Ketika AI Jauh Lebih Pintar, Apa yang Tersisa dari Manusia?

Suara Muhammadiyah

24 January 2026

956
Ismail Fahmi

Ismail Fahmi

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Hari ini, jutaan umat Islam tidak lagi bertanya kepada ustaz untuk menyelesaikan persoalan keagamaan maupun kehidupan sehari-hari. Mereka mulai beralih ke kecerdasan buatan (AI) untuk mencari pencerahan, dengan bertanya kepada ChatGPT, Grok, Gemini, dan berbagai large language model (LLM) lainnya.

Fenomena ini mendorong kekhawatiran Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi. Dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (23/1), ia memaparkan timeline of disruption atau rentang waktu disrupsi. Paparan ini, menurutnya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai peringatan (warning) agar umat bersiap menghadapi masa depan yang semakin sulit dibaca.

Fase pertama adalah the great transition (2026–2029), yakni era ketika mesin atau AI menjadi lebih pintar dari manusia dan siap menggantikan manusia dalam berbagai jenis pekerjaan di dunia modern. Fase kedua disebut the superintelligence emergence (2030–2035). Pada fase ini, berbagai persoalan di bumi mulai dikendalikan oleh AI secara halus (soft control), sekaligus memicu krisis eksistensial manusia akibat kehadiran kecerdasan buatan yang kian canggih.

Fase ketiga adalah era hybrid humanity (2036–2045). Fase ini diproyeksikan sebagai masa ketika hubungan manusia dan mesin tidak lagi terpisahkan. Kehidupan manusia ditunjang oleh chip kecerdasan buatan yang terintegrasi langsung dengan tubuh dan pikiran.

Pertanyaannya, apakah semua itu mungkin terjadi? Menurut Fahmi, skenario ini sangat mungkin terwujud, mengingat upaya-upaya ke arah tersebut sudah dilakukan, salah satunya oleh Elon Musk. Lalu, bagaimana strategi Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan ini?

Pada fase pertama, Muhammadiyah perlu menghadirkan kekayaan intelektualnya dalam format digital. “Jika Muhammadiyah ingin hadir sebagai verifikator, maka pengetahuan Muhammadiyah harus tersedia secara digital. Kalau tidak, AI tidak akan tahu,” ujarnya.

Memasuki fase kedua, Muhammadiyah perlu memperkuat jangkar moral di tengah kehidupan yang dipenuhi kecerdasan buatan. Adapun pada fase ketiga, ketika manusia terhubung dengan berbagai macam pengetahuan, justru muncul persoalan baru: hilangnya jati diri dan keseimbangan hidup. Banyak manusia menjadi sangat pintar, memiliki pengetahuan berlipat ganda, dan terkoneksi dengan banyak hal, namun merasa semakin pusing dan tidak bahagia.

“Ketika manusia nyambung ke mana-mana dan tahu macam-macam, di saat itulah manusia semakin kehilangan jati diri. Ia semakin kesepian,” paparnya.

Dalam fase ini, Fahmi menilai Muhammadiyah memiliki peran strategis sebagai benteng terakhir yang menjaga nilai-nilai kemanusiaan murni—seperti jiwa, empati, dan spiritualitas—yang tidak dapat disimulasikan oleh mesin. Dengan kata lain, Muhammadiyah perlu menjadi guardian of fitrah, penjaga kemanusiaan yang melampaui teknologi.

Untuk menghadapi situasi tersebut, Fahmi memberikan sejumlah rekomendasi strategis. Pertama, deklarasi jihad data dengan membangun ekosistem digital yang terpadu. Kedua, reformasi AUM pendidikan dari pabrik pekerja menjadi inkubator manusia. Ketiga, ijtihad antisipatif melalui pembentukan majelis yang relevan dengan tantangan masa depan. Keempat, reorientasi aset wakaf dari yang bersifat pasif menjadi aset produktif dan berbasis teknologi. Kelima, membangun resiliensi komunitas di tingkat ranting sebagai benteng kesehatan mental umat. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua MUI Kota Bandung KH Miftah Faridl mengajak umat Islam untu....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 31 santri Pondok Pesantren Tahfidzil Qur’an (P....

Suara Muhammadiyah

23 June 2024

Berita

PALOPO, Suara Muhammadiyah - Materi mengenai penguatan layanan kesehatan ibu dan anak (KIA) dalam pe....

Suara Muhammadiyah

6 December 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah (Pimwil) Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suc....

Suara Muhammadiyah

6 August 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahkamah konstitusi merupakan salah satu lembaga negara yang melaku....

Suara Muhammadiyah

8 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah