Kemuliaan Hidup Bukan Soal Tempat Tinggal
Penulis: dr. Wiwik Rahayu, M.Kes, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Riau dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Farmasi UAD
Belakangan ini publik dihebohkan oleh pernyataan seorang ibu yang mengaku bangga anaknya menjadi warga negara asing, bahkan menyebut cukup dirinya saja yang tetap menjadi warga negara Indonesia. Reaksi yang muncul beragam, terlebih ketika diketahui bahwa kesempatan orang tua menempuh pendidikan dan bekerja di luar negeri justru berasal dari beasiswa negara ini. Namun daripada larut dalam polemik, peristiwa tersebut dapat menjadi bahan renungan tentang cara kita memandang masa depan anak dan tujuan hidup manusia.
Kebanggaan semacam itu hampir pasti berangkat dari rasa sayang. Orang tua tentu ingin anaknya hidup lebih mudah, aman, dan sejahtera. Dalam dunia yang semakin kompetitif, harapan agar anak memperoleh peluang terbaik adalah sesuatu yang wajar. Namun pertanyaan pentingnya: apakah cinta kepada anak cukup dimaknai sebagai upaya memastikan kenyamanan hidup semata?
Manusia bukan sekadar makhluk ekonomi. Ia memiliki dimensi ruhani, moral, dan tanggung jawab sosial. Jika masa depan anak hanya diukur dari standar kenyamanan material, maka makna kehidupan berisiko direduksi menjadi sekadar persoalan fasilitas. Padahal dalam pandangan Islam, kehidupan dunia bukan tujuan akhir, melainkan fase ujian dan pengabdian. Manusia diciptakan bukan hanya untuk hidup nyaman, tetapi untuk beribadah kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.
Karena itu, persoalan sesungguhnya bukanlah apakah seseorang tinggal di dalam negeri atau di luar negeri, menjadi WNI atau WNA. Banyak anak bangsa yang berkiprah di luar negeri tetap menjaga identitas keislaman dan kebangsaannya serta memberi kontribusi bagi agama, umat dan tanah air. Sebaliknya, tidak sedikit yang tinggal di negeri sendiri tetapi kehilangan arah hidup. Tempat tinggal tidak otomatis menentukan kemuliaan, sebagaimana kemapanan tidak selalu sejalan dengan kebermaknaan.
Dalam Islam, kemuliaan tidak diukur oleh lokasi geografis, status sosial, ataupun simbol keberhasilan duniawi. Al-Qur’an menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Kemuliaan bersumber dari kualitas iman dan amal, bukan dari paspor, jabatan, atau fasilitas hidup. Karena itu, orientasi hidup menjadi kunci. Anak yang dibesarkan dengan tujuan ibadah dan kemaslahatan akan tetap membawa nilai di mana pun ia berada.
Di tengah arus globalisasi, mobilitas lintas negara adalah keniscayaan. Pendidikan dan pengalaman internasional dapat menjadi sarana meningkatkan kualitas diri. Namun kesempatan tersebut seharusnya dipandang sebagai amanah, bukan sekadar jalan menuju kenyamanan pribadi. Ilmu yang diperoleh idealnya memberi manfaat yang lebih luas, bukan hanya meningkatkan status individu.
Bangsa ini juga telah banyak berinvestasi dalam pendidikan generasinya melalui berbagai program beasiswa dan pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, secara moral setiap individu yang memperoleh manfaat darinya memiliki tanggung jawab untuk memberi kembali, setidaknya dalam bentuk kontribusi pemikiran, karya, atau keteladanan.
Mendidik anak sejatinya bukan hanya menyiapkan profesi atau tempat tinggal yang ideal, melainkan membentuk karakter dan arah hidup. Anak perlu dibekali kesadaran bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari kemapanan, tetapi dari kebermanfaatan. Mereka perlu memahami bahwa hidup yang bernilai adalah hidup yang memberi, bukan hanya hidup yang nyaman.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa perpindahan tempat sering kali terkait dengan misi, bukan sekadar pencarian kemudahan. Rasulullah saw. berhijrah bukan untuk mencari kenyamanan, melainkan untuk menegakkan kebenaran dan membangun peradaban. Hijrah mengandung makna perjuangan, bukan pelarian dari tanggung jawab.
Karena itu, harapan orang tua agar anak memiliki masa depan yang lebih baik seharusnya disertai penanaman nilai yang kokoh. Anak perlu dididik menjadi pribadi yang bersyaksiah islam, berilmu, dan berintegritas, sehingga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan di mana pun ia berada. Kemajuan tanpa jati diri justru berisiko melahirkan generasi yang kehilangan arah.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah di negara mana anak kita akan hidup, tetapi menjadi manusia seperti apa ia kelak. Apakah ia tumbuh menjadi pribadi yang hanya mengejar kenyamanan, atau menjadi pribadi yang siap berjuang untuk kebaikan? Apakah ia sekadar sukses secara materi, atau juga berhasil menjaga iman, akhlak, dan tanggung jawab sosialnya?
Kemuliaan hidup tidak ditentukan oleh tempat tinggal, melainkan oleh nilai yang dibawa dan kontribusi yang diberikan. Tempat dapat berubah, status dapat berganti, tetapi makna hidup ditentukan oleh orientasi hati dan tujuan pengabdian. Cinta orang tua yang sejati bukan hanya ingin anak bahagia di dunia, tetapi juga ingin anaknya hidup bermakna hingga akhir perjalanan.
Tiada kemuliaan tanpa Islam, karena Islamlah yang memuliakan manusia dengan iman, ilmu, dan akhlak. Maka jika kita mendambakan kehidupan yang mulia bagi diri, keluarga, maupun bangsa yang perlu diperjuangkan bukan sekadar kemajuan materi, melainkan perjuangkan penerapan Islam secara keseluruhan dalam kehidupan. Sebab kemuliaan sejati tidak lahir dari tempat tinggal, melainkan dari ketaatan kepada Allah dan kesungguhan menjadikan ajaran-Nya sebagai pedoman hidup.

