PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Amaliyah Tadris menjadi salah satu agenda penting bagi santri kelas akhir di IMBS Miftahul Ulum Pekajangan. Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pembekalan akhir bagi para kader sebelum terjun ke masa pengabdian, baik di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah maupun di tengah masyarakat luas. Lebih dari sekadar praktik mengajar, Amaliyah Tadris menjadi ruang aktualisasi kemampuan akademik, bahasa, serta kepercayaan diri santri.
Pada pelaksanaan perdananya, dua santri tampil sebagai pengajar dengan menggunakan bahasa asing secara penuh. Muhammad Hasbi Ramdhani menyampaikan materi muthalaah dalam bahasa Arab, sementara Cahaya Inas Kamila membawakan pembelajaran bahasa Inggris dengan metode komunikatif. Penggunaan bahasa Arab dan Inggris secara utuh ini mencerminkan standar kompetensi yang ditanamkan oleh pesantren, sekaligus menjadi indikator kesiapan santri dalam menghadapi tantangan global. Bahasa merupakan alat untuk berdakwah yang mampu menjangkau berbagai kalangan lintas negara, sehingga penguasaan bahasa asing menjadi bekal strategis bagi para santri dalam menyampaikan nilai-nilai Islam secara lebih luas dan inklusif.
Kegiatan ini diikuti oleh 69 kader tingkat akhir, serta didampingi oleh seluruh musyrif dan musyrifah pembimbing dari masing-masing mata pelajaran. Kehadiran jajaran pimpinan IMBS Miftahul Ulum Pekajangan turut memberikan dukungan moral sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan, sehingga kualitas pembelajaran yang ditampilkan dapat terus ditingkatkan.
Sebagai salah satu pondok pesantren Muhammadiyah yang besar dan bersejarah di Kabupaten Pekalongan, IMBS Miftahul Ulum memiliki komitmen kuat dalam membentuk kader yang tidak hanya unggul dalam ilmu keislaman, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa komunikasi sehari-hari menjadi ciri khas yang memperkuat identitas tersebut.
Melalui Amaliyah Tadris, santri tidak hanya diuji dalam penguasaan materi, tetapi juga dalam kemampuan menyampaikan ilmu secara efektif dan inspiratif. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa proses pendidikan di pesantren tidak berhenti pada teori, melainkan diarahkan pada praktik nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dengan demikian, Amaliyah Tadris bukan hanya agenda seremonial, melainkan sebuah langkah strategis dalam mencetak generasi pendidik dan dai yang siap mengabdi, berdaya saing, dan membawa nilai-nilai Islam berkemajuan ke tengah kehidupan umat. (Khulanah)

