SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Al-Qur’an yang dilaunching 17 Ramadhan dihadirkan sebagai petunjuk bagi manusia (guidance for living). Tapi, kalau mendedah lebih mendalam, ditemukan sisi yang paling substansial: petunjuk yang senantiasa hidup (living guidance).
Hal itu dikemukakan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Sabtu (14/6) saat Pengajian Pimpinan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang di Griya Harmoni Amposari Timur, Kedungmundu, Kota Semarang, Jawa Tengah.
“Dengan kita mengikuti Al-Qur’an, maka Insyaallah hidup kita akan selamat,” ujar Mu’ti.
Dalam konteks ini, maka harus ada aksi yang harus dibuktikan secara konkret. Kata Mu’ti, jangan hanya berhenti sebatas kata-kata semata, tapi nir-tindakan nyata.
“Sudahkah kita mengamalkannya. Kalau berupa perintah, sudahkah kita tunaikan perintah itu? Kalau berupa larangan, sudahkah kita tinggalkan larangan itu?” ujar Mu’ti.
Di situlah relevansi Al-Qur’an sebagai petunjuk yang senantiasa hidup. Dengan pemaknaan fundamental, setiap yang dibaca harus diserap sarinya sampai jantung substansi paling dalam.
“Al-Qur’an menjadi living guidance kalau ajaran Al-Qur’an kita baca berulang-ulang, kita pahami berulang-ulang, dan mengamalkannya juga terus kita perbarui,” terangnya.
Implementasi dari pengamalan Al-Qur’an bisa lakukan dengan pendekatan mutakhir dan pendekatan yang berkelindan dengan kehidupan modern. Apa wujudnya? Muhammadiyah mendirikan rumah sakit.
“Apakah sudah mencerminkan Islam berkemajuan?” tanya Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Hal paling mencolok merepresentasikan dari rumah sakit ialah memberikan kemudahan dalam melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Di situlah makananya kita itu mempermudah melayani dan tidak mempersulit,” katanya, yang hal demikian juga menjadi pantulan ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam.
“Yassiruu wa laa tu'assiruu, permudahlah dan jangan dipersulit. Wujudnya pada pelayanan yang tidak berbelit-belit. Sudahkah kita begitu atau belum?” ujar Mu’ti.
“Kita harus terus memperbaiki itu (pelayanan,red),” sambung Mu’ti. Hal itu niscaya, karena titik kelemahan kebanyakan orang yang terjebak pada verbalisme. Sebagai contoh, Al-Qur’an memerintahkan umat manusia untuk berperilaku jujur.
“Bagaimana kita mengkonkretkan jujur itu? Ukuran-ukurannya apa?” tanya lagi Mu’ti.
Diakuinya, bahwa di kalangan umat Islam terdapat kekurangan untuk menumbuhkan dan mengelola kesadaran tersebut. “Bagaimana kesadaran itu tumbuh dan kita kelola,” sebutnya.
Atas dasar itulah, maka upaya mengamalkan seluruh nilai dalam Al-Qur’an dinilai sebagai proses dinamis yang berjalan terus-menerus secara berkelanjutan.
“Dan harus ada aksi yang berbeda (dalam mengamalkan Al-Qur’an,red). Ini yang harus kita upayakan bersama,” pungkasnya. (Cris)

