YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suara Muhammadiyah (SM) meninggalkan jejak pengalaman yang begitu mendalam dalam perjalanan hidup Haedar Nashir. “SM itu bagi saya adalah bagian dari belahan jiwa dalam berkarya,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Lebih memfokus lagi, dari sisi pengalaman tulis-menulis, sampai kemudian menjadi seorang wartawan di SM, telah melekat secara menghunjam dalam diri Haedar.
“Itu sudah menjadi jiwa yang melekat, yang menyatu,” ujarnya, Kamis (13/8) saat Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Haedar masih mengingat pengalamannya bergumul menjadi wartawan tidaklah mudah. Pernah dalam satu kesempatan, tulisan reportasenya disobek, bahkan dicoret-coret pakai tinta merah oleh Redaktu SM. “Itu merupakan suatu perjalanan yang panjang,” katanya.
Pengalaman itu yang disokong keuletan dan ketelatenan dalam belajar demikian rupa, membentuk Haedar menjadi seorang penulis. Sampai, ia mendapat undangan menulis dari pelbagai media, lebih-lebih penulis tetap; Republika, salah satunya.
“Tulisan saya di Republika sudah lebih dari 240 sejak tahun 2000,” ucapnya. Tidak hanya di Republika, Haedar tercatat menjadi penulis tetap di Majalah SM, yang terbit sejak 1915.
“Saya pikir sudah banyak ya, sudah, 700 lebih (tulisan),” imbuh Pemimpin Redaksi SM tersebut.
Keuletan dan ketelatenan Haedar dalam menulis memang sarat inspirasi. Baginya, menulis itu menjadi sangat penting dalam kehidupan.
“Jadi semangat menulis menjadi jiwa kita yang kemudian dari situ lalu ada pikiran,” terangnya. (Cris)

