Kedaulatan Pangan Harus Diikuti Kesadaran Gizi dan Pemanfaatan Pangan Lokal

Foto Istimewa
Foto Istimewa

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Kedaulatan pangan tidak cukup hanya berbicara tentang ketersediaan dan produksi bahan makanan. Kesadaran gizi, kualitas pangan, pemanfaatan kekayaan lokal, serta pola konsumsi masyarakat juga harus menjadi perhatian. Hal tersebut disampaikan Elfi Anis Sa’ati, Guru Besar sekaligus Kepala Halal Center PSP3 Halal Universitas Muhammadiyah Malang, dalam Seminar 1 Munas Seabad Tarjih di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Kamis (5/11/2026).

Elfi menjelaskan, isu kedaulatan pangan semakin penting sejak pandemi Covid-19, ketika distribusi logistik pangan antarnegara maupun antardaerah mengalami gangguan. Selain itu, perubahan iklim, persoalan stunting, dan dinamika geopolitik turut mengingatkan setiap negara tentang pentingnya kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Menurutnya, pembahasan pangan selama ini cenderung lebih banyak menyoroti aspek produksi dan ketersediaan, sementara sistem gizi belum mendapat perhatian seimbang. Padahal, tujuan akhir konsumsi pangan bukan sekadar kenyang, melainkan terpenuhinya kebutuhan zat gizi tubuh.

“Ujung-ujungnya adalah bukan duit, tapi zat gizi. Zat gizi ini jarang dipahami oleh kita semua,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pangan dan gizi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pengelola makanan di keluarga, sekolah, maupun pondok pesantren perlu memahami kebutuhan gizi agar makanan yang disajikan benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan. Menurutnya, kualitas pangan tidak cukup dinilai dari tampilan dan cita rasa, tetapi juga kandungan gizinya.

Elfi juga mengingatkan pentingnya memilih makanan halal dan thayyib. Kesadaran masyarakat terhadap kehalalan produk perlu terus ditingkatkan, termasuk dengan membiasakan memeriksa label halal sebelum mengonsumsi makanan atau minuman kemasan.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat besar. Ia menyebutkan potensi 110 jenis rempah, 26 jenis kacang-kacangan, 40 jenis bahan minuman, dan 389 jenis buah-buahan. Kekayaan tersebut, menurutnya, perlu didukung riset dan inovasi agar mampu menjadi produk pangan bernilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

“Orang yang nasionalismenya tinggi itu adalah yang meriset dan memberdayakan kekayaan alam Indonesia,” tegasnya.

Ia mencontohkan pengembangan kedelai lokal dengan tambahan bahan alami seperti jahe, vanili, dan pandan. Pemanfaatan bunga, rempah, serta bahan pangan lokal lainnya juga berpotensi dikembangkan menjadi produk inovatif yang bermanfaat bagi kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Elfi turut mengingatkan persoalan pemborosan makanan. Kebiasaan membuang sisa makanan bertentangan dengan tuntunan Rasulullah yang mengajarkan agar makanan tidak disia-siakan. Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun kesadaran gizi, mengembangkan diversifikasi pangan, serta menghidupkan kembali produk lokal, termasuk jamu sebagai pangan fungsional.

“Mari kita bangun dari desa-desa kita, dari kampus kita, dari keluarga kita. Mudah-mudahan kita dapat hidup dengan membumikan produk halal sehingga sehat sejahtera,” pungkasnya. (gsh)