Kaderisasi Muhammadiyah: Bukan Sekadar Mencari Pengganti

Suara Muhammadiyah

11 September 2026

32
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kaderisasi Muhammadiyah: Bukan Sekadar Mencari Pengganti

Oleh: Nungky Pri Handayanie, S.Pd., Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM DI Yogyakarta


Suatu hari nanti, generasi yang hari ini menghidupkan Muhammadiyah akan menua. Mereka tidak selamanya berada di sekolah, masjid, organisasi, majelis, maupun amal usaha. Akan tiba waktunya tongkat estafet harus berpindah tangan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: siapakah yang akan menerimanya?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan regenerasi kepengurusan. Di baliknya ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah generasi muda hari ini merasa Muhammadiyah cukup dekat dengan kehidupan mereka? Apakah mereka menemukan ruang untuk tumbuh, berkarya, sekaligus mengambil peran di dalamnya?

PRM kami pernah mengangkat topik manajemen masjid dalam salah satu pengajian rutin yang menghadirkan narasumber seorang aktifis masjid yang beberapa kali masjidnya meraih prestasi nasional. Narasumber tersebut mengungkap fakta bahwa saat ini di banyak masjid kesulitan merangkul anak muda untuk ikut aktif memakmurkan masjid. Banyak masjid mengeluh karena ditinggalkan oleh anak muda. Mencari pemuda untuk sekedar ikut dalam kegiatan pengajian saja sulit apa lagi mencari pemuda yang mau tidur di masjid sebagaimana pemuda di era tahun 1980an atau sebelumnya. Zaman sudah berubah jauh. 

Momen lain, adalah saat PCM mengumpulkan PRM dan PRA di cabangnya dalam rangka persiapan acara kemah kader yang diikuti oleh remaja mewakili PRM dan PRA. Momen tersebut juga mengungkap fakta bahwa saat pendaftaran akan ditutup 2 hari ternyata masih banyak PRM dan PRA yang belum mengonfirmasi pesertanya. Banyak PRM dan PRA yang mengungkapkan belum konfirmasi peserta karena kesulitan merekrut remaja untuk menjadi peserta mewakili PRM dan PRA meski sudah berbagai cara dilakukan.

Pertanyaan dan fakta di atas semakin terasa penting ketika melihat kehidupan anak muda hari ini.

Mereka tumbuh di zaman teknologi yang berkembang sangat cepat. Dunia seperti ada dalam genggaman mereka. Informasi yang mereka butuhkan tidak perlu dicari karena justru datang sendiri melalui layar telepon. Pertemanan dapat dibangun tanpa harus saling bertemu fisik. Hiburan dalam berbagai jenis tersedia sepanjang waktu tak terbatas.

Di balik berbagai kemudahan dan dari dampak teknologi tersebut muncul sebuah paradoks. Anak muda semakin terhubung secara digital, tetapi tidak selalu semakin dekat dengan kehidupan sosial nyata di sekitarnya.

Kita mungkin pernah melihat anak yang lebih mengenal kehidupan seorang influencer daripada kehidupan tetangganya. Anak muda sekarang lebih hafal tren di media sosial daripada kegiatan di lingkungannya. Anak muda sekarang lebih nyaman berlama-lama dengan gawai daripada duduk bersama masyarakat dalam sebuah kegiatan.

Tentu tidak tepat jika semua kesan negatif diarahkan kepada generasi Z. Mereka harus dipandang dari sudut pandang yang positif. Mereka memiliki potensi luar biasa seperti kreatif, cepat belajar, berani menyampaikan pendapat, dan akrab dengan teknologi.

Persoalannya bukan pada generasinya, tetapi pada bagaimana potensi tersebut diarahkan, dikembangkan, atau disalurkan.

Di sinilah keluarga mempunyai peran yang sangat penting. Tidak sedikit orang tua yang berharap anaknya fokus belajar, mendapatkan nilai maksimal, kemudian memperoleh pekerjaan yang menjanjikan. Ketika anak ingin aktif dalam organisasi, mengikuti pengajian, kegiatan kepemudaan, atau aktivitas sosial, terkadang muncul kekhawatiran orang tua bahwa waktunya akan tersita atau merasa kurang bermanfaat bagi masa depannya. 

Orang tua harus menjadi role model bagi anaknya dalam aktifitas organisasi. Keberhasilan dan kegagalan orang tua dalam berorganisasi tentu akan menjadi barometer bagi anaknya. Ketika orang tua memperlihatkan dampak berorganisasi itu membawa manfaat baik dan menggembirakan tentu anak akan mengapresiasi dan termotivasi untuk meniru aktif berorganisasi seperti orang tuanya.

Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, Muhammad Jamaludin Ahmad, dalam beberapa kesempatan di depan forum umum atau di hadapan forum keluarga LPCRPM PP Muhammadiyah seperti yang pernah penulis ikuti, beliau menyampaikan ilustrasi ketika orang tua yang aktif di Muhammadiyah setiap kali selesai dari rapat atau acara Muhammadiyah lalu pulang ke rumah dengan ekspresi stress, kesal, kelelahan, roman muka cemberut tidak menggembirakan, yang itu ditunjukkan di hadapan anaknya maka sangat mungkin si istri/suami akan menyampaikan kepada anaknya “nak besok besar jangan seperti bapak/ibu aktif di Muhammadiyah karena tiap selesai rapat atau acara Muhammadiyah lainnya pulang ke rumah stress, kesal, lelah, dan tidak menggembirakan”.  

Masyarakat adalah sekolah kehidupan

Selain dalam keluarga, masyarakat adalah tempat lain untuk belajar. Anak belajar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang belajar bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ia belajar bertanggung jawab ketika mendapat amanah. Ia belajar memimpin ketika dipercaya mengelola kegiatan. Ia belajar bekerja sama ketika berada dalam sebuah kelompok. Ia belajar menghargai perbedaan ketika bertemu dengan berbagai karakter dan budaya.  

Karena itu, keterlibatan anak muda dalam masyarakat sesungguhnya bukan sekadar mengisi waktu luang. Di sanalah karakter, tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dibentuk. Tinggal bagaimana masyarakat tersebut mendukung suasana belajar bagi anak muda sehingga anak muda akan tertarik untuk aktif.

Ruang pembelajaran dalam keluarga dan masyarakat kini berhadapan dengan tantangan lain yaitu budaya konsumtif dan gaya hidup hedonis yang begitu mudah masuk melalui media sosial dan berpotensi mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup anak muda. Anak muda saat ini setiap hari disuguhi gambaran tentang keberhasilan dan kesuksesan yang sering kali diukur dari materi yang didapat, barang yang dimiliki, tempat yang dikunjungi, atau kehidupan yang berhasil dipamerkan. Dalam situasi seperti ini, anak muda membutuhkan lingkungan yang tidak hanya memberi informasi, tetapi juga memberikan pengalaman, nilai, keteladanan, dan kesempatan untuk mengambil peran.

Di sinilah Muhammadiyah menghadapi tantangan sekaligus memiliki peluang yang besar.

Di tengah situasi tersebut, Muhammadiyah tidak boleh hanya bertanya mengapa anak muda tidak tertarik berorganisasi, atau bertanya mengapa sulit merekrut anak muda untuk aktif dalam kegiatan organisasi, atau bertanya bagaimana caranya anak muda tertarik dengan organisasi. 

Muhammadiyah juga perlu bertanya: apakah ruang-ruang kaderisasi yang tersedia sudah cukup menarik, relevan, dan memberi makna bagi kehidupan mereka anak muda? Pertanyaan ini penting karena generasi muda tidak cukup hanya diajak untuk meneruskan apa yang sudah ada. Mereka juga perlu diberi ruang untuk memahami mengapa gerakan ini penting dan bagaimana mereka dapat mengambil bagian di dalamnya.

Sejarah Muhammadiyah memberikan pelajaran penting. Sejak K.H. Ahmad Dahlan, gerakan ini tumbuh melalui keberanian membaca keadaan dan melakukan pembaruan. Generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai penerima warisan, tetapi perlu disiapkan untuk meneruskan dan mengembangkan gerakan. Karena itu, kaderisasi Muhammadiyah tidak cukup hanya menghadirkan kegiatan formal, ceramah, atau pelatihan. Kaderisasi harus menjadi proses yang membuat anak muda mengalami, berpikir, berkarya, dan mengambil peran.

Dunia digital juga tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai ancaman. Justru di sanalah generasi muda berada. Pada momen yang penulis ceritakan di bagian awal tulisan ini, di mana terdapat fakta sulitnya PRM dan PRA menjaring remaja untuk mengikuti kegiatan kemah kader PCM, ada pertanyaan dari salah satu Ketua PRM menanggapi fenomena tersebut.

Salah satu Ketua PRM menanyakan balik kepada peserta pertemuan sebagai refleksi, “Bukan anak mudanya yang tidak tertarik tetapi bagaimana komunikasi yang disampaikan kepada mereka, mungkin ada yang salah dalam cara berkomunikasi dengan mereka. Muhammadiyah perlu hadir, bukan sekedar hadir mendatangi mereka tetapi juga hadir dalam dunia mereka”.

Muhammadiyah perlu hadir di hadapan anak muda dengan gagasan yang segar. Bukan sekadar meminta anak muda meninggalkan dunia digital, tetapi menjadikan ruang tersebut sebagai bagian dari medan gerakan.

Dakwah, literasi, kreatifitas, kewirausahaan, kepedulian lingkungan, dan gerakan sosial dapat dikembangkan melalui ruang digital sekaligus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Muhammadiyah membutuhkan kader yang mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi. Kader yang memiliki prestasi tetapi tidak kehilangan kepedulian. Kader yang terbuka terhadap perubahan tetapi tetap memiliki pijakan ideologi. Kader yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari Muhammadiyah?”, tetapi juga berani bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk Muhammadiyah dan masyarakat?”.

Sebagai mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM DIY, saya semakin memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar proses menyiapkan pengurus berikutnya. Kaderisasi adalah ikhtiar menyiapkan manusia yang mampu menjaga nilai sekaligus membaca perubahan zaman.

Karena itu, pengkaderan bukan hanya tugas Muhammadiyah. Orang tua perlu memberikan ruang pengkaderan yang cukup. Institusi AUM perlu memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya. Masyarakat perlu membuka pintu selebar-lebarnya. Muhammadiyah perlu menyediakan ruang tumbuh yang terbuka bagi generasi muda.

Kaderisasi Muhammadiyah membutuhkan ekosistem yang kondusif. Generasi muda tidak cukup hanya diberi nasihat tentang pentingnya berorganisasi tetapi mereka perlu diberi kesempatan untuk terlibat langsung, dipercaya penuh, mencoba tanpa ragu, bahkan berani belajar dari kesalahan yang pernah terjadi.

Jangan sampai Muhamamdiyah baru sibuk mencari kader ketika tongkat estafet sudah berada di depan mata. Muhammadiyah sesungguhnya tidak kekurangan generasi muda. Yang perlu diperjuangkan Muhammadiyah adalah bagaimana agar anak muda menemukan alasan mengapa Muhammadiyah layak menjadi bagian dari masa depan mereka.

Sebab generasi muda tidak hanya membutuhkan organisasi yang diwariskan kepada mereka. Mereka juga membutuhkan gerakan yang memberi ruang untuk menemukan makna, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, kaderisasi hari ini bukan sekadar menyiapkan siapa yang menggantikan para pengurusnya. Lebih dari itu, kaderisasi adalah menyiapkan siapa yang kelak membawa Muhammadiyah menjawab persoalan zaman yang belum pernah kita bayangkan. Masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kader yang berhasil direkrut hari ini, tetapi oleh seberapa kuat Muhamamdiyah menyiapkan generasi yang mampu meneruskan nilai, mengembangkan gerakan, dan menghadirkan jawaban bagi tantangan zamannya. Tongkat estafet pasti akan berpindah tangan. Persoalannya bukan apakah ia akan berpindah, tetapi kepada siapa dan dengan bekal seperti apa kita menyerahkannya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pro Kontra MBG  Oleh: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM Kalbar ....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Wawasan

Revisi Tata Tertib DPR Merusak Sistem Bernegara Oleh: Sobirin Malian, Dosen Fakultas Hukum Universi....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Wawasan

Menyeimbangkan Akal dan Wahyu Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas ....

Suara Muhammadiyah

24 May 2024

Wawasan

Trade-Off antara Utang dan Dana Sendiri dalam Mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

11 October 2023

Wawasan

Tauhid Lingkungan: Menyemai Gerakan Kultural untuk Merawat Semesta Oleh: Hening Parlan Syahadat ....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah