Jauh Makin Dekat Tanpa Basi-Basi yang Menyakitkan

Suara Muhammadiyah

8 April 2026

573
Isngadi Marwah Atmadja

Isngadi Marwah Atmadja

SLEMAN, Suara Muhamamdiyah – Silaturahmi menjadi ajaran Islam yang amat substansial. Dan, di bulan Syawal ini, meniscayakan tradisi silaturahmi yang dikemas begitu rupa.

Tradisi Jawa, misalnya, ada trah keluarga, yang mempertemukan kerabat dan handai taulan. Yang jauh makin dekat, dan yang dekat kian merekat.

“Mumpung masih bulan Syawal, kita pererat lagi silaturahmi kita dengan kerabat kita yang jauh,” ajak Isngadi Marwah Atmadja, Sekretaris Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Menjalin silaturahmi tidak ada ruginya. Dibentangkan Isngadi, hal itu menjadi titik picu dipanjangkan umurnya dan diperluas rezekinya, demikian dikatakan, menukil Riwayat Bukhari.

“Jangan sampai kita kehilangan kepaten obor (terputusnya hubungan silaturahmi) dan menjadi benar-benar sebatang kara kalau orang itu kurang silaturahmi,” bebernya, Ahad (5/4) saat Pengajian Ahad Pagi Keluarga Besar Muhammadiyah Ranting Margokaton di Masjid Syuhada Planggok, Margokaton, Seyegan, Sleman.

Tradisi silaturahmi sangat penting. Potret yang terjadi di Indonesia, misalnya, mendudukan dua variabel fundamental. Antara yang muda dan yang tua, saling memaafkan.

“Yang muda meminta maaf, yang tua memaafkan, dan memberi restu untuk kebaikan-kebaikan ke depannya. Saya kira ini cukup budaya yang perlu dilestarikan,” tegas Isngadi.

Tetapi, dalam praktiknya, tidak mudah. Dalam konteks hari ini, lebih-lebih generasi muda, ada yang kurang merekatkan silaturahmi. Bukan karena tidak mau, tetapi menghindari pertanyaan yang sukar dijawab; kapan nikah?

“Bagi yang sudah berkeluarga itu pertanyaan basa-basi yang tidak dipikir. Itu kan tanda keakraban. Tapi ternyata bagi anak zaman sekarang, pertanyaan itu membikin stres, menyakitkan katanya,” jelas Isngadi.

Demikian pertanyaan retorik lainnya; kerja di mana? Sudah punya anak belum? Kapan lulus? Bagi para psikolog, pertanyaan seperti itu terkesan bercanda, tapi bisa menimbulkan efek negatif. Efek psikologis yang bisa dirasakan berbeda-beda oleh masing-masing individu.

“Pertanyaan-pertanyaan itu masih bisa kita terima. Tetapi dengan generasi yang bawah lagi itu pertanyaan yang agak menyenangkan itu ternyata bisa menyakitkan dan bisa membikin orang sedih dan menderita,” bongkarnya.

Isngadi menyingkap, generasi saat ini memiliki mentalitas yang berbeda dengan generasi terdahulu. Mereka cenderung lebih sensitif terhadap teguran atau pertanyaan pribadi, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih halus dan komunikatif.

“Anak-anak muda zaman sekarang memang beda dengan zaman dulu. Anak-anak sekarang ini jujur lebih cerdas, pengetahuannya lebih luas, tetapi hatinya itu rapuh. Inilah perlunya kita mengenal generasi-generasi kekinian, mengenal gaya komunikasi. Maka, tolong hindari pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang mempersulit dan menyakitkan itu,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - SMP Muhammadiyah Butuh dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Al....

Suara Muhammadiyah

14 October 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Pakar Hukum Tata Negara dan dosen STHI Jentera Bivitri Susanti m....

Suara Muhammadiyah

23 October 2024

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka menyambut Milad Muhammadiyah ke-112, Pimpinan W....

Suara Muhammadiyah

26 November 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Gerakan Subuh Mengaji (GSM) edisi ke-229, sudah memasuki tahun ke-4. P....

Suara Muhammadiyah

26 August 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Wardhana senantiasa terus aktif dalam mendukung pendidikan turut ....

Suara Muhammadiyah

6 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah