YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Perjalanan menjadi seorang jurnalis tidak selalu bermula dari ruang redaksi, pelatihan jurnalistik, atau bangku perkuliahan. Bagi Mustofa W. Hasyim, perjalanan itu justru berawal dari sobekan kertas di masa kanak-kanak. Kisah tersebut menjadi salah satu bagian menarik yang mengemuka dalam buku Ijtihad Jurnalistik, yang dibedah dalam rangka Milad ke-111 Suara Muhammadiyah (11/8).
Dalam buku tersebut, Mustofa mengisahkan bagaimana sang ayah mengenalkan media cetak sejak dirinya masih balita. Majalah dan koran sengaja disodorkan ke hadapannya, meski saat itu ia belum mengenal satu huruf pun. Lembaran koran dan majalah menjadi permainan yang menyenangkan. Ia melihat gambar, lalu menyobek kertas ketika mulai bosan.
Alih-alih melarang, sang ayah justru membiarkannya. Bahkan ketika sang ibu memprotes karena koran dan majalah menjadi rusak, sang ayah tetap mempertahankan cara tersebut. Dari aktivitas sederhana itu, perlahan tumbuh kedekatan dengan media cetak.
“Suara kertas yang robek membuatku tertawa gembira, dan Ayah membiarkannya,” demikian Mustofa menggambarkan pengalaman masa kecilnya dalam Ijtihad Jurnalistik.
Kebiasaan tersebut kemudian berkembang ketika memasuki masa taman kanak-kanak. Rasa bosan menyobek kertas beralih menjadi rasa ingin tahu terhadap barisan huruf yang berada di bawah gambar. Dari sanalah ia mulai mengenal kata, kalimat, hingga dunia yang lebih luas melalui bacaan.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa literasi tidak selalu tumbuh melalui proses yang seragam. Kadang-kadang, ia lahir dari pengalaman sederhana yang sengaja diciptakan orang tua. Dalam kasus Mustofa, sang ayah melakukan sebuah “ijtihad” pendidikan dengan cara yang tidak lazim: memperkenalkan dunia bacaan bahkan sebelum anaknya mampu membaca.
Pengalaman itu kemudian berkelindan dengan perjalanan panjang Mustofa W. Hasyim di dunia jurnalistik. Baginya, jurnalistik bukan sekadar aktivitas memproduksi berita, melainkan sebuah ikhtiar intelektual dan kebudayaan. Jurnalisme menuntut kepekaan membaca realitas, kemampuan mengolah informasi, sekaligus keberanian menghadirkan perspektif yang mencerahkan.
Melalui Ijtihad Jurnalistik, Mustofa merefleksikan pengalaman panjangnya bergelut dengan dunia media. Buku ini tidak hanya berbicara tentang teknik jurnalistik, tetapi juga tentang proses pembentukan cara pandang seorang jurnalis terhadap kehidupan, masyarakat, dan perubahan zaman.
Kisah “sobekan kertas” menjadi menarik karena menunjukkan bahwa kecintaan terhadap bacaan dapat ditanamkan jauh sebelum seseorang memahami makna literasi itu sendiri. Apa yang bagi orang lain terlihat sebagai kertas yang rusak, bagi sang ayah justru menjadi bagian dari proses pendidikan.
Dari sobekan kertas itulah lahir rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu tumbuh kemampuan membaca. Dan dari kemampuan membaca terbuka jalan menuju dunia pengetahuan serta jurnalistik.
Dalam konteks Milad ke-111 Suara Muhammadiyah, bedah buku Ijtihad Jurnalistik sekaligus menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang tradisi literasi dan jurnalistik Muhammadiyah. Selama lebih dari satu abad, Suara Muhammadiyah tidak hanya menjadi media penyampai informasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan gagasan, pengetahuan, dan kesadaran masyarakat.
Kisah Mustofa mengingatkan bahwa tradisi tersebut sesungguhnya dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: selembar kertas, rasa ingin tahu, dan keberanian orang tua untuk memberikan ruang kepada anaknya untuk bereksplorasi.
Sebuah sobekan kertas, pada akhirnya, dapat menjadi awal dari perjalanan panjang membaca dunia. (diko)

