KHGT: Menata Waktu, Merajut Ukhuwah Umat

Publish

22 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
94
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

KHGT: Menata Waktu, Merajut Ukhuwah Umat

Oleh: Muhammad Najmi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Wacana Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam beberapa tahun terakhir kembali menjadi perhatian umat Islam. Sebagian menyambutnya sebagai kebutuhan zaman, sebagian lain menanggapinya dengan kehati-hatian. Hal ini sangat wajar, karena penentuan awal bulan Hijriah bukan sekadar persoalan teknis astronomi, tetapi juga menyangkut tradisi fikih, otoritas keagamaan, dan pengalaman sosial umat Islam yang panjang. Setiap kali Ramadhan atau Idul Fitri tiba, umat kembali dihadapkan pada situasi yang sama: ada perbedaan penetapan, ada kebingungan di akar rumput, dan kadang muncul kegaduhan yang sebenarnya tidak perlu.

Perlu ditegaskan sejak awal bahwa KHGT bukanlah produk orisinil Muhammadiyah. Gagasan kalender Hijriah global lahir dari diskursus luas dunia Islam, melibatkan para ulama, ahli falak, lembaga fikih internasional, serta forum-forum global yang berupaya mencari format kalender Islam yang lebih pasti dan terintegrasi. Namun demikian, Muhammadiyah mengambil posisi yang jelas: meyakini KHGT sebagai salah satu solusi strategis untuk menjawab persoalan umat yang terus berulang setiap tahun, yakni perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Sikap Muhammadiyah ini bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari karakter dakwah Muhammadiyah sejak awal berdiri: menghadirkan tajdid, melakukan pembaruan dengan basis ilmu, dan menawarkan jalan keluar ketika umat menghadapi kebuntuan. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah kerap melahirkan terobosan yang pada mulanya menuai kritik, bahkan cibiran, namun pada akhirnya diterima dan dirasakan manfaatnya oleh umat secara luas. Sejarah gerakan ini seolah mengajarkan bahwa pembaruan memang tidak selalu nyaman di awal, tetapi sering kali diperlukan untuk menjawab tantangan zaman.

Kita dapat mengingat bagaimana KH Ahmad Dahlan melakukan koreksi arah kiblat. Pada masa itu, arah kiblat di banyak masjid ditentukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Ketika Dahlan mengoreksi arah kiblat dengan pendekatan ilmu falak yang lebih akurat, tidak sedikit yang menuduhnya merusak tradisi. Ada yang menganggapnya terlalu berani, bahkan ada yang memandangnya sebagai bentuk pembangkangan terhadap kebiasaan masyarakat. Namun waktu membuktikan bahwa pembaruan itu justru menguatkan ketepatan ibadah. Kini, penentuan arah kiblat dengan metode ilmiah menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan menjadi standar dalam pembangunan masjid modern.

Demikian pula dalam bidang pendidikan. Muhammadiyah mendirikan sekolah modern ketika sebagian umat masih memandang pendidikan umum dengan kecurigaan. Pada masa itu, pendidikan modern dianggap sebagai sesuatu yang asing, bahkan dikhawatirkan akan menjauhkan generasi muda dari agama. Namun Muhammadiyah meyakini bahwa pendidikan adalah jalan kebangkitan umat. Sekolah-sekolah itu tidak hanya mengajarkan ilmu dunia, tetapi juga membentuk akhlak dan kesadaran keislaman. Hari ini, pendidikan Islam modern menjadi kebutuhan dan diikuti banyak pihak. Terobosan yang dulu dipertanyakan, kini menjadi bagian penting dari wajah pendidikan umat Islam di Indonesia.

Dalam bidang kesehatan, Muhammadiyah juga mengambil langkah besar dengan mendirikan layanan kesehatan umum yang berkembang menjadi rumah sakit. Pada awalnya, ada yang bertanya sinis: mengapa organisasi keagamaan mengurus urusan medis? Bukankah itu ranah negara? Namun Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah tidak hanya lewat lisan, tetapi juga melalui amal nyata. Rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kini menjadi salah satu pilar layanan kesehatan nasional, melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Dari sini kita belajar bahwa Islam berkemajuan bukan sekadar slogan, tetapi hadir dalam pelayanan yang konkret.

Menariknya, pola yang sama juga terjadi ketika Muhammadiyah mengambil peran dalam penanggulangan bencana. Ketika Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mulai aktif dalam kerja-kerja kebencanaan, muncul cibiran: ormas kok mengurus bencana, bukankah itu tugas pemerintah? Namun Muhammadiyah memahami bahwa bencana adalah persoalan kemanusiaan universal. Islam mengajarkan bahwa menolong sesama adalah panggilan iman. Dalam musibah, umat tidak boleh hanya menjadi penonton. Dakwah justru menemukan maknanya ketika hadir di tengah luka, air mata, dan penderitaan manusia.

Kerja kemanusiaan Muhammadiyah melalui MDMC dilakukan secara serius, profesional, dan konsisten. Dan hasilnya tidak kecil. Pada Oktober 2025, Emergency Medical Team (EMT) MDMC resmi diakui oleh World Health Organization (WHO) sebagai tim medis darurat pertama di Indonesia yang terverifikasi internasional, khususnya dalam kategori Level 1 Fixed (layanan rawat jalan tetap). Pengakuan ini menegaskan bahwa kerja kemanusiaan Muhammadiyah tidak hanya berbasis semangat voluntarisme, tetapi juga memenuhi standar global. Ini menjadi kebanggaan umat Islam Indonesia, sekaligus bukti bahwa amal sosial-keagamaan dapat berkontribusi besar dalam panggung kemanusiaan dunia.

Dalam konteks inilah KHGT patut dipahami. KHGT bukan sekadar soal “puasa bareng” atau “hari raya seragam.” Ia adalah ikhtiar untuk menghadirkan kepastian kalender Hijriah bagi umat Islam di era modern. Dunia hari ini bergerak dengan sistem waktu yang presisi. Kalender Masehi dapat diprediksi jauh ke depan. Sementara kalender Hijriah sering kali baru diputuskan menjelang hari pelaksanaan ibadah. Akibatnya, umat terus menghadapi kebingungan tahunan, bahkan tidak jarang memunculkan kegaduhan sosial yang melelahkan.

Muhammadiyah memandang bahwa umat Islam membutuhkan sistem kalender yang lebih mapan, terukur, dan dapat direncanakan. KHGT dipandang sebagai jalan menuju keteraturan itu. Dengan kalender global, umat dapat mengetahui jauh hari kapan Ramadhan dimulai, kapan Idul Fitri tiba, dan kapan Idul Adha dilaksanakan. Masjid dapat menyusun agenda, sekolah dapat mengatur libur, negara dapat merancang kebijakan, dan umat merasakan kepastian dalam ibadah. Ini bukan semata soal administrasi, tetapi soal bagaimana umat Islam menata waktu sebagai bagian dari identitas peradabannya.

Tentu, diskusi KHGT tetap berada dalam wilayah ijtihad. Perbedaan metode antara hisab dan rukyat telah hidup dalam tradisi Islam sejak lama. Karena itu, dialog harus dibangun dengan saling menghormati, bukan saling merendahkan. Perbedaan pandangan tidak boleh berubah menjadi perpecahan, karena tujuan utamanya adalah sama: menjalankan syariat dengan sebaik-baiknya. KHGT seharusnya dipandang sebagai ikhtiar kolektif umat untuk mencari titik temu, bukan sebagai alasan untuk memperlebar jarak.

Pada akhirnya, KHGT adalah bagian dari pergulatan umat Islam untuk menjawab tantangan zaman dengan tetap berpijak pada prinsip agama. Muhammadiyah, dengan tradisi tajdidnya, memilih untuk mengambil peran dalam ikhtiar tersebut. Sejarah telah mengajarkan bahwa pembaruan yang lahir dari ilmu dan kemaslahatan sering kali membutuhkan waktu untuk diterima. Namun jika tujuannya adalah persatuan umat, keteraturan ibadah, dan kemajuan peradaban Islam, maka KHGT patut terus didiskusikan secara jernih dan dewasa.

Karena dakwah, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling cepat dipuji, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat. Dan Muhammadiyah, sejak awal, telah memilih jalan itu: jalan tajdid, jalan amal, dan jalan kemaslahatan umat. KHGT adalah salah satu bagian dari ikhtiar panjang tersebut, sebuah upaya menata waktu agar ukhuwah umat semakin erat, bukan semakin renggang.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Kasih Sayang Tidak Adil, Birth Order dalam Perspektif Islam Oleh: Ratna Arunika, Anggota Ais....

Suara Muhammadiyah

17 November 2025

Wawasan

Oleh: Muhammad Ridha Basri Pada awalnya, hujan itu terdengar seperti biasanya. Irama yang akrab bag....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Wawasan

Blue Economy dari Sudut Pandang Islam Oleh: Amrullah, Dosen Perbankan Syariah, Universitas Ahmad Da....

Suara Muhammadiyah

18 July 2024

Wawasan

Oleh: Gunawan Trihantoro. Sekretaris Forum Kreator Era AI (FKEAI) Provinsi Jawa Tengah dan AMM ....

Suara Muhammadiyah

11 November 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Al-Qur`an diturunkan secara ber....

Suara Muhammadiyah

12 April 2024