Khutbah Jum’at: Optimisme Religius Atasi Frustasi Kolektif
Oleh: Dr Eko Harianto, Dosen Prodi Psikologi UMPurworejo/Wakil Ketua PCM Sewon Utara
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin sidang Jum’at rahimakumullah
Kalender Hijriyah memasuki tahun 1448. Sebuah angka yang mungkin berlalu begitu saja dalam ingatan kita, namun sarat dengan makna pergantian waktu yang Allah abadikan dalam firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ... ٣٦
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram…” (QS At-Taubah [9]: 36).
Tahun baru adalah ayat kauniyah yang mengajak kita merenung: sudah sejauh mana kita berhijrah dari keburukan menuju kebaikan? Kita tidak bisa memungkiri bahwa langkah menuju tahun 1448 Hijriyah diiringi oleh beban psikologis yang luar biasa. Bangsa kita sedang dilanda apa yang dinamakan dalam psikologi kontemporer disebut frustrasi kolektif. Frustrasi ini lahir dari akumulasi kekecewaan terhadap realitas sosial, ekonomi, dan politik yang terasa tidak kunjung membaik. Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, ketidakpastian hukum, polarisasi yang menyisakan luka, serta rasa lelah menghadapi banjir informasi yang sebagian besar negatif, semua itu menciptakan semacam kabut asap jiwa. Kabut yang membuat kita sulit melihat jalan keluar.
Di sinilah, pesan tahun baru Hijriyah menjadi sangat relevan. Tahun baru Hijriyah bukanlah sekadar resolusi tanpa makna. Hijrah, secara bahasa, berarti berpindah. Secara syariat, hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju apa yang diridhai-Nya. Tapi di kedalaman jiwa, hijrah adalah sebuah lompatan psikologis: dari keputusasaan menuju optimisme yang bertumpu pada Allah. Inilah yang kita sebut optimisme religius.
Optimisme religius berbeda dengan optimisme awam yang hanya mengandalkan data empiris atau keberuntungan. Optimisme religius adalah keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan ada kemudahan, sebagaimana janji Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6. Pengulangan ayat ini menunjukkan jaminan ganda dari Allah. Optimisme religius juga lahir dari keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar dan tidak akan menyia-nyiakan amal kebaikan sekecil apa pun. Ini adalah spiritual coping yang paling kuat. Dalam psikologi Islam disebut tawakkal yang aktif, bukan pasrah tanpa usaha, tetapi berserah setelah berikhtiar maksimal.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita melihat bagaimana optimisme religius ini menjadi obat penawar bagi frustrasi kolektif kita. Pertama, optimisme religius mengubah cara kita memaknai masalah. Optimisme religius mengubah cara kita memaknai masalah. Dalam psikologi kognitif, frustrasi tidak disebabkan oleh peristiwa itu sendiri, melainkan oleh keyakinan irasional kita terhadapnya. Jika kita meyakini hidup harus selalu mudah dan negara harus sempurna, maka setiap ketidaksempurnaan terasa sebagai bencana. Namun jika kita meyakini dengan iman bahwa dunia ini ladang ujian dan setiap kesulitan bisa menjadi pelebur dosa serta peningkat derajat, maka beban mental kita menjadi lebih ringan. Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim). Sabar di sini bukan kepasrahan statis, melainkan ketahanan dinamis yang mengolah kesusahan menjadi energi positif.
Kedua, optimisme religius melahirkan sense of meaning yaitu rasa memiliki makna.Viktor Frankl, psikiater penyintas Holocaust, menulis dalam bukunya Man’s Search for Meaning bahwa yang selamat dari kamp konsentrasi bukan yang terkuat secara fisik, melainkan yang punya alasan kuat untuk terus hidup. Dalam Islam, alasan itu jelas: hidup untuk beribadah kepada Allah. Frustrasi kolektif muncul karena kita terlalu fokus pada “bagaimana” (kaya, aman, dihormati) tanpa merenungkan “mengapa” yang lebih dalam. Di tahun baru 1448 ini, mari redefinisi kesuksesan: bukan saat harga turun atau presiden pilihan menang, melainkan mampu mempertahankan iman dan takwa di tengah fitnah. Dengan makna ini, tekanan eksternal tak lagi menghancurkan jiwa karena kebahagiaan kita berpindah dari hal fana menuju ridha Allah yang kekal.
Ketiga, optimisme religius mendorong aksi kolektif yang konstruktif. Optimisme religius mendorong aksi kolektif yang konstruktif. Salah satu bahaya frustrasi kolektif adalah learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari), yaitu kondisi ketika seseorang merasa apa pun yang dilakukannya tidak akan mengubah keadaan sehingga ia berhenti berusaha. Namun optimisme religius mengingatkan pada hadis tentang kewajiban mengubah kemungkaran, setidaknya dengan hati. Islam tidak mengajarkan pasrah total. Di tahun baru ini, mari wujudkan optimisme religius dalam gerakan-gerakan kecil yang masif: berjujur dalam berdagang, mengajar mengaji, menjadi relawan kebersihan, atau menyebarkan konten positif. Gerakan kecil dengan niat hijrah akan menjadi sutradara perubahan besar, karena Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Jamaah Jumat rahimakumullah
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana konkretnya menyulam harapan di tahun 1448 Hijriyah? Pertama, kita perlu melakukan audit psikologis atas diri sendiri. Seberapa besar porsi berita buruk yang kita konsumsi setiap hari? Seberapa sering kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain yang tampak sempurna di media sosial? Seberapa kuat rasa tidak berdaya yang kita rasakan? Hijrah di tahun baru bisa dimulai dengan membatasi konsumsi informasi yang menimbulkan doomscrolling (kebiasaan terus-menerus menggulir berita buruk). Ganti dengan membaca Al-Qur’an beserta tafsirnya, mendengarkan kajian yang menyejukkan, atau sekadar duduk merenungkan nikmat Allah yang tak terhitung: masih bisa bernapas, masih punya keluarga, masih diberi kesempatan untuk shalat Jumat hari ini.
Kedua, aktifkan kembali support system berbasis ukhuwah. Psikologi sosial mengajarkan bahwa isolasi memperparah frustrasi. Maka bentuklah kelompok-kelompok kecil, walaupun hanya dua atau tiga orang yang rutin saling mengingatkan dalam kebaikan. Di sana, ceritakan keresahan, tapi akhiri dengan doa bersama dan rencana aksi kecil. Rasulullah membangun masyarakat Madinah bukan dengan instruksi top-down semata, tetapi dengan ikatan persaudaraan yang kuat antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di tahun 1448 Hijriyah, kita butuh ukhuwah revival—kembali merajut silaturahmi yang sempat renggang akibat pilihan politik atau perbedaan pendapat. Ingatlah, setan senang melihat umat Islam berpecah belah. Jangan beri setan hadiah di tahun baru ini.
Ketiga, tanamkan kebiasaan gratitude journaling versi Islam: setiap malam, sebelum tidur, sebutkan tiga nikmat Allah yang kita rasakan hari ini, lalu ucapkan Alhamdulillah. Dalam psikologi positif, praktik bersyukur terbukti meningkatkan hormon dopamin dan serotonin—zat alami dalam otak yang memicu rasa bahagia. Lebih dari itu, dalam Islam, syukur adalah kunci tambahan nikmat: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim [14]: 7). Latihan bersyukur ini akan merombak pola pikir dari scarcity mindset (merasa selalu kekurangan) menjadi abundance mindset (merasa cukup dengan apa yang ada), sehingga frustrasi karena ketimpangan sosial tidak lagi melumpuhkan jiwa.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Di penghujung khutbah ini, mari kita renungkan sejenak. Setiap tahun baru Hijriyah, banyak dari kita yang terbiasa membuat resolusi, misalnya: akan lebih rajin shalat, akan lebih banyak sedekah, akan berhenti dari perbuatan maksiat. Itu semua baik. Namun, di tahun 1448 ini, tambahkan satu resolusi lagi: menjadi agen optimisme religius. Sebarkan harapan, bukan kepanikan. Sebarkan solusi, bukan keluhan. Sebarkan ukhuwah, bukan kebencian. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa menyulam kembali kain peradaban yang mulai robek oleh frustrasi kolektif. Allah tidak akan mengubah nasib bangsa ini kecuali kita—umatnya—bertekad mengubah cara berpikir dan bertindak.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
Sumber: Majalah SM Edisi 11/2026

