Ketika Manusia Gemar Berkurban Hewan, Tetapi Enggan Mengorbankan Keserakahan
Dr. Hasbullah, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu
Idul Adha setiap tahun selalu datang dengan gema takbir, penyembelihan hewan kurban, dan semangat berbagi kepada sesama. Masjid dipenuhi jamaah, media sosial dipadati foto sapi dan kambing, sementara umat Islam berlomba-lomba menunjukkan partisipasi dalam ibadah kurban. Namun, pertanyaan paling penting justru sering terlupakan: apakah yang sebenarnya disembelih dalam Idul Adha hanya hewan, ataukah ego manusia?
Di sinilah problem terbesar umat Islam modern. Idul Adha perlahan mengalami penyempitan makna. Ia direduksi menjadi ritual tahunan yang seremonial, padahal spirit dasarnya adalah revolusi spiritual dan sosial. Nabi Ibrahim AS tidak sedang diuji tentang kemampuan membeli kambing atau sapi. Beliau diuji tentang keberanian menghancurkan keterikatan duniawi demi ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian”. (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat tajam. Allah secara eksplisit menolak cara berpikir materialistik dalam ibadah kurban. Yang dinilai bukan besar-kecilnya hewan, bukan mahal-murahnya harga kurban, bahkan bukan kemeriahan distribusinya. Yang dilihat Allah adalah kualitas ketakwaan dan keikhlasan manusia.
Ironisnya, masyarakat modern justru sering terjebak pada simbol, bukan substansi. Kurban berubah menjadi ajang prestise sosial. Nama pekurban diumumkan besar-besaran, dokumentasi disebarkan di media digital, bahkan tidak sedikit yang menjadikan ibadah sebagai sarana pencitraan religius. Di era kapitalisme spiritual, kesalehan kadang dipertontonkan layaknya komoditas.
Idul Adha sebagai Kritik terhadap Peradaban Rakus
Idul Adha seharusnya menjadi momentum kritik terhadap gaya hidup manusia modern yang semakin rakus, individualistik, dan materialistik. Banyak orang rela mengorbankan hewan, tetapi tidak rela mengorbankan kesombongan. Rela membeli sapi jutaan rupiah, tetapi enggan menghapus kezaliman dalam bisnisnya. Semangat pengorbanan berhenti di tempat penyembelihan, tidak masuk ke dalam karakter kehidupan.
Padahal inti pengorbanan Nabi Ibrahim adalah keberanian melawan ego diri sendiri. Dalam perspektif spiritual Islam, “Ismail” modern manusia hari ini bukan lagi anak yang hendak disembelih, tetapi hawa nafsu yang terlalu dicintai. Jabatan, kekuasaan, kekayaan, popularitas, dan ambisi duniawi telah menjadi “berhala baru” yang sulit dilepaskan manusia modern.
Di sinilah Idul Adha menemukan relevansi sosial-politiknya. Kurban bukan sekadar ibadah personal, tetapi pendidikan peradaban. Ia mengajarkan bahwa masyarakat yang sehat hanya bisa dibangun oleh manusia yang mampu mengendalikan kerakusan. Krisis terbesar dunia saat ini sesungguhnya bukan kekurangan sumber daya, melainkan kegagalan manusia mengendalikan nafsu eksploitasi.
Lihatlah bagaimana korupsi merajalela, ketimpangan sosial semakin melebar, lingkungan dirusak tanpa belas kasihan, dan politik dipenuhi perebutan kekuasaan tanpa etika. Semua itu berakar dari satu hal: manusia tidak mau berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Mereka ingin mengambil sebanyak mungkin, tetapi memberi sesedikit mungkin.
Karena itu, Idul Adha semestinya dibaca sebagai kritik keras terhadap peradaban egoistik. Takbir Idul Adha bukan sekadar ritual verbal, tetapi deklarasi bahwa Allah lebih besar daripada seluruh ambisi dunia manusia. Ketika manusia masih menjadikan uang, jabatan, dan popularitas sebagai pusat hidupnya, sesungguhnya ia belum sepenuhnya memahami tauhid Nabi Ibrahim.
Pendidikan Pengorbanan dalam Membangun Generasi Berkarakter
Keluarga Nabi Ibrahim memberikan pelajaran penting tentang fondasi keluarga bertauhid. Ibrahim mengorbankan kenyamanan demi ketaatan. Siti Hajar mengorbankan ketakutan demi keyakinan. Ismail mengorbankan dirinya demi kepasrahan kepada Allah. Keluarga ini dibangun bukan di atas kemewahan materi, tetapi di atas iman, kesabaran, dan pengorbanan.
Sayangnya, keluarga modern justru banyak dibangun di atas gengsi sosial dan kemapanan ekonomi semata. Orang tua sibuk mengejar kekayaan, tetapi gagal menghadirkan keteladanan spiritual bagi anak-anaknya. Anak-anak dibesarkan dengan fasilitas, tetapi miskin nilai pengorbanan. Akibatnya lahirlah generasi yang kuat secara teknologi, tetapi rapuh secara moral.
Idul Adha seharusnya menghidupkan kembali filosofi pengorbanan dalam pendidikan keluarga. Anak-anak harus diajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang mengambil hak, tetapi juga memberi manfaat. Bahwa cinta bukan hanya menerima, tetapi juga rela berkorban. Dan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari konsumsi tanpa batas, melainkan dari ketulusan berbagi.
Dalam konteks bangsa, spirit Idul Adha juga relevan untuk membangun kepemimpinan yang bermoral. Bangsa ini terlalu banyak dipimpin oleh elite yang ingin dilayani, bukan melayani. Kekuasaan dijadikan alat memperkaya diri, bukan sarana pengabdian. Padahal Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang siap berkorban untuk umatnya.
Maka Idul Adha harus menjadi gerakan moral. Kurban tidak cukup berhenti pada distribusi daging, tetapi harus melahirkan distribusi keadilan sosial. Semangat berbagi tidak boleh hadir setahun sekali, melainkan menjadi karakter permanen umat Islam. Ketakwaan harus hadir dalam ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya kehidupan.
Jika Idul Adha hanya melahirkan keramaian tanpa perubahan moral, maka kita sedang kehilangan ruh terbesar ibadah ini. Sebab Allah tidak membutuhkan darah hewan. Allah ingin melihat apakah manusia mampu menyembelih keserakahan dalam dirinya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh ambisi dan perebutan kepentingan, Idul Adha hadir membawa pesan sunyi tetapi sangat revolusioner: manusia yang paling mulia bukanlah yang paling banyak memiliki, tetapi yang paling mampu berkorban demi kebenaran dan kemanusiaan.

