Imunitas Tubuh Manusia Saat Berpuasa: Studi Literatur Berbasis Data Sekunder
Penulis: dr. Risty Yasmin Bonita, M.Biomed, Dosen FK UMRI
Puasa merupakan salah satu bentuk intervensi nutrisi yang mempengaruhi metabolisme tubuh. Selama puasa Ramadhan, terjadi perubahan ritme makan, kadar glukosa darah, insulin, dan aktivitas hormonal. Sistem imun sebagai sistem pertahanan tubuh sangat dipengaruhi oleh status nutrisi dan keseimbangan metabolik.
Sistem imun terdiri atas: Imunitas innate/bawaan (neutrofil, makrofag, NK cell) dan Imunitas adaptif/didapat (limfosit T dan B). Perubahan metabolik saat puasa diduga mempengaruhi produksi sitokin, stres oksidatif, serta regulasi inflamasi. Oleh karena itu, kajian ilmiah berbasis data sekunder diperlukan untuk memahami dampak puasa terhadap imunitas.
Sistem imun melibatkan produksi sitokin, regulasi inflamasi, dan respons seluler. Saat puasa terjadi aktivasi AMPK (activated protein kinase) atau sensor energi utama dalam sel eukariotik, penurunan mTOR (mechanistic target of rapamycin) yang berfungsi sebagai “saklar pusat” dalam sel untuk mengontrol pertumbuhan, metabolisme dan kelangsungan hidup, serta peningkatan autofagi yang berperan dalam menjaga homeostasis seluler. Autofagi dalam tubuh berperan penting dalam eliminasi komponen sel yang rusak, regulasi proses inflamasi serta adaptasi metabolik.
Tulisan ini adalah hasil studi literatur berbasis data sekunder. Sumber data diperoleh dari artikel ilmiah dari PubMed dan Google Scholar dan studi klinis tentang puasa Ramadhan dan imunologi periode 2010–2025. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan sintesis naratif hasil penelitian.
Sebagian besar penelitian menunjukkan jumlah leukosit tetap dalam batas normal selama puasa. Kadar sitokin proinflamasi seperti IL-6 dan TNF-α cenderung menurun. Hal ini menunjukkan adanya efek anti-inflamasi selama puasa dengan adanya penurunan stres oksidatif dan peningkatan aktivitas antioksidan. Adapun peningkatan sensitivitas insulin, sehingga gula darah dapat diubah menjadi energi.
Secara umum, puasa Ramadhan pada individu sehat tidak menurunkan fungsi imun secara signifikan dan berpotensi memberikan efek modulasi imun yang menguntungkan, sehingga keseimbangan metabolik meningkat. Namun kondisi ini harus diperhatikan pada individu dengan malnutrisi, penyakit kronis dan gangguan imun karena memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Karena masih terbatasnya data sekunder yang didapat, maka diperlukan penelitian eksperimental longitudinal untuk memperkuat temuan serta edukasi nutrisi seimbang selama puasa.

