Ketika Amanah Menguji Integritas
Oleh: Amrizal
Musuh terbesar idealisme kader bukanlah tekanan dari luar organisasi, apalagi represi kekuasaan. Musuh paling berbahaya justru datang dengan wajah ramah: kenyamanan, akses, dan peluang jabatan. Ia tidak memaksa, tidak mengancam, tetapi perlahan menggeser orientasi perjuangan. Dari pengabdian menjadi ambisi. Dari dakwah menjadi posisi.
Fenomena ini terasa kian nyata dalam dinamika Angkatan Muda Muhammadiyah hari ini. Organisasi-organisasi otonom bergerak aktif, kaderisasi berjalan rutin, musyawarah digelar demokratis. Namun di balik itu, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan: semakin banyak kader muda yang memandang organisasi bukan lagi sebagai medan pengabdian, melainkan sebagai tangga menuju jabatan.
Dari Gerakan ke Karier
Tidak salah bercita-cita. Tidak keliru memiliki ambisi. Muhammadiyah bahkan mendorong kadernya untuk unggul di berbagai bidang kehidupan. Namun persoalannya adalah ketika jabatan menjadi tujuan, bukan konsekuensi dari pengabdian. Ketika posisi struktural dikejar lebih keras daripada kerja nyata. Ketika musyawarah dipersempit maknanya menjadi arena menang–kalah, bukan ruang mencari kemaslahatan.
Dalam banyak forum kaderisasi, kita masih mendengar jargon idealisme, keikhlasan, dan fastabiqul khairat. Tetapi di lapangan, tidak sedikit kader yang patah semangat setelah tidak terpilih, menarik diri dari aktivitas, bahkan menjauh dari persyarikatan. Ini tanda serius bahwa kaderisasi kita sedang rapuh di sisi mental ideologisnya.
Jalan Sunyi Soe Hok Gie
Sejarah Indonesia menyimpan satu kisah yang relevan untuk direnungkan. Soe Hok Gie adalah simbol idealisme yang memilih jalan paling sunyi ketika kawan-kawannya tergoda kursi empuk kekuasaan. Di saat aktivis Angkatan ’66 berbondong-bondong masuk parlemen dan menikmati fasilitas negara, Gie justru berdiri di luar lingkaran, menjadi pengkritik paling keras terhadap rezim yang dulu mereka bantu lahirkan.
Gie menolak jabatan bukan karena anti-kekuasaan, tetapi karena menolak kehilangan nurani. Ia membuktikan bahwa integritas sering kali harus dibayar dengan kesepian. Ia disingkirkan, dicibir, bahkan dibenci oleh kawan seperjuangan sendiri. Namun ia memilih tetap setia pada prinsip, hingga akhirnya wafat muda di Mahameru, meninggalkan teladan bahwa idealisme tidak selalu berumur panjang, tetapi selalu bermakna dalam.
Cermin bagi Kader Muhammadiyah
Tentu Muhammadiyah bukan Gie, dan kader Muhammadiyah tidak hidup dalam konteks revolusi berdarah. Namun esensi ujiannya sama: bagaimana bersikap ketika kesempatan datang? Apakah kita tetap menjadi kader persyarikatan, atau berubah menjadi pencari posisi dengan bendera organisasi?
Muhammadiyah dibesarkan bukan oleh kader yang selalu berada di puncak struktur, tetapi oleh kader yang setia bekerja di mana pun ditempatkan. Dari ranting yang sepi, majelis yang sunyi, hingga amal usaha yang jarang disorot. Di situlah ideologi diuji, bukan di panggung musyawarah, melainkan dalam kesediaan menerima peran tanpa sorotan.
Lemahnya kaderisasi hari ini bukan semata karena kurangnya pelatihan atau kurikulum. Kita relatif kaya modul dan forum. Masalahnya terletak pada orientasi. Kader terlalu cepat diperkenalkan pada struktur, tetapi kurang dibiasakan pada kerja sunyi. Terlalu sering bicara soal posisi, tetapi jarang menanamkan makna pengabdian jangka panjang.
Akibatnya, lahir kader yang aktif selama menjabat, namun pasif setelah tidak lagi memiliki posisi. Padahal kader sejati tetap bekerja, meski tanpa titel.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang tahan godaan, bukan hanya tahan kritik. Kader yang siap memimpin, tetapi juga siap dipimpin. Siap maju, tetapi juga siap mundur dengan lapang dada. Sebab dalam persyarikatan, tidak ada jabatan yang abadi, kecuali nilai.
Jika suatu hari kader muda Muhammadiyah dihadapkan pada pilihan: jabatan yang menjanjikan kenyamanan atau sikap yang menuntut kejujuran—maka kisah Gie layak hadir sebagai cermin. Bahwa lebih baik berjalan sunyi bersama nurani, daripada bersinar terang tapi kehilangan arah.
Idealisme tidak mati karena usia. Ia mati karena kompromi yang terlalu mudah. Muhammadiyah akan tetap besar selama kader-kader mudanya memilih menjadi pelayan gerakan, bukan penumpang sejarah.
Dan barangkali, di tengah hiruk pikuk ambisi hari ini, kita perlu kembali bertanya dengan jujur pada diri sendiri: Apakah kita masih kader yang berjuang, atau sudah mulai menjadi pencari posisi yang berlindung di balik perjuangan?
Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan kaderisasi Muhammadiyah. Wallahu a’lam Bish Shawab
Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut / Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UNY/Dosen Universitas Negeri Medan

