Keyakinan dan Ketaatan Yang Lahir Dari Cinta
Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
Ada sesuatu yang tidak dapat dipaksakan, tidak bisa dibeli dengan jabatan, tidak pula dapat ditukar dengan penghargaan dan kedudukan. Ia tumbuh perlahan melalui perjalanan panjang, melalui perjumpaan yang jujur, keteladanan yang konsisten, pengorbanan yang dirasakan bersama, serta kesetiaan dalam menunaikan amanah. Ia adalah tsiqah, kepercayaan yang tidak sekadar terucap di lisan, tetapi bersemayam di dalam hati dan dibuktikan melalui amal nyata.
Dalam kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah, tsiqah bukanlah ketundukan tanpa kesadaran. Ia bukan pula kepatuhan yang menghilangkan akal sehat dan daya kritis. Tsiqah adalah kepercayaan yang lahir dari kesamaan iman, kesatuan cita-cita, kejernihan niat, dan kesungguhan dalam mengemban dakwah Islam, amar makruf nahi mungkar, serta tajdid. Ia tumbuh ketika pimpinan dan kader sama-sama menyadari bahwa Muhammadiyah bukanlah milik pribadi, kelompok, atau generasi tertentu, melainkan amanah umat yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab.
Kepercayaan dalam Persyarikatan tidak dibangun di atas pesona seseorang, kekuatan retorika, atau kebesaran nama. Ia tumbuh dari integritas, keteladanan, keluasan ilmu, kematangan sikap, keterbukaan dalam bermusyawarah, serta kesediaan mendahulukan kepentingan dakwah daripada kepentingan diri sendiri. Seorang pimpinan dipercaya bukan semata-mata karena jabatannya, melainkan karena amanahnya. Seorang kader dihormati bukan hanya karena lamanya berkhidmat, tetapi karena kesungguhan amal, kejernihan pikiran, dan keluhuran akhlaknya.
Di dalam tsiqah terdapat ketenangan jiwa dan kelapangan hati. Namun, ketenangan itu bukan lahir dari sikap pasif. Ia tumbuh dari pengamatan yang jernih, pengalaman berorganisasi, interaksi yang tulus, dan kesediaan untuk saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Kepercayaan yang demikian membuat seorang kader taat bukan karena takut berbeda pendapat, melainkan karena memahami bahwa kehidupan organisasi memerlukan keteraturan, kedisiplinan, musyawarah, dan kesediaan menerima keputusan bersama.
Cinta yang tumbuh dalam perjuangan Muhammadiyah bukanlah cinta yang berhenti pada kekaguman kepada tokoh. Ia adalah cinta kepada nilai, cita-cita, dan jalan perjuangan. Ia merupakan kecintaan kepada Islam yang mencerahkan, membebaskan, memajukan, serta menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Cinta itu mungkin tidak selalu tampak dalam kata-kata, tetapi terasa dalam kesungguhan mengajar, merawat orang sakit, menyantuni anak yatim, menguatkan kaum lemah, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menghadirkan pelayanan kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang.
Seorang kader mencintai Muhammadiyah bukan karena Persyarikatan ini tanpa kekurangan, melainkan karena melalui Muhammadiyah ia menemukan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ilmu dan amal. Ia menghormati pimpinan bukan karena menganggap mereka selalu benar, tetapi karena memahami beratnya amanah yang dipikul. Ia menjaga keputusan Persyarikatan bukan karena kehilangan kemerdekaan berpikir, tetapi karena menyadari bahwa hasil musyawarah harus dihormati agar gerakan tetap berjalan tertib, kokoh, dan berkesinambungan.
Ketaatan yang lahir dari cinta tidak terasa sebagai beban. Ia menjadi pengabdian yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Kader yang matang tidak sibuk menghitung apa yang diperoleh dari Persyarikatan. Ia justru bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang telah diberikan untuk dakwah ini, manfaat apa yang telah dihadirkan bagi umat, serta jejak kebaikan apa yang akan ditinggalkan untuk generasi berikutnya.
Dalam perjalanan dakwah, keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq selalu menghadirkan getaran iman yang mendalam. Ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan peristiwa Isra dan Mikraj, sebagian orang meragukan dan memperoloknya. Namun, Abu Bakar menegaskan:
“Apabila beliau (Rasulullah ﷺ) yang mengatakannya, maka sungguh beliau telah berkata benar.”
Kalimat itu sederhana, tetapi lahir dari iman yang kokoh, pengenalan yang mendalam, dan pengalaman panjang menyaksikan kejujuran Rasulullah ﷺ. Kepercayaan Abu Bakar bukanlah kepercayaan tanpa dasar. Ia mengenal pribadi Rasulullah, menyaksikan akhlaknya, memahami risalahnya, dan membersamai perjuangannya. Karena itu, keyakinannya bukan sekadar luapan emosi, melainkan buah dari iman, ilmu, kedekatan, dan kesetiaan dalam perjuangan.
Keteladanan tersebut mengajarkan bahwa kepercayaan sejati tidak dapat diminta hanya melalui seruan. Ia harus ditumbuhkan melalui kejujuran dan dibuktikan melalui keteladanan. Dalam konteks Persyarikatan, pimpinan tidak cukup hanya meminta kader untuk patuh. Pimpinan harus menghadirkan alasan moral dan keteladanan yang membuat kepercayaan tumbuh dengan sendirinya. Amanah harus dijalankan secara terbuka, keputusan harus ditempuh melalui musyawarah, kepentingan pribadi harus diletakkan di bawah kepentingan dakwah, dan kekuasaan harus dipahami sebagai sarana pelayanan, bukan kesempatan untuk memperoleh kemuliaan diri.
Muhammadiyah dibangun melalui amal berjemaah. Di dalamnya terdapat banyak kepala, beragam pengalaman, bermacam latar belakang, dan sudut pandang yang tidak selalu sama. Perbedaan merupakan keniscayaan, bahkan dapat menjadi sumber kekuatan apabila dikelola dengan ilmu, adab, dan kebesaran jiwa. Karena itu, tsiqah dibutuhkan agar perbedaan tidak berubah menjadi prasangka, persaingan tidak menjelma menjadi permusuhan, dan kritik tidak bergeser menjadi upaya saling merendahkan.
Dalam musyawarah, seorang kader boleh menyampaikan pendapat dengan bebas, kritis, dan bertanggung jawab. Ia bahkan berkewajiban mengingatkan ketika melihat kekeliruan. Namun, semua itu dilakukan dengan adab, argumentasi, dan niat memperbaiki. Kritik dalam Muhammadiyah bukanlah ungkapan kebencian, melainkan wujud kecintaan kepada Persyarikatan. Ketidaksetujuan tidak harus melahirkan permusuhan. Perbedaan pandangan tidak boleh memutus ukhuwah. Setelah keputusan ditetapkan melalui mekanisme organisasi yang sah, setiap kader dituntut memiliki kedewasaan untuk menjaga, melaksanakan, dan menyukseskannya.
Ketaatan kepada keputusan Persyarikatan bukanlah pengultusan kepada manusia. Muhammadiyah tidak mendidik kader menjadi pengikut yang kehilangan nalar. Muhammadiyah justru memuliakan ilmu, mendorong ijtihad, membiasakan musyawarah, serta mengembangkan sikap kritis dan bertanggung jawab. Ketaatan ditempatkan dalam bingkai ajaran Islam, ketentuan organisasi, dan kemaslahatan bersama. Tidak ada ketaatan mutlak kepada manusia, sebab ketaatan tertinggi hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Pimpinan dihormati selama menjalankan amanah, menjaga nilai-nilai Islam, dan mematuhi keputusan serta aturan Persyarikatan.
Di sinilah keindahan kultur Muhammadiyah. Pimpinan tidak menempatkan diri sebagai pemilik kebenaran, sedangkan kader tidak memosisikan diri sebagai pengikut tanpa pendirian. Semuanya berada dalam satu majelis pengabdian. Pimpinan mendengar, kader menyampaikan pandangan, musyawarah dijalankan, dan keputusan dipikul bersama. Tidak ada yang merasa paling berjasa, sebab setiap amal sejatinya merupakan karunia Allah. Tidak ada yang merasa paling berhak menentukan segalanya, sebab Persyarikatan berjalan dengan sistem, aturan, dan kepemimpinan kolektif-kolegial.
Ketika kepercayaan retak, kata-kata yang baik mudah dicurigai. Keputusan yang benar dapat dianggap sebagai kepentingan kelompok. Amanah ditunda, program dilemahkan, dan energi organisasi habis untuk mengurus pertentangan internal. Dakwah yang seharusnya menjadi medan pengabdian perlahan berubah menjadi ruang perebutan pengaruh. Orang tidak lagi bertanya tentang maslahat umat, tetapi sibuk menghitung posisi, pengakuan, dan keuntungan dirinya.
Retaknya kepercayaan tidak selalu disebabkan oleh lemahnya kader. Terkadang ia muncul karena pimpinan tidak terbuka, tidak konsisten, atau tidak mampu menjaga kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Karena itu, membangun tsiqah merupakan tanggung jawab bersama. Pimpinan harus menghadirkannya melalui keteladanan, kejujuran, kecakapan, keadilan, keterbukaan, dan keberanian mengambil tanggung jawab. Kader menumbuhkannya melalui prasangka baik, disiplin organisasi, kesungguhan bekerja, serta kesediaan menyampaikan nasihat secara santun.
Pimpinan tidak selayaknya menuntut kepercayaan apabila belum menunjukkan keluhuran dalam memimpin. Jabatan dalam Muhammadiyah bukanlah kehormatan yang harus dinikmati, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar kewajibannya untuk melayani, mendengar, merangkul, dan menjaga hati warga Persyarikatan. Pimpinan harus mampu menjadi teladan dalam kesederhanaan, keteguhan, keluasan pandangan, serta keberanian mendahulukan kemaslahatan umat.
Pada saat yang sama, kader tidak selayaknya menuntut kesempurnaan dari pimpinan. Setiap manusia memiliki keterbatasan. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk saling menguatkan, saling meluruskan, dan saling melengkapi. Kekurangan tidak selalu harus diumbar menjadi percakapan yang melemahkan. Ada saatnya nasihat disampaikan secara langsung, ada waktunya kritik dibawa ke forum musyawarah, dan ada keadaan ketika seorang kader harus menahan diri agar persoalan tidak berkembang menjadi fitnah.
Dalam Persyarikatan, kepercayaan harus selalu bertemu dengan akuntabilitas. Prasangka baik tidak boleh menghilangkan kehati-hatian. Kesetiaan tidak boleh mematikan keberanian menyampaikan kebenaran. Ketaatan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan penyimpangan. Justru karena mencintai Muhammadiyah, seorang kader harus berani menjaga kemurnian cita-citanya, merawat marwah organisasinya, serta mencegah Persyarikatan dari kepentingan sempit yang dapat menjauhkannya dari tujuan dakwah.
Kader Muhammadiyah dituntut menjadi pribadi yang memiliki keteguhan iman, keluasan ilmu, kematangan emosi, dan kesungguhan amal. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh kabar yang belum jelas. Ia tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk melampiaskan ketidakpuasan terhadap saudara seperjuangan. Ia membiasakan tabayun, menjaga kehormatan sesama, serta memilih jalan musyawarah ketika menghadapi persoalan. Ia memahami bahwa adab bukanlah kelemahan, dan ketegasan bukanlah kekasaran.
Kepercayaan di dalam Muhammadiyah pada akhirnya bermuara kepada Allah. Kita mempercayai sesama manusia dalam batas kemanusiaannya, tetapi kita menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Pimpinan dapat berganti, generasi akan datang dan pergi, tantangan akan terus berubah, tetapi cita-cita menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya harus tetap menyala di dalam dada setiap kader.
Tsiqah adalah doa yang berjalan melalui amal. Ia hidup dalam langkah guru dan dosen yang dengan sabar mendidik murid-muridnya, dalam tangan tenaga kesehatan yang merawat pasien dengan ikhlas, dalam ketekunan para pengelola amal usaha, dalam keberanian mubalig menyampaikan kebenaran, serta dalam kesunyian para kader yang bekerja tanpa banyak dikenal. Mereka mungkin tidak selalu tampil di hadapan publik, tetapi dari tangan-tangan merekalah denyut Persyarikatan terus bergerak.
Doa itu seakan berkata: “Ya Allah, teguhkanlah hati kami dalam jalan dakwah ini. Jauhkanlah kami dari kesombongan, prasangka, dan keinginan untuk menguasai. Anugerahkan kepada para pimpinan kami kejujuran, kebijaksanaan, ketegasan, dan kasih sayang. Karuniakan kepada para kader kami keikhlasan, kedisiplinan, keluasan hati, serta keberanian menyampaikan kebenaran dengan adab. Satukan langkah kami dalam musyawarah, kuatkan ukhuwah kami dalam perbedaan, dan jadikan setiap amal kami sebagai jalan mendekat kepada-Mu.”
Semoga Allah menghimpun kita sebagai kader-kader yang percaya dengan ilmu, taat dengan kesadaran, kritis dengan adab, dan berjuang dengan cinta. Kader yang tidak berhenti pada kebanggaan terhadap nama besar Muhammadiyah, tetapi menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan. Kader yang memadukan ilmu amaliah dengan amal ilmiah, memelihara semangat tajdid, serta berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencerahkan umat dan memajukan bangsa.
Sebab kemenangan dakwah tidak lahir dari kebesaran nama manusia. Ia hadir karena pertolongan Allah, keikhlasan para pejuang, kekuatan ukhuwah, ketertiban organisasi, kejernihan musyawarah, dan kesediaan untuk terus berkhidmat. Di sanalah keyakinan menemukan maknanya, ketaatan memperoleh kemuliaannya, dan cinta menjelma menjadi amal yang menerangi kehidupan.

