Jalan Tol Menuju Surga, Menjemput Lailatul

Publish

9 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Jalan Tol Menuju Surga, Menjemput Lailatul

Penulis Qodar Muhammad Azhar Ali, Mahasiswa UNIBRAW Malang, Alumni Madrasah Mu’allimin Muhammmadiyah Yogyakarta

Di penghujung Ramadhan, ada satu momentum yang selalu menggetarkan hati umat Islam: beberapa menit menjelang berbuka dan malam-malam terakhir bulan suci. Pada saat itulah manusia sering kali diingatkan tentang betapa terbatasnya hidup, sekaligus betapa luasnya kasih sayang Allah. Nafas yang masih berhembus, detak jantung yang terus berdetak, serta kesempatan beribadah yang masih terbuka adalah anugerah yang sering kali luput dari kesadaran kita.

Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ruang refleksi, tempat manusia mengaudit dirinya sendiri—menimbang kembali perjalanan hidup, kesalahan, dan harapan untuk menjadi lebih baik. Terlebih lagi ketika Ramadhan memasuki sepuluh malam terakhir, umat Islam dihadapkan pada satu kesempatan spiritual yang sangat besar: Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa Allah memberikan satu malam yang nilainya begitu luar biasa? Para ulama menuturkan sebuah kisah yang sering dijelaskan dalam kitab-kitab tafsir klasik. Dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan kepada para sahabat tentang seorang pejuang dari Bani Israil bernama Syam’un Al-Ghazi yang menghabiskan waktu selama seribu bulan—sekitar 83 tahun—untuk beribadah dan berjihad di jalan Allah. Siang hari ia berpuasa dan berjuang menjalani kehidupan, sementara malam harinya diisi dengan shalat dan ibadah tanpa henti.

Mendengar kisah itu, para sahabat merasa kecil hati. Mereka sadar bahwa usia umat Nabi Muhammad relatif lebih pendek dibanding umat-umat sebelumnya. Rasulullah sendiri pernah menyebut bahwa rata-rata usia umatnya berada di kisaran 60 hingga 70 tahun. Dengan usia yang terbatas, mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin bisa menyamai amal orang-orang terdahulu yang hidup berabad-abad dalam ketaatan.

Di tengah kegelisahan itu, turunlah Surah Al-Qadr yang membawa kabar gembira: Allah menghadiahkan kepada umat Nabi Muhammad satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Dalam perspektif spiritual, inilah bentuk kasih sayang Allah kepada umat yang datang belakangan namun diberi peluang yang sama untuk meraih pahala yang besar.

Lailatul Qadar dapat disebut sebagai “jalan tol” spiritual bagi umat Islam. Ia adalah jalan percepatan bagi manusia yang memiliki keterbatasan usia, tetapi ingin mengejar keutamaan amal yang luar biasa.

Namun, kesempatan besar itu tidak datang tanpa syarat. Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam sebuah hadis bahwa siapa pun yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan keimanan dan penuh pengharapan kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Dalam hadis tersebut terdapat tiga kunci penting. Pertama adalah qiyam, yakni berdiri dalam shalat malam. Shalat bukan sekadar gerakan ritual, tetapi merupakan paket lengkap ibadah. Di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an, zikir, tasbih, doa, serta momen sujud yang menjadi titik terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. Bahkan dua rakaat shalat yang dilakukan dengan khusyuk dapat memiliki nilai spiritual yang sangat besar ketika dilakukan pada malam yang penuh kemuliaan itu.

Kedua adalah imanan, yaitu kesadaran iman yang mendalam. Ibadah tidak sekadar mengikuti tren atau tradisi sosial. Ia menuntut kesadaran hati bahwa seseorang benar-benar sedang menghadap Allah, dengan keyakinan bahwa setiap doa dan setiap gerakan ibadah dilihat dan didengar oleh-Nya.

Ketiga adalah ihtisaban, yang dapat dimaknai sebagai bentuk evaluasi diri atau “audit jiwa”. Dalam ibadah malam itu, seorang Muslim tidak hanya berdiri dan membaca doa, tetapi juga melakukan refleksi: menghitung kembali kesalahan yang pernah dilakukan, memohon ampun atas dosa yang mungkin luput dari kesadaran sehari-hari, dan berjanji untuk memperbaiki diri.

Dalam konteks kehidupan modern—baik bagi mahasiswa yang disibukkan tugas, pekerja yang harus lembur, maupun orang tua yang memikul berbagai tanggung jawab—ibadah malam sering terasa berat. Namun, ajaran Islam justru memberi ruang yang realistis. Tidak harus beribadah dengan durasi panjang. Dua rakaat shalat, beberapa menit membaca Al-Qur’an, atau istigfar sebelum sahur pun sudah menjadi langkah menuju keberkahan malam tersebut.

Para ulama juga mengingatkan bahwa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah. Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun sebagian ulama menyarankan pendekatan yang lebih sederhana: menghidupkan setiap malam di akhir Ramadhan tanpa memilih-milih. Dengan cara itu, peluang untuk bertemu dengan Lailatul Qadar menjadi jauh lebih besar.

Logikanya sederhana. Jika seseorang diberi tahu bahwa dalam rentang sepuluh hari tertentu ada satu hari yang membawa hadiah luar biasa, maka ia tentu akan hadir setiap hari agar tidak melewatkannya. Demikian pula dengan Lailatul Qadar. Konsistensi dalam ibadah di malam-malam terakhir Ramadhan adalah kunci untuk meraih kemuliaannya.

Pada akhirnya, doa yang paling dianjurkan pada malam tersebut pun bukanlah doa tentang kekayaan atau jabatan. Nabi Muhammad SAW justru mengajarkan doa yang sangat sederhana namun mendalam maknanya:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku.”

Sebab ketika Allah telah mengampuni seorang hamba, maka seluruh urusan hidupnya akan menjadi lebih ringan. Hati menjadi tenang, langkah hidup terasa lebih lapang, dan kehidupan dijalani dengan penuh keberkahan.

Di penghujung Ramadhan, pesan terpentingnya bukanlah tentang seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, melainkan tentang kesungguhan untuk kembali kepada Allah. Lailatul Qadar mengingatkan bahwa selalu ada kesempatan baru bagi manusia untuk memperbaiki diri—bahkan hanya dalam satu malam.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bersedekah dengan Harta yang Dicintai Oleh: Mohammad Fakhrudin Seruan berpuasa ditujukan kepad....

Suara Muhammadiyah

2 April 2024

Wawasan

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan dan Wakil Sekretaris LPCPRM PP. Muhamm....

Suara Muhammadiyah

22 May 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas   Mari kita bedah Surah A....

Suara Muhammadiyah

30 May 2025

Wawasan

Oleh: Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP Kader Muhammadiyah punya tanggung jawab tidak hanya pada umat, ....

Suara Muhammadiyah

3 January 2025

Wawasan

Guru dan Kebiasaan Hebat Anak Oleh: Afridatul Laela Amar, Guru PAUD Aisyiyah Dudukan Tonjong Brebes....

Suara Muhammadiyah

21 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah