Keshalihan, Amanah Sejarah, dan Panggilan Jiwa Kader Muhammadiyah

Publish

19 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
117
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Keshalihan, Amanah Sejarah, dan Panggilan Jiwa Kader Muhammadiyah

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Ada saat-saat sunyi ketika kita bertanya pada diri sendiri, sudahkah keshalihan yang kita jaga selama ini benar-benar bermakna bagi umat? Sudahkah sujud kita menghadirkan cahaya bagi yang gelap, atau ia hanya menjadi percakapan intim antara kita dan Allah swt tanpa jejak di bumi?

Di luar sana, umat sedang tidak baik-baik saja. Kemiskinan masih menganga. Kebodohan masih membelenggu. Ketidakadilan kadang berdiri angkuh di ruang-ruang kebijakan. Di tengah semua itu, kita—kader Persyarikatan Muhammadiyah—berdiri dengan identitas sebagai orang-orang yang sholeh, taat, dan terdidik. Tetapi pertanyaan yang tak bisa lagi kita hindari adalah ini, cukupkah menjadi sholeh, jika kita belum menjadi daya?

Muhammadiyah tidak pernah dilahirkan untuk mencetak pribadi-pribadi yang hanya baik untuk dirinya sendiri. Persyarikatan ini lahir dari kegelisahan mendalam seorang K.H. Ahmad Dahlan yang tak tahan melihat umat terbelakang. Beliau tidak berhenti pada tafsir lisan terhadap Surah Al-Ma’un. Ia menghidupkannya. Ia menggugah hati murid-muridnya, mengajak mereka turun menyentuh kaum mustadh’afin, mendirikan sekolah, membangun rumah sakit, merintis panti asuhan. Keshalihan baginya bukan ruang sempit di sudut sajadah, melainkan energi yang menyalakan peradaban.

Itulah warisan ruh yang kita pikul hari ini.

Namun mari kita jujur sejenak. Kita rajin hadir di pengajian. Kita fasih berbicara tentang tajdid dan Islam berkemajuan. Kita bangga menyebut diri sebagai kader. Tetapi ketika umat membutuhkan pembela, ketika masyarakat menunggu solusi, ketika amal usaha membutuhkan inovasi dan kepemimpinan yang tangguh—apakah kita benar-benar hadir?

Ataukah kita memilih aman dalam zona pribadi, merasa cukup dengan ibadah ritual dan reputasi sebagai orang baik?

Islam tidak pernah mengenal dikotomi antara keshalihan pribadi dan tanggung jawab sosial. Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba yang paling khusyuk dalam munajatnya, tetapi juga pemimpin yang paling berani menegakkan keadilan. Para sahabat menangis di malam hari, tetapi di siang hari mereka membangun peradaban dengan ilmu, strategi, dan kerja keras. Keshalihan dalam Islam selalu melahirkan keberanian.

Muhammadiyah mewarisi semangat itu. Dakwah amar ma’ruf nahi munkar bukan sekadar slogan. Ia adalah panggilan jiwa. Ia menuntut kita untuk tidak hanya menjadi orang yang selamat, tetapi menjadi penyelamat.

Berdaya, bagi seorang kader, bukan berarti harus menjadi tokoh besar. Berdaya adalah ketika kehadiran kita menghadirkan manfaat. Ketika iman mendorong kita meningkatkan kompetensi. Ketika ilmu yang kita miliki tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjelma kontribusi nyata.

Seorang guru/dosen Muhammadiyah yang mengajar dengan cinta dan visi peradaban—ia berdaya. Seorang dokter di rumah sakit Muhammadiyah yang melayani dengan ihsan—ia berdaya. Seorang aktivis yang menghidupkan ranting dengan kreativitas—ia berdaya. Seorang pengusaha yang jujur dan memberdayakan masyarakat—ia berdaya. Seorang ibu yang menanamkan tauhid dan etos kemajuan pada anak-anaknya—ia berdaya.

Berdaya berarti keshalihan kita bergerak. Tidak diam. Tidak pasif. Tidak puas pada diri sendiri.

Hari ini, umat tidak kekurangan orang sholeh. Masjid-masjid berdiri megah. Pengajian ramai. Tetapi umat masih merindukan kader yang tangguh—yang bukan hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi berani memimpin perubahan.

Barangkali selama ini kita terlalu sempit memaknai ibadah. Kita membatasinya pada ritual, bukan menjadikannya bahan bakar perjuangan. Padahal setiap rakaat shalat seharusnya melatih disiplin. Setiap puasa melatih empati. Setiap zakat melatih keberpihakan. Setiap tilawah seharusnya menyalakan keberanian untuk menegakkan kebenaran.

Jika ibadah tidak melahirkan keberanian sosial, mungkin ada yang belum selesai dalam cara kita memahaminya.

Kader Muhammadiyah bukanlah penonton sejarah. Kita adalah mata rantai dari perjuangan panjang yang telah mencerdaskan bangsa, menolong tanpa memandang sekat, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Amal usaha yang berdiri hari ini bukan dibangun oleh orang-orang yang menunggu sempurna. Ia dibangun oleh jiwa-jiwa yang gelisah melihat ketertinggalan, lalu bergerak dengan segala keterbatasannya.

Mereka tidak menunggu siap sepenuhnya. Mereka bergerak, lalu kesiapan itu tumbuh dalam proses.

Maka jika hari ini kita merasa belum cukup mampu, itu bukan alasan untuk diam. Justru di situlah proses kaderisasi menemukan maknanya. Kita belajar. Kita ditempa. Kita jatuh dan bangkit. Kita salah dan memperbaiki. Persyarikatan ini adalah sekolah besar pembentuk jiwa-jiwa tangguh.

Keshalihan yang utuh adalah keshalihan yang hidup—yang menggerakkan, yang menguatkan, yang membebaskan.

Bayangkan jika setiap kader benar-benar menghidupkan potensi dirinya. Bayangkan jika setiap ranting menjadi pusat pencerahan. Bayangkan jika setiap amal usaha dikelola dengan profesionalisme tinggi dan ruh dakwah yang menyala. Bayangkan jika para pemuda Muhammadiyah berani masuk ke ruang-ruang strategis bangsa dengan integritas dan kompetensi.

Itulah wajah Islam berkemajuan yang kita cita-citakan.

Tetapi semua itu tidak akan lahir dari jiwa yang puas menjadi sholeh untuk dirinya sendiri. Ia hanya lahir dari kader yang memahami bahwa keshalihan adalah amanah. Bahwa setiap ilmu yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban. Bahwa setiap kesempatan adalah panggilan untuk memberi arti.

Pada akhirnya, nilai kita di hadapan Allah bukan hanya diukur dari panjangnya doa dan banyaknya puasa. Ia juga diukur dari seberapa besar kita menghadirkan manfaat. Dari seberapa jauh kita menolong yang lemah. Dari seberapa berani kita berdiri ketika kebenaran dipertaruhkan.

Maka wahai kader Persyarikatan, mari kita bertanya dengan jujur pada diri sendiri, apakah kita hanya ingin dikenal sebagai orang baik, atau kita siap menjadi bagian dari perubahan besar?

Mari kita rawat keshalihan dengan sungguh-sungguh. Tetapi jangan berhenti di sana. Bangun kompetensi. Perluas wawasan. Asah kepemimpinan. Perkuat solidaritas jamaah. Hadirkan inovasi. Masuki ruang-ruang strategis. Jangan takut mengambil peran.

Karena Persyarikatan ini tidak menunggu orang yang sempurna. Ia menunggu jiwa-jiwa yang siap berproses dan berjuang.

Jadilah sholeh yang berdaya.
Yang sujudnya dalam, tetapi langkahnya jauh.
Yang hatinya lembut, tetapi sikapnya tegas.
Yang lisannya berdzikir, tetapi tangannya bekerja.

Sebab umat tidak hanya membutuhkan orang yang selamat.
Umat membutuhkan kader yang menyelamatkan.

Dan mungkin, hari ini—di titik sunyi ini—Allah sedang menunggu keputusan kita, tetap menjadi sholeh yang nyaman, atau bangkit menjadi sholeh yang menggerakkan zaman.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketiban Sampur Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon, Klaten   "Jika tidak bisa....

Suara Muhammadiyah

21 June 2025

Wawasan

Pentingnya Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Oleh: Wakhidah Noor Ag....

Suara Muhammadiyah

26 September 2023

Wawasan

 Hidup yang Berkelanjutan Oleh: Suko Wahyudi, pegiat literasi tinggal di Yogyakarta  Al-....

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

Wawasan

Makna Kemerdekaan: Anugerah Ilahi dan Tanggung Jawab Bangsa Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Tr....

Suara Muhammadiyah

18 August 2024

Wawasan

Pelajari Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur`an  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024