JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Upaya memperkuat kualitas keluarga muda Indonesia terus diperkuat melalui kegiatan Bimbingan Teknis Fasilitator Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimwin Catin) dan Samara Course yang diselenggarakan atas sinergi Kementerian Agama RI dan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, 22–24 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan fasilitator yang mampu memberikan pembinaan perkawinan secara komprehensif kepada calon pengantin dan keluarga muda di Indonesia. Tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, pelatihan ini juga membekali peserta dengan berbagai pendekatan kekinian yang relevan dengan tantangan rumah tangga masa kini.
Ketua Bidang Dakwah PPNA, Nur Arina Hidayati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk penguatan langkah bersama dalam mempersiapkan keluarga muda yang tangguh dan berkualitas.
“Ini adalah penguatan langkah bersama kita dalam mempersiapkan keluarga muda tangguh dan berkualitas. Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi wadah pembinaan keluarga yang komprehensif dan relevan di tengah tantangan yang semakin kompleks,” ujarnya di Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta.
Menurutnya, Samara Course hadir sebagai model pembinaan keluarga yang tidak hanya membahas aspek ibadah dan hukum perkawinan, tetapi juga berbagai persoalan praktis dalam kehidupan rumah tangga.
“Samara Course tidak hanya membahas aspek keagamaan dalam perkawinan, tetapi juga membingkai aspek lain seperti psikologi perkawinan, manajemen keuangan keluarga, pola asuh anak, hingga penguatan ketahanan keluarga melalui pencegahan stunting,” tambahnya.
Ia juga menilai, program Samara Course dan gerakan keluarga muda tangguh yang diinisiasi Nasyiatul Aisyiyah sejalan dengan semangat program pembinaan keluarga yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Agama RI.
“Ini adalah langkah strategis untuk pembinaan keluarga, menjadi ruang belajar sekaligus ruang penguatan bagi pasangan muda di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Bina KUA dan Bina Sakinah Kementerian Agama RI, Anwar Sa'adi, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius terkait ketahanan keluarga dan tren pernikahan.
Ia menyebutkan, berdasarkan data statistik, sekitar 45 juta penduduk Indonesia masih berstatus lajang. Selain itu, terjadi fenomena penurunan angka pernikahan hingga sekitar 600 ribu pasangan, namun kondisi tersebut belum diimbangi dengan penurunan angka perceraian yang masih berada di kisaran 30 persen.
“Fenomena ini menjadi perhatian bersama. Karena itu, calon fasilitator dan trainer perlu dibekali wawasan perkawinan yang baik, ideal, sesuai syariat agama, sekaligus mampu menjawab tantangan kehidupan keluarga modern,” jelasnya membuka acara kegiatan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu menjadi fasilitator yang tidak hanya memahami materi bimbingan perkawinan, tetapi juga memiliki kemampuan mendampingi calon pasangan suami istri agar lebih siap membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan berdaya tahan.
Sinergi antara Kementerian Agama RI dan PP Nasyiatul Aisyiyah ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan keluarga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dengan hadirnya fasilitator-fasilitator yang kompeten, diharapkan lahir keluarga muda Indonesia yang lebih siap menghadapi tantangan zaman sekaligus mampu mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

