Oleh: Qaem Aulassyahied, Anggota MTT PP Muhammadiyah dan Dosen Ilmu Hadis UAD dan PUTM
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَه إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَىِ السَّاعَةِ ، مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ ، وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَقَدْ غَوَى. نَسْأَلُ اللَّهَ رَبَّنَا أَنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يُطِيعُهُ وَيُطِيعُ رَسُولَهُ وَيَتَّبِعُ رِضْوَانَهُ وَيَجْتَنِبُ سَخَطَهُ فَإِنَّمَا نَحْنُ بِهِ وَلَهُ, }يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا (۷٠) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا }
Jama’ah Jumat raḥimakumullāh
Allah menempatkan alam semesta ini secara seimbang, yang dengan keseimbangan tersebut seluruh makhluk, termasuk manusia, dapat hidup secara baik dan makmur. Dalam al-Quran, surah al-Hijr ayat 19 Allah swt berfirman:
وَالْاَرْضَ مَدَدْنٰهَا وَاَلْقَيْنَا فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُوْنٍ
Bumi telah kami hamparkan dan memancangkan padanya gunung-gunung, dan menumbuhkan di sana segala sesuatu menurut ukurannya.
Dengan keseimbangan ini, maka segala yang ada di alam telah terukur, presisi, terdistribusi secara adil dan proporsonal dan akan selalu memberi manfaat serta mencukupi kebutuhan manusia. Karena itu juga, kepada manusia, khalifah di muka bumi ini, Allah memberi ultimatum agar tidak merusak keseimbangan tersebut.
Jamaah sekalian yang berbahagia
Sebagai bukti dari keseimbangan alam salah satunya adalah Allah menciptakan energi di muka bumi. Energi, adalah sumber kekuatan yang Allah ciptakan yang dengannya seluruh makhluk termasuk manusia dapat hidup dan berkehidupan. Dengan demikian, energi menjadi satu unsur penting yang menopang kehidupan di alam semesta ini.
Terkait energi ini, paling tidak ada enam macam energi yang termuat dalam firman Allah: 1) matahari (syams), 2) bumi (ardh), 3) lautan (bahr), 4) angin (rih), 5) air (ma`), dan 6) tumbuhan (nabat/syajar).
Dalam konteks zaman sekarang, keseluruhan narasi energi di dalam al-Quran mengindikasikan dua klasifikasi energi. Pertama energi yang tidak terbarukan, yaitu sumber energi yang berasal dari bahan bakar fosil seperti batu-bara, minyak bumi dan gas alam. Jenis energi ini disebut tidak terbarukan karena ketersediaannya terbatas dan terus berkurang serta pada akhirnya akan habis.
Kedua, energi terbarukan, yaitu energi yang berasal dari sumber yang secara alami dapat diperbaharui atau dapat dipulihkan dalam waktu yang relative singkat. Sifat keterbaruan ini melekat karena sejatinya ketika kita memanfaatkan energinya, kita tidak mengurangi sumber energi tersebut. Termasuk di dalam jenis ini adalah sinar matahari yang menghasilkan energi surya, energi angin, dan energi air yang sering kita sebut sebagai hidro.
Jamaah sekalian yang berbahagia
Sayangnya, umat manusia hingga detik ini masih sangat bergantung kepada hanya satu jenis energi yaitu energi tidak terbarukan, sementara potensi energi terbarukan belum dimanfaatkan secara optimal dan maksimal. Hal ini misalnya saja bisa kita lihat dari program pemerintah yang menargetkan buauran energi 23% di tahun 2030, namun hingga oktober 2025 target bauran ini baru mencapai 14,4%.
Tentu pemanfaatan yang timpang ini akhirnya pasti akan melahirkan konsekuensi negatif. Efek negatif paling pertama yang pasti akan terjadi adalah kehabisan cadangan energi yang tidak terbarukan, jika kita hanya memanfaatkan sisi energi itu saja. Ketimpangan pemanfaatan energi juga berakibat buruk pada lingkungan kita.
Untuk itu jamaah sekalian, sebagai khalifatullah fil-ardh kita perlu memiliki kesadaran segera untuk mengatasi ketimpangan pemanfaatan energi ini dengan melakukan Langkah-langkah konkret. Di antara Langkah tersebut adalah mengupayakan terus konversi energi yang sejatinya sudah diwariskan ajarannya oleh Nabi saw.
Pertama adalah Rasulullah saw mengajarkan kita untuk hemat dan tidak berlaku boros dalam menggunakan energi di alam. Dalam sebuah hadis:
Dari Abdullah bin Amr r.a., sesungguhnya Nabi Muhammad saw. melewati Sa’ad yang sedang berwudhu, lalu Nabi berkata: "Apa ini, pemborosan wahai Sa’ad?" Sa’ad bertanya: "Apakah dalam wudhu ada pemborosan?" Beliau bersabda: "Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir."
Bentuk konversi yang kedua, adalah selalu berusaha mencari sumber energi lain, berupaya secara bertahap melakukan transisi energi, lebih memanfaatkan energi yang tidak terbarukan untuk keperluan sehari-hari yang lebih ramah lingkungan dan transisi ini dilakukan secara berkeadilan. Upaya mencari alternatif energi tersirat dalam sebuah hadis Nabi saw:
Hadis Abi Hurairah, ia berkata, seorang lelaki bertanya kepada Nabi saw. wahai Rasulullah, kami adalah pengendara perahu, dan ketika di atas perahu kami hanya membawa sedikit air minum. Jika kami menggunakan air ini untuk berwudhu, maka kami akan haus. Karena itu, apakah halal-boleh bagi kami untuk berwudhu menggunakan air laut? Nabi saw menjawab, air laut itu suci (dan mensucikan) serta bangkai hewan laut itu halal.
Ungkapan “air yang sedikit” pada hadis menjadi simbol atas sumber energi yang terbatas, sementara “air laut yang suci” adalah kiasan bagi sumber energi yang tidak terbatas. Dalam kerangka ini semangat hadis tersebut dapat dimaknai dengan perintah Nabi saw untuk turut juga memanfaatkan berbagai energi yang terbarukan untuk menanggulangi kebutuhan manusia agar tidak mengalami kekurangan yang dalam hadis disebut dengan “keadaan haus”.
Semoga dengan kedua cara ini, kita turut mengupayakan pemeliharaan keseimbangan yang Allah tetapkan di alam ini.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلكُمْ فِى الْقُرآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ .اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ .رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Sumber: Majalah SM Edisi 24/2025

