Ibadah Ramadhan dan Kedamaian bagi Orang Lain

Publish

12 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
118
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ibadah Ramadhan dan Kedamaian bagi Orang Lain

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Ibadah Ramadhan yang dikerjakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangkan kedamaian tidak hanya bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang lain. Selama beribadah Ramadhan, setiap muslim mengerjakan amalan yang diperintahkan untuk dikerjakan dan menjauhi amalan yang dilarang. Baik amalan yang dikerjakan maupun amalan yang dijauhi itu mendatangkan kedamaian.    

Berikut ini adalah contoh amalan muslim yang berpuasa yang mendatangkan kedamaian, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. 

taat saat sendiri atau berkelompok

Ada kesempatan bagi setiap muslim yang berpuasa menelan air ketika bewudu. Tidak ada orang yang mengawasi dan memeriksa. Karena sama sekali tidak pernah ada niat di hati untuk melakukannya, kita pun tidak melakukannya. 

Kita tidak melakukannya karena kita berpuasa dengan dasar iman. Dengan dasar iman, kita meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan, apa pun yang masih ada di dalam hati atau pikiran. 

Banyak ayat Al-Qur’an yang berisi keterangan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat dan sifat-sifat-Nya yang lain yang kita jadikan rujukan bersikap. Kita mengimaninya dengan segala konsekuensi. Keimanan demikianlah yang menjadi dasar kita tidak melanggar ketentuan. 

Berikut ini adalah contoh ayat yang berisi keterangan bahwa Allah Maha Meliputi semua yang dikerjakan oleh manusia, yakni surat an-Nisa (4):108.

 يَّسْتَخْفُوْنَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُوْنَ مِنَ اللّٰهِ وَهُوَ مَعَهُمْ اِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطًا

“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat bersembunyi dari Allah. Dia bersama (mengawasi) mereka ketika pada malam hari mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.”

Sementara itu, di dalam surat al-Mujadalah (58):7 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dialah yang keempatnya dan tidak ada lima orang, kecuali Dialah yang keenamnya. Tidak kurang dari itu atau lebih banyak, kecuali Dia bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian, Dia memberitakan apa yang telah mereka kerjakan kepada mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ayat tersebut dengan sangat menarik. Menurut beliau, kalau ada orang bisik-bisik bertiga, Tuhanlah yang keempat. Kalau ada orang berbisik berlima, Tuhanlah yang keenam, bahkan, tidak sedikit dari itu atau lebih banyak dari itu, tetapi Tuhan yang bersama mereka di mana saja mereka berada, dan pada hari kiamat akan dibuka sendiri oleh Tuhan apa yang diperbisikkan itu.

Ketika beribadah Ramadhan, kita dikondisikan senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik saat sendirian maupun berkelompok, dapat kita ketahui juga melalui hadis-hadis. Di antaranya sabda Rasulullah di dalam HR Ibnu Majah berikut ini.

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا, قَالَ ثَوْبَانُ: يَارَسُولَ اللهِ! صِفْهُمْ لَنَا، جَلِّهِمْ لَنَا؛ أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ. قَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ، وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا ‌بِمَحَارِمِ ‌اللهِ ‌انْتَهَكُوهَا

“Sungguh, saya telah mengetahui bahwa ada kaum-kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih, lantas Allah menjadikannya sia-sia. Tsauban berkata, Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami, dan jelaskanlah tentang mereka kepada kami, supaya kami tidak menjadi seperti mereka sementara kami tidak menyadarinya. Beliau bersabda, Sesungguhnya, mereka adalah saudara-saudara kalian, dan dari golongan kalian, serta mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika menyendiri dengan apa yang diharamkan Allah, mereka segera melanggarnya.” 

Dengan merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’a dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah dikutip, ketika berpuasa, kita tidak meneguk air pada waktu berwudu meskipun tidak ada orang lain yang mengetahui. Jika ketaatan ketika sendirian dan ketika bersama orang lain pada saat berpuasa tersebut kita amalkan juga ketika tidak berpuasa dalam berbagai aspek kehidupan, niscaya orang lain pun merasakan kedamaian. Inilah pengamalan Islam sebagai rahmat seluruh alam. 

Jika ibadah Ramadhan yang kita kerjakan mendatangkan kedamaian bagi kita dan bagi orang lain, berarti kita telah memiliki sebagian tanda orang yang bertakwa. Di dalam Tafsir at-Tanwir Jilid 2 dijelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki pandangan hidup berlandaskan keimanan dan jalan hidup berasaskan kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Di dalam ibadah Ramadhan terdapat pengondisian terhadap kita, antara lain, hidup tertib, teratur, disiplin, jujur, dan menghargai waktu, tidak berkata keji, tidak bertengkar, dan tidak membuat kegaduhan, murah hati, kasih sayang, dan berpikir cerdas. Semua itu dapat mendatangkan kedamaian bagi kita dan juga bagi orang lain

Setiap muslim yang beribadah Ramadhan dan dengan ibadahnya itu ketaatannya terpelihara dengan baik pasti memperoleh kedamaian. Ketika ada kesempatan melanggar ketentuan, tetapi kita tidak melakukannya, sikap yang demikian pasti menimbulkan kedamaian. Ketika ada kesempatan melanggar traffic light, tetapi tidak melanggarnya, kita pasti nyaman. Ketika ada kesempatan korupsi, tetapi kita tidak melakukannya, hati kita pasti tenang. Ketika dapat berbohong, tetapi demi penegakan kebenaran dan keadilan, kita memilih jujur, hati kita pasti tenteram. Dengan memilih sikap yang benar, kita mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Berjalan ke mana pun dan berada di mana pun tegak kepala kita. Kita tidak canggung senantiasa senyum.

Sungguh sangat aneh: ada orang yang tampak bangga dan tampil dengan gagahnya, padahal melanggar traffic light. Ada koruptor dengan kedua tangannya diborgol, tetapi tetap menebar senyum di depan publik. Ada orang yang melakukan kebohongan publik berkali-kali, tetapi tampil di depan publik tanpa merasa berdosa sama sekali. 

Aneka Godaan

Godaan dihadapi oleh setiap orang, termasuk orang yang sedang beribadah Ramadhan. Orang yang berprofesi sebagai pedagang digoda nafsu serakah untuk  memperoleh keuntungan yang sangat besar dengan memanfaatkan bulan Ramadhan. Pedagang yang tidak tahan godaan, karena lemah iman, mencampur isi parsel yang dijualnya misalnya buah-buahan yang berkualitas sangat bagus dengan buah-buahan yang berkualitas rendah. Pedagang kue yang lemah iman mengganti stiker masa berlaku kue yang (hampir) kadaluwarsa dengan stiker baru. Semua itu dapat dilakukan sendiri atau berkelompok.

Godaan itu pun dapat menerpa pada orang yang berprofesi lain. Siapa pun dan berprofesi sebagai apa pun, meskipun sedang beribadah Ramadhan, dapat terkena godaan. Bahkan, para ustaz juga dapat terkena godaan dan godaan terberat baginya adalah “merasa paling hebat”. Ustaz yang tidak mampu mengatasinya, biasanya tampil dengan penuh kesombongan, padahal setiap muslim tidak boleh sombong. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia, tetapi beliau rendah hati. Kepada “ART” pun, beliau rendah hati! Lalu, kalau ada ustaz sombong, mencontoh siapa?

Na’uzubillah!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menyuburkan Semangat Berbuat Kebaikan di Bulan Mulia Oleh: Dr Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar  ....

Suara Muhammadiyah

20 March 2024

Wawasan

Usia Aisyah & Bani Quraizhah: Sebuah Kajian Ulang Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Wawasan

Dari Khalifah Umar hingga Era Digital, Evolusi Kalender Hijriah Global Tunggal Oleh: Najihus Salam,....

Suara Muhammadiyah

23 January 2025

Wawasan

Memaknai Dialog Dalam Isra’ Mikraj  Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd., Pensiunan Guru SMA, Al....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Wawasan

Masjid Sebagai Hub Literasi Keuangan Syariah Penulis: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN S....

Suara Muhammadiyah

4 February 2026