kepada keluarga dan harta benda yang ia miliki," urainya, menyebut hal lain; melebihi cinta kepada jabatan dan fasilitas yang didapatkan selama ini.

Kedua, horizontal. Maujudnya menyantuni pada para dhuafa melalui pembagian daging kurban tanpa diskriminasi. "Kurban merupakan wujud nyata dari upaya orang yang mampu untuk membantu kesejahteraan sesama," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Agus mendorong agar manusia, lebih-lebih umat Islam, tidak boleh egois hanya memikirkan diri sendiri. Tetapi dalam pengembaraan hidup ini, ada peran substansial yang mesti dilakukan untuk menolong orang lain.

"Semangat rela berkurban seperti inilah yang seharusnya selalu ada di setiap anak negeri ini, terlebih pada diri para pemimpin bangsa," tekannya.

Menolong (ta'awun), meniscayakan ajaran luhur dalam Islam. Karena hal demikian itu menjadi bagian integral dari ibadah yang sangat tinggi nilainya di mata Allah.

"Menolong sesama sebagai perwujudan amal saleh dari iman yang telah tertanam dengan kokoh," ujarnya.

Di situlah Agus mengajak semua hal yang terbentang di atas menjadi spirit kurban yang mesti diserap sarinya dan nilai-nilai vitalnya oleh umat Islam sejagat. Sehingga ibadah kurban itu bisa penuh makna dan warna.

"Marilah kita wujudkan jiwa berkurban salam kehidupan sehari-hari. Terus kembangkan solidaritas sosial yang memupuk persaudaraan dan kebersamaan yang tulus. Kembangkan kebiasaan gemar menolong, berbagi rizki, melapangkan jalan orang yang kesulitan, mengentaskan mereka yang lemah, dan membela orang yang terzalimi," tandas Agus. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Ketua Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Riau (BPH Umri) ....

Suara Muhammadiyah

14 February 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Upaya mewujudkan tertib administrasi sekaligus memperkuat legalitas....

Suara Muhammadiyah

28 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, telah memi....

Suara Muhammadiyah

17 August 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di antara hamparan motif dan warna yang memenuhi Hall A Jakarta ....

Suara Muhammadiyah

11 July 2026

Berita

DEPOK, Suara Muhammadiyah - Langit kota Depok pagi ini tampak kelabu. Hujan semalaman sampai pagi in....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah