SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Aswa Arsa Kumala, meraih 2 penghargaan yaitu Gold Medal with Jury Congratulations melalui inovasi GROWELL dalam ajang Biomedical Engineering, Mechatronics, and Innovation International Fair (BMEIIF) 2026 dan Special Award in Recognition of Outstanding Innovation in Biomedical Engineering and Healthcare Technology from IEEE Engineering in Medicine and Biology Society (EMBS) Thailand Chapter.
Berdasarkan informasi resmi penyelenggara BMEIIF 2026, terdapat 50 tim inovasi terdaftar dengan total 107 ketua dan anggota tim. Kompetisi tersebut melibatkan peserta dari empat negara, yakni Thailand, Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat. Dalam pengumuman hasil medali, delapan tim memperoleh Gold Medal with Jury Congratulations, yang merupakan tingkat penghargaan di atas Gold Medal reguler berdasarkan ambang penilaian kompetisi.
Aswa merupakan mahasiswa Program Studi Profesi Dokter UMS yang saat ini menjalani pendidikan klinis sebagai dokter muda atau koas semester dua. Berasal dari Sragen, Jawa Tengah, ia memulai masa koas pada Maret 2026 setelah menjadi mahasiswa baru FK UMS pada 2022. Dalam kompetisi tersebut, Aswa membawa inovasi bertajuk “GROWELL: A Low-Cost IoT-Integrated Smart Pediatric Anthropometry Platform for Real-Time Growth Surveillance and Early Stunting Detection.”
“Inovasi itu saya kembangkan untuk menjawab kebutuhan pemantauan pertumbuhan anak yang akurat, berkelanjutan, dan mudah diakses,” kata Aswa saat diwawancarai pada Rabu, (14/10/2026).
Menurut Aswa, stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, tetapi juga berhubungan dengan kesehatan, pemenuhan gizi, serta tumbuh kembang dalam jangka panjang. Karena itu, diperlukan sistem yang dapat membantu tenaga kesehatan dan kader posyandu mengidentifikasi risiko gangguan pertumbuhan lebih awal sehingga tindak lanjut dapat dilakukan secara tepat.
Melalui integrasi perangkat pengukuran antropometri dan teknologi IoT, Aswa menerangkan GROWELL memanfaatkan data berat badan dan tinggi badan anak untuk memantau pola pertumbuhan serta mengidentifikasi indikasi risiko berdasarkan kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasil pengukuran tersebut dapat dimanfaatkan melalui platform digital untuk mendukung pemantauan oleh orang tua dan tenaga kesehatan. Sistem ini juga dirancang untuk mengintegrasikan edukasi kesehatan bagi orang tua dan ibu hamil dengan pendampingan oleh kader posyandu serta bidan.
Aswa menjelaskan, keunggulan GROWELL terletak pada penggabungan perangkat pengukuran, pemantauan digital, edukasi kesehatan, dan koordinasi tindak lanjut dalam satu ekosistem yang mempertimbangkan keterjangkauan layanan kesehatan masyarakat.
“Nilai utama GROWELL bukan sekadar mendeteksi risiko stunting, melainkan membantu menghubungkan proses pengukuran, identifikasi risiko, edukasi, dan tindak lanjut,” jelasnya.
Inovasi tersebut dikerjakan Aswa secara individu dengan bimbingan Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, M.Kes., Sp.KKLP., FISQua., FISPH., FISCM., dan dr. Yuni Prasetyo, M.MKes., Sp.PA. Meski demikian, proses persiapan kompetisi menjadi tantangan tersendiri karena seluruh kebutuhan lomba, mulai dari penyusunan presentasi, poster, leaflet, hingga suvenir, harus dipersiapkan secara mandiri. Aswa juga menghadapi tantangan dalam menjawab pertanyaan juri terkait rencana bisnis dan komersialisasi, mengingat penilaian tidak hanya mencakup kebaruan inovasi, tetapi juga potensi implementasi dan keberlanjutannya.
Tantangan lainnya muncul ketika Ia membawa perangkat GROWELL dari Indonesia ke Jepang. Perangkat tersebut harus dikemas dalam kotak berukuran 176 sentimeter dengan berat sekitar 21 kilogram. Kondisi tersebut membuat Aswa harus membayar biaya bagasi berlebih hingga Rp3 juta untuk sekali penerbangan atau sekitar Rp 6 juta untuk perjalanan pulang-pergi. Kendati demikian, ia tetap menyelesaikan seluruh rangkaian kompetisi secara mandiri.
Aswa menyampaikan apresiasi kepada FK UMS dan UMS atas dukungan selama proses pengembangan inovasi hingga mengikuti kompetisi internasional. Dukungan tersebut diberikan melalui bimbingan dosen yang menyesuaikan dengan jadwal koas, serta perizinan selama menjalani stase saraf di RSDS Magetan. Ia menilai dukungan dosen pembimbing, tenaga kependidikan, kaprodi, wakil dekan, hingga dekan menjadi faktor penting yang membantunya menjalankan tanggung jawab akademik sekaligus mengembangkan inovasi.
Setelah kompetisi, pengembangan GROWELL akan diarahkan pada penyempurnaan perangkat dan platform digital, pengujian akurasi pengukuran serta keandalan sistem, dan evaluasi kesesuaian hasil skrining dengan standar pertumbuhan anak. Implementasi bertahap bersama tenaga kesehatan dan posyandu juga diperlukan untuk menguji kemudahan penggunaan serta manfaatnya dalam pelayanan sehari-hari. Ke depan, GROWELL diharapkan dapat dikembangkan menjadi platform yang terjangkau dan direplikasi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Bagi Aswa, mengikuti kompetisi internasional bukan hanya tentang meraih penghargaan, melainkan juga memperluas wawasan dan membangun jejaring. Ia berpesan agar mahasiswa berani mencari peluang dan memanfaatkan setiap forum untuk belajar.
“Kalau bisa, di setiap forum jadilah orang yang paling lapar dan paling rakus. Lapar ilmu, rakus kesempatan, dan haus relasi,” katanya.
Ia menerangkan, Lapar ilmu berarti jangan takut banyak bertanya. Rakus kesempatan berarti setiap ada tantangan, coba ambil. Jangan keburu merasa tidak mampu sebelum benar-benar mencoba.
“Soal relasi, jangan cuma kenalan lalu menghubungi saat ada butuhnya. Keep in touch. Bangun koneksi dengan cara yang berkesan. Misalnya, ketika ada orang membahas topik menarik, sambungkan dengan pengalaman atau kasus yang relevan. Dari obrolan sederhana, bisa muncul diskusi, kolaborasi, bahkan kesempatan baru,” tegas Dokter Muda.
Karena menurutnya, kesempatan jarang datang kepada orang yang merasa sudah kenyang. Ia berpesan untuk tetaplah lapar untuk belajar, berani mengambil peluang, dan tulus membangun hubungan. Sebab, kita tidak pernah tahu pintu mana yang akan terbuka dari satu pertanyaan, satu keberanian mencoba, atau satu percakapan yang kita mulai hari ini. (Yusuf/Humas)