JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sejak kecil, orang tua telah mengajarkan kepada anak-anaknya untuk percaya hanya kepada Allah, Tuhan Maha Esa. Termasuk, penciptaan alam raya. “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi,” tegas Muhammad Saad Ibrahim.
Di situlah pola pikir esai dikonstruksi oleh orang tua kepada anak-anaknya menyangkut sikap kebertuhanan (relasi habl min Allah). Juga, saat yang sama, sikap dengan kealaman (relasi habl min alam) dengan basis keyakinan Allah sebagai Zat yang menciptakan sejagat ini.
“Maka dimensi teologis ini akan memberikan kita petunjuk mengolah bumi. Mengelolanya itu harus tetap pada prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Islam,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, Senin (16/3) di TvMu Channel dalam program Tausiyah Kiai Saad Ibrahim.
Tarikan maknanya menghendaki agar manusia sebagai penghuni planet bumi, tidak boleh sampai melakukan tindakan kerusakan (al-fasad) secara serampangan. Mencontohkan Nabi Adam, sebelum diturunkan ke bumi, diberikanlah pengalaman tentang surga.
“Pengalaman itu dibawa oleh beliua ketika akhirnya beliau tiba di bumi. Itu dimaksudkan supaya kemudian beliau berusaha mewujudkan surga yang pernah dialaminya itu diwujudkan sesuai dengan kadar kemampuan manusianya untuk menciptakan surga di bumi,” jelasnya.
Implikasi dengan konteks itu, ada julukan menarik, qith`atun minal-jannah[ti] nuqilat ilal-ardl[i]. Julukan ini untuk merepresentasikan Indonesia adalah sepotong surga di atas Bumi.
“Maka sekali lagi, menjaga surga yang telah diberikan oleh Allah itu menjadi suatu yang sangat dituntut untuk kita semuanya. Tentu kemudian inilah bagian dari dimensi teologis, dimensi keimanan kita dalam kaitannya dengan mengelola bumi,” tegas Saad. (Cris)
