Khutbah Idul Fitri Kemenangan Melawan Nafsu Digital: Mengembalikan Marwah Silaturahmi
Oleh: Agus Triyono, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta
اَﻟْﺣَﻣْدُ ِِ+ اﻟﱠذِى أَﻧْزَلَ اﻟْﻛِﺗَﺎبَ ﺗِﺑْﯾَﺎﻧًﺎ ﻟِﻛُلِّ ﺷَﻲْءٍ وَھُدًى وَﻧُوْرًا وَﺑُﺷْرَى ﻟِﻠْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾْنَ. أَﺷْﮭَدُ أَنْ ﻻﱠ إِٰﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ُﷲ وَﺣْدَهُ ﻻَ ﺷَرِﯾْكَ ﻟَﮫُ، وَأَﺷْﮭَدُ أَ ﱠن ﻣُﺣَ ﱠﻣدًا ﻋَﺑْدُهُ وَرَﺳُوْﻟُﮫُ، أَﻟﻠﱣﮭُ ﱠم ﺻَلِّ وَﺳَﻠِّمْ ﻋَﻠَﻰ ﻧَﺑِﯾِّﻧَﺎ ﻣُﺣَ ﱠﻣدٍ وَﻋَﻠَﻰ آﻟِﮫِ وَأَﺻْﺣَﺎﺑِﮫِ أَﺟْﻣَﻌِﯾْنَ. أَ ﱠﻣﺎ ﺑَﻌْدُ: ﻓَﯾَﺎ ﻋِﺑَﺎدَ ِﷲ، أُوْﺻِﯾْﻛُمْ وَإِﯾﱠﺎيَ ﺑِﺗَﻘْوَى ِﷲ ﻓَﻘَدْ ﻓَﺎزَ اﻟْﻣُﺗﱠﻘُوْنَ . ﻗَﺎلَ ُﷲ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ, ﻗَدْ أَﻓْﻠَﺢَ اﻟْﻣُؤْﻣِﻧُونَ . اﻟﱠذِﯾنَ ھُمْ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﮭِمْ ﺧَﺎﺷِﻌُونَ . وَاﻟﱠذِﯾنَ
ھُمْ ﻋَنِ اﻟﻠﱠﻐْوِ ﻣُﻌْرِﺿُونَ
ُﷲ أَﻛْﺑَرُ، ُﷲ أَﻛْﺑَرُ، ﻻَ إِٰﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ُﷲ وَُﷲ أَﻛْﺑَرُ، ُﷲ أَﻛْﺑَرُ وَ ِ ﱠِc اﻟْﺣَﻣْدُ. ُﷲ أَﻛْﺑَرُ ﻛَﺑِﯾْرًا، وَاﻟْﺣَﻣْدُ ِ ﱠِc .ﻛَﺛِﯾْرًا، وَﺳُﺑْﺣَﺎنَ ا ﱠِc ﺑُﻛْرَةً وَأَﺻِﯾْﻼً. ﻻَ إِٰﻟَﮫَ إِ ﱠﻻ ُﷲ وَُﷲ أَﻛْﺑَرُ، ُﷲ أَﻛْﺑَرُ وَ ِ ﱠِc اﻟْﺣَﻣْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pertama-tama, kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan kepada kita untuk dapat melaksanakan puasa Ramadhan tahun ini dan juga Shalat Iedul Fitri sebagai pertanda berakhirnya bulan Ramadhan. Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabatnya. Semoga kita semua, di akhir zaman nanti mendapatkan syafaat dari berliau sehingga dapat bersama berkumpul di jannah Allah SWT.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT, hari ini kita berada di hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Salah satu yang sunnah yang begitu mengakar adalah praktik silaturahmi yang ada di masyarakat kita melalui tradisi mudik. Untuk itu, mari kita merenungkan kembali kata Silaturahmi yang mulai kehilangan makna. Secara etimologi, kata ini berasal dari dua akar kata, yaitu Shilah yang berarti sambungan, dan Rahm yang berarti kasih sayang atau rahim. Maka, silaturahmi bukan sekadar ritual saling mengunjungi, melainkan upaya sadar untuk menyambungkan kembali aliran kasih sayang yang mungkin sempat tersumbat oleh jarak, waktu, atau kesibukan duniawi.
Namun, jamaah sekalian, apa yang kita saksikan hari ini? Mudik sering kali hanya menjadi ajang Ziarah, sekadar berkunjung secara fisik, tanpa ada proses Wushul yaitu sampainya rasa dan sambungnya hati.
Kita telah memindahkan raga kita dari perantauan ke kampung halaman, namun jiwa kita masih tertinggal di hiruk-pikuk dunia digital. Pertemuan di ruang tamu sering kali menjadi
sunyi, bukan karena tidak ada orang, tetapi karena setiap orang sibuk dengan dunianya sendiri di balik layar gawai. Inilah silaturahmi yang pincang. Kita dekat secara jarak, namun sejatinya kita sedang membangun tembok pengasingan di tengah kebersamaan.
Allah SWT memerintahkan kita untuk menyambung hati, bukan sekadar memindahkan raga. Dalam sebuah hadis yang sangat penting untuk kita renungkan hari ini, Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah penyambung silaturahmi itu orang yang hanya membalas kunjungan (setimpal), akan tetapi penyambung silaturahmi yang sejati adalah orang yang jika terputus hubungan rahimnya, ia segera menyambungnya kembali." (HR. Bukhari).
Hadis ini memberikan teguran keras bagi kita. Jika kita duduk berdampingan dengan saudara, namun perhatian kita terputus karena asyik dengan notifikasi ponsel, bukankah kita sedang membiarkan hubungan itu tetap terputus?
Menyambung silaturahmi adalah proses "menjahit" kembali perasaan. Menjahit membutuhkan konsentrasi, membutuhkan tatapan mata, dan membutuhkan kehadiran tangan yang aktif. Kita tidak akan pernah bisa menjahit kembali hubungan yang renggang jika mata kita terus menunduk menatap layar, dan tangan kita terus sibuk menggeser beranda media sosial.
Maka, tanyakanlah pada diri kita masing-masing di hari yang fitri ini: Apakah kita datang ke kampung halaman untuk menyambung kasih sayang, ataukah kita hanya sekadar datang untuk memindahkan tempat kita bermain ponsel?
Jamaah Shalat Idulfitri yang dirahmati Allah,
Kita baru saja meninggalkan bulan Ramadhan, bulan di mana kita ditempa untuk mengendalikan nafsu. Kita mampu menahan lapar dan dahaga, kita mampu bangun di sepertiga malam, dan kita mampu mengekang amarah. Ramadhan adalah medan tempur untuk meraih gelar Muttaqin. Namun, sungguh sebuah ironi yang memilukan jika setelah kita dinyatakan "menang" melawan nafsu yang besar, kita justru tersungkur kalah oleh godaan sebuah layar kecil dalam genggaman tangan kita.
Di hari yang mulia ini, sering kali kita terjebak dalam apa yang disebut Al-Qur'an sebagai Al-Laghwi—yaitu perbuatan atau perkataan sia-sia yang tidak mendatangkan manfaat, baik untuk dunia maupun akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al- Mu’minun ayat 1-3 sebagai ciri orang beriman yang meraih kemenangan:
ﻗَدْ أَﻓْﻠَﺢَ اﻟْﻣُؤْﻣِﻧُونَ . اﻟﱠذِﯾنَ ھُمْ ﻓِﻲ ﺻَﻼَﺗِﮭِمْ ﺧَﺎﺷِﻌُونَ . وَاﻟﱠذِﯾنَ ھُمْ ﻋَنِ اﻟﻠﱠﻐْوِ ﻣُﻌْرِﺿُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna."
Ketika kita duduk di hadapan orang tua yang telah senja, yang matanya mulai rabun karena usia, namun mereka tetap berusaha menatap wajah kita dengan penuh rindu, lalu kita justru asyik menatap layar ponsel untuk melihat updatekehidupan orang lain, di situlah kita terjebak dalam Laghwi. Kita membuang waktu yang sakral untuk sesuatu yang fana.
Ingatlah jamaah sekalian, Idulfitri bukan hanya urusan Hablum minallah (hubungan dengan Allah), tapi juga pembuktian Hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia). Ada Haqqul Adami atau hak sesama manusia yang sedang kita zalimi saat kita asyik dengan gawai di tengah keluarga.
Apa hak mereka? Hak mereka adalah didengarkan, hak mereka adalah diperhatikan, dan hak mereka adalah dimuliakan kehadirannya. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadis:
"Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya."(HR. Tirmidzi).
Setiap detik yang kita habiskan untuk menggeser layar (scrolling) demi memuaskan rasa penasaran pada dunia maya, sementara di samping kita ada ibu yang ingin bercerita atau ayah yang ingin berbagi nasihat, adalah detik-detik pengabaian hak. Jangan sampai di hari kemenangan ini, catatan amal kita justru ternoda oleh sikap dingin kita kepada orang-orang tercinta hanya karena urusan digital yang bisa ditunda.
Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu meletakkan dunia (gawai) di saku kita, dan menghadirkan kasih sayang sepenuhnya di hadapan orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pepatah jauh di mata tapi dekat di hati kini berubah menjadi dekat di mata, jauh di hati. Di era digital, paradok pepatah diatas ini menjadi gambaran nyata dari perilaku kita saat berkumpul bersama keluarga. Secara fisik, kita ada di ruang tamu. Secara jarak, kita hanya terpaut beberapa inci dari orang tua dan saudara. Namun secara batin, kita terpisah jarak ribuan kilometer karena perhatian kita tersedot sepenuhnya ke dalam dunia maya.
Saat kita berada berkumpul bersama keluarga, tempat perhatian kita seharusnya adalah pada wajah-wajah mereka, bukan pada layar gawai. Ketika kita lebih menghargai
komentar orang asing di media sosial daripada suara saudara kandung yang ada di depan mata, kita sedang melakukan kezaliman terhadap hak-hak ukhuwah.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur'an Surah Luqman ayat 18:
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong)..."
Ayat ini secara tekstual melarang kita memalingkan wajah karena sombong. Namun secara maknawi, menunduk terus-menerus menatap ponsel saat orang lain berbicara kepada kita adalah bentuk modern dari "memalingkan wajah". Itu adalah isyarat bahwa layar di tangan kita jauh lebih berharga daripada manusia yang sedang berbicara dengan kita. Ini adalah bentuk kesombongan digital yang sering tidak kita sadari.
Bayangkan perasaan seorang ibu yang telah menyiapkan hidangan kesukaan kita dengan tangan yang mulai gemetar, namun saat hidangan disajikan, kita justru sibuk mencari sudut foto terbaik demi sebuah konten, lalu setelah itu kembali membisu dengan gawai masing-masing. Di mana letak syukur kita? Di mana letak penghormatan kita?
Ingatlah, setiap pandangan mata dan perhatian yang kita berikan kepada orang tua dengan rasa kasih sayang adalah ibadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa melihat wajah orang tua dengan pandangan kasih sayang bernilai pahala haji yang mabrur. Jangan sampai pahala besar itu terampas hanya karena kita lebih memilih menatap cahaya biru dari layar gawai yang kering akan makna.
Hari ini, mari kita sadari bahwa kehadiran fisik tanpa kehadiran jiwa adalah sebuah kepura-puraan. Jangan biarkan keluarga kita merasa kesepian di tengah keramaian hanya karena kita semua "pulang" tapi tidak pernah benar-benar "sampai".
Jamaah Shalat Idulfitri yang dimuliakan Allah,
Lalu, bagaimanakah seharusnya kita bersikap di tengah kepungan godaan teknologi ini? Jawaban terbaik adalah dengan kembali meneladani manusia yang paling mulia akhlaknya, Nabi kita Muhammad SAW. Rasulullah bukan hanya teladan dalam urusan ibadah ritual, tetapi beliau adalah guru terbaik dalam urusan adab berkomunikasi dan menghargai sesama manusia.
Jika kita melihat riwayat tentang bagaimana Rasulullah SAW berinteraksi dengan para sahabat, kita akan menemukan sebuah standar tinggi dalam menghargai manusia. Dalam kitab Syama’il Muhammadiyah karya Imam Tirmidzi, digambarkan adab beliau:
"Apabila beliau berpaling (menoleh), beliau berpaling dengan seluruh badannya."
Artinya, Rasulullah SAW tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan perhatian. Beliau tidak menoleh hanya dengan lirikan mata atau sekadar memutar leher sementara tubuhnya menghadap ke arah lain. Beliau memutar seluruh tubuhnya, memberikan dada dan wajahnya secara utuh kepada lawan bicara.
Bayangkan jika adab ini kita terapkan saat ini: kita meletakkan ponsel, mematikan layarnya, lalu memutar seluruh tubuh kita menghadap orang tua atau saudara yang sedang berbicara. Hal sederhana ini akan memberikan rasa dihargai yang luar biasa bagi mereka. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Isra ayat 53:
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (paling baik)..."
Berkata yang "lebih baik" bukan hanya soal pilihan kata, tetapi juga soal bagaimana kata itu disampaikan—dengan penuh perhatian dan kehadiran jiwa. Lawan bicara kita akan merasakan apakah kita sedang benar-benar bersamanya atau pikiran kita sedang melanglang buana di dunia maya.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadis riwayat Al-Hakam:
"Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengerti hak-hak orang yang lebih tua di antara kami."
Salah satu hak terbesar orang tua dan sesepuh kita di hari Idulfitri ini adalah didengarkan dengan khusyuk. Mereka tidak butuh kita memamerkan kesuksesan di media sosial; mereka hanya butuh kita hadir, duduk di samping mereka, menatap mata mereka, dan mendengarkan cerita-cerita lama mereka dengan penuh rasa hormat.
Menghadirkan jiwa dalam setiap pertemuan adalah bentuk nyata dari akhlak nubuwah. Maka, jadikanlah momen setelah shalat Id ini sebagai latihan untuk memuliakan manusia. Jangan biarkan layar ponsel menjadi "tuhan kecil" yang merampas hak-hak kerabat kita untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang kita secara utuh.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Sebagai penutup khotbah yang mulia ini, mari kita bawa pulang satu komitmen nyata. Idulfitri adalah hari kembali ke fitrah, dan fitrah manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan sentuhan batin, bukan sekadar interaksi digital.
Marilah kita canangkan "Puasa Gawai" atau pembatasan penggunaan ponsel selama kunjungan silaturahmi berlangsung. Gunakanlah ponsel secukupnya hanya untuk
mengabari atau mendokumentasikan momen sesingkat mungkin, kemudian kembalilah fokus pada manusia yang ada di hadapan Anda.
Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-Ashr:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."
Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi karena menghabiskan waktu yang terbatas bersama keluarga dengan hal-hal yang sia-sia di dunia maya. Waktu bersama orang tua adalah waktu yang tidak akan pernah bisa kita beli kembali dengan jumlah followers atau likes sebanyak apa pun.
Semoga Allah SWT melembutkan hati kita, menjauhkan kita dari sifat lalai karena dunia digital, dan menjadikan pertemuan kita dengan keluarga sebagai pertemuan yang mendatangkan ridha-Nya.
Doa Penutup Khotbah Idulfitri
اَﻟْﺣَﻣْدُ ِ ﱠِc رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾْنَ. ﺣَﻣْدًا ﯾُوَاﻓِﻲْ ﻧِﻌَﻣَﮫُ وَﯾُﻛَﺎﻓِﺊُ ﻣَزِﯾْدَهُ ﯾَﺎ رَﺑﱠﻧَﺎ ﻟَكَ اﻟْﺣَﻣْدُ ﻛَﻣَﺎ ﯾَﻧْﺑَﻐِﻲْ ﻟِﺟَﻼَلِ وَﺟْﮭِكَ اﻟْﻛَرِﯾْمِ وَﻋَظِﯾْمِ ﺳُﻠْطَﺎﻧِكَ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﻏْﻔِرْ ﻟِﻠْﻣُﺳْﻠِﻣِﯾنَ وَاﻟْﻣُﺳْﻠِﻣَﺎتِ، وَاﻟْﻣُؤْﻣِﻧِﯾنَ وَاﻟْﻣُؤْﻣِﻧَﺎتِ، اﻷَْﺣْﯾَﺎءِ ﻣِﻧْﮭُمْ وَاﻷَْﻣْوَاتِ، إِﻧﱠكَ ﺳَﻣِﯾﻊٌ ﻗَرِﯾبٌ ﻣُﺟِﯾبُ اﻟدﱠﻋَوَاتِ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﺟْﻌَلْ ﻋِﯾدَﻧَﺎ ھَذَا ﻋِﯾداً ﻣُﺑَﺎرَﻛﺎً، وَﺗَﻘَﺑﱠلْ ﻣِﻧﱠﺎ ﺻِﯾَﺎﻣَﻧَﺎ وَﻗِﯾَﺎﻣَﻧَﺎ وَﺻَﺎﻟِﺢَ أَﻋْﻣَﺎﻟِﻧَﺎ. اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم أَﻟِّفْ ﺑَﯾْنَ ﻗُﻠُوﺑِﻧَﺎ، وَأَﺻْﻠِﺢْ ذَاتَ ﺑَﯾْﻧِﻧَﺎ، وَاھْدِﻧَﺎ ﺳُﺑُلَ اﻟ ﱠﺳﻼَمِ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﻻَ ﺗَﺟْﻌَلْ اﻟدﱡﻧْﯾَﺎ أَﻛْﺑَرَ ھَﻣِّﻧَﺎ، وَﻻَ ﻣَﺑْﻠَﻎَ ﻋِﻠْﻣِﻧَﺎ. اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ﻻَ ﺗَﺟْﻌَلْ ھَذِهِ اﻷَْﺟْﮭِزَةَ وَاﻟْﺟَ ﱠواﻻَتِ ﺣِﺟَﺎﺑﺎً ﺑَﯾْﻧَﻧَﺎ وَﺑَﯾْنَ أَھْﻠِﻧَﺎ وَأَﻗْرِﺑَﺎﺋِﻧَﺎ. اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم ارْزُﻗْﻧَﺎ ﺣُﺿُورَ اﻟْﻘَﻠْبِ ﻓِﻲ ﻟِﻘَﺎﺋِﻧَﺎ، وَﺑَﯾَﺎنَ اﻟْوُدِّ ﻓِﻲ ﻛَﻼَﻣِﻧَﺎ، وَﻧُورَ اﻟْﻌَطْفِ ﻓِﻲ ﻧَظَرَاﺗِﻧَﺎ
اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﻏْﻔِرْ ﻟِوَاﻟِدِﯾﻧَﺎ، وَارْﺣَﻣْﮭُمْ ﻛَﻣَﺎ رَﺑﱠوْﻧَﺎ ﺻِﻐَﺎراً. اﻟﻠﱠﮭُ ﱠم اﺟْﻌَﻠْﻧَﺎ أَﺑْﻧَﺎءً ﺑَرَرَةً، ﯾُﻘْﺑِﻠُونَ ﻋَﻠَﯾْﮭِمْ ﺑِوُﺟُوھِﮭِمْ وَﻗُﻠُوﺑِﮭِمْ، ﻻَ ﯾَﺷْﻐَﻠُﮭُمْ ﻋَﻧْﮭُمْ ﺷَﺎﻏِلٌ ﻣِنْ زِﯾﻧَﺔِ اﻟدﱡﻧْﯾَﺎ وَﻻَ ﻣِنْ ﻟَﮭْوِ اﻟ ﱠﺷﺎﺷَﺎتِ
رَﺑﱠﻧَﺎ آﺗِﻧَﺎ ﻓِﻲ اﻟدﱡﻧْﯾَﺎ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻓِﻲ اﻵْﺧِرَةِ ﺣَﺳَﻧَﺔً وَﻗِﻧَﺎ ﻋَذَابَ اﻟﻧﱠﺎرِ. ﺳُﺑْﺣَﺎنَ رَﺑِّكَ رَبِّ اﻟْﻌِ ﱠزةِ ﻋَ ﱠﻣﺎ ﯾَﺻِﻔُونَ، وَﺳَﻼَمٌ ﻋَﻠَﻰ اﻟْﻣُرْﺳَﻠِﯾنَ، وَاﻟْﺣَﻣْدُ ِ ﱠِc رَبِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻣِﯾنَ
"Ya Allah, ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa-doa."
"Ya Allah, jadikanlah hari raya kami ini hari yang penuh keberkahan. Terimalah ibadah puasa kami, shalat malam kami, dan seluruh amal saleh kami. Ya Allah, tautkanlah hati- hati kami, damaikanlah perselisihan di antara kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan."
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai batas akhir ilmu kami. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan gawai dan perangkat digital ini menjadi hijab (penghalang) antara kami dengan orang tua, keluarga, dan kerabat kami. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehadiran hati saat kami bertemu, ungkapan kasih sayang dalam ucapan kami, dan cahaya kelembutan dalam tatapan mata kami."
"Ya Allah, ampunilah kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mendidik kami di waktu kecil. Ya Allah, jadikanlah kami anak-anak yang berbakti, yang menghadap kepada mereka dengan wajah dan hati kami sepenuhnya, tanpa teralihkan oleh perhiasan dunia maupun kelalaian di layar- layar ponsel."
"Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Memiliki Keagungan dari apa yang mereka sifatkan. Salam sejahtera bagi para Rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
