Khutbah Jum'at: Pelajaran Kisah Nabi Musa vs Firaun di Hari Asyura
Oleh: Muhammad DN, S.Ag, MHI, Ketua PDM Hulu Sungai Tengah-Kalimantan Selatan
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
وَلَقَدْ أَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لَّا تَخَافُ دَرَكًا وَلَا تَخْشَىٰ
Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah!
Bulan Muharram memiliki makna penting bagi umat Muslim karena menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriyah. Bulan ini menyimpan dua momen yang sangat dihormati dan diperingati oleh umat Islam, yaitu peringatan tahun baru Hijriah pada tanggal 1 Muharram dan Hari Asyura yang jatuh setiap tanggal 10 Muharram.
Peringatan tahun baru Hijriyah pada tanggal 1 Muharram biasanya dijadikan medium introspeksi dan refleksi. Kaum muslimin menyambut Muharram dengan semangat kebangkitan dan harapan baru untuk meningkatkan amal ibadah serta mendekatkan diri pada Allah.
Menurut Haidar Nashir, umat Islam menyambut tahun baru 1448 dengan ragam seremonial yang bersifat syiar. Aktivitas simbolik semacam itu tentu sangat positif, namun lebih dari itu, dalam menyambut tahun baru Islam diperlukan muhasabah sekaligus refleksi mendalam yaitu bagaimana umat Islam menghidupkan spirit atau semangat hijrah yang menjadi inspirasi utama kelahiran tahun baru tersebut untuk membangun kekuatan umat Islam di berbagai bidang kehidupan yang masih belum berkembang. Karena esensi utama hijrah adalah perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan umat, baik individual terlebih yang bersifat kolektif berjamaah. Hijrah mengandung makna perubahan dari keadaan umat Islam yang tertinggal kepada kemajuan yang lebih baik dan berdampak luas.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah!
Selain tahun baru Islam, bulan Muharram identik pula dengan Hari Asyura, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Pada hari tersebut, umat Islam melaksanakan puasa untuk menahan haus dan lapar sebagai bentuk penghormatan dan ibadah. Seputar asal-usul puasa Asyura, ada asumsi yang menyebutkan bahwa puasa ini sebenarnya bukan berasal dari tradisi orisinil umat Islam, melainkan merupakan adaptasi dari ibadah umat Yahudi. Asumsi ini diperkuat oleh hadis Ibnu Abbas:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Nabi Saw ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) melaksanakan puasa hari ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; “Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Lalu Nabi Musa As sebagai wujud syukur kepada Allah”. Maka Beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka”. Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Beliau untuk mempuasainya”. (HR. Bukhari).
Berdasarkan hadis di atas terdapat keterangan bahwa pada 10 Muharram Musa dan Bani Israel berhasil meraih kemenangan gemilang atas Fir’aun dan bala tentaranya. Kemenangan ini menjadi momentum penting dalam sejarah orang-orang Yahudi, sehingga mereka menyebutnya sebagai Hari Suci.
Selain puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram, Nabi Muhammad Saw juga memberikan anjuran untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasua. Hadis tentang anjuran puasa di tanggal 9 Muharram tercatat dalam riwayat Ibnu Abbas.
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا : حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Abdullah bin Abbas Ra berkata saat Rasulullah Saw berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah Saw bersabda: “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari ke sembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba, hingga Rasulullah Saw wafat”. (HR. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah!
Nabi Muhammad Saw bersabda ketika ditanya tentang puasa Asyura:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya:
“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Asyura bukan hanya tentang puasa. Asyura adalah tentang simbol pelajaran besar dari pertarungan iman melawan kezaliman. Pertarungan Nabi Musa melawan Firaun. Setidaknya ada 4 pelajaran berharga untuk kita tentang peristiwa tersebut di tahun 1448 ini Hijriah yaitu:
Pertama; Makna tauhid dan tawakal. Saat Bani Israil terjepit, di depan lautan, di belakang tentara Firaun. Mereka panik lalu berkata: إِنَّا لَمُدْرَكُونَ, “Kita pasti akan tersusul.” Apa jawab Nabi Musa?
قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Pernyataan ini adalah yang tauhid. Dan tawakkal. Di saat semua jalan buntu, orang beriman itu tidak mengatakan “selesai”. Seorang yang beriman akan menyatakan “Allah bersama aku”.
Kedua; Manfaat sabar di tengah tekanan.
Firaun itu simbol kezaliman, kesombongan, dan penguasa yang mengaku “aku tuhanmu yang paling tinggi”: QS An-Nazi’at: 24. Bani Israil sudah puluhan tahun ditindas. Anak laki-laki dibunuh, perempuan dibiarkan hidup untuk jadi budak. Tapi Nabi Musa tidak melawan dengan kekerasan dulu. Beliau berdakwah, bersabar, berdialog. Sampai batas akhir baru Allah perintahkan hijrah. Ini pelajaran: sabar bukan berarti diam menerima maksiat. Sabar artinya tetap di jalan Allah sambil ikhtiar.
Ketiga; Pelajaran bahwa pertolongan Allah datang di detik terakhir.
Laut di depan, musuh di belakang. Secara logika manusia, Bani Israil akan mati. Tapi Allah berfirman: فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا “Pukullah laut itu, jadilah jalan kering”. Mukjizat itu datang setelah ikhtiar dan kepasrahan penuh. Tongkat dipukulkan, kaki melangkah. Allah tidak membelah laut sebelum Musa bergerak. Artinya: tidak menunggu keajaiban sambil duduk diam. Lakukan bagian kita, Allah yang akan buka jalan yang tidak pernah kita sangka. Inilah pesan untuk kita semua yang sedang punya utang menumpuk, usaha seret, modal kerja tidak punya, banyak masalah, anak susah dididik, menderita sakit yang lama. Gambaran laut di depan kita. Tetapi dengan mengingat kisah Asyura, maka jika Allah bersama kita, lautan pun bisa jadi jalan.
Keempat; Contoh iktibar bahwa kezaliman pasti punya batas.
Firaun dengan seluruh bala tentaranya, lengkap dengan kereta perang terbaik zaman itu, akhirnya tenggelam. Kezaliman adakalanya menang terlebih dahulu, kesombongan bisa terjadi puluhan tahun. Tapi akhirnya Allah yang menentukan. Allah Maha Kuasa. Peristiwa Ini menjadi hiburan untuk orang terzalimi, dan peringatan keras untuk yang suka berbuat zalim bahwa jabatan, harta, dan kekuasaan tidak akan menyelamatkan dari adzab Allah Swt.
Demikianlah khutbah ini disampaikan, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
.بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
ٱلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
ٱللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
ٱللّٰهُمَّ ٱغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَاتِ، وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَاتِ، ٱلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَٱلْأَمْوَاتِ.
ٱللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلتُّقَىٰ وَٱلْعَفَافَ وَٱلْغِنَىٰ.
ٱللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا ٱلَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا ٱلَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا ٱلَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
ٱللّٰهُمَّ ٱجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ ٱلصَّالِحِينَ، وَٱجْعَلْنَا مِنَ ٱلَّذِينَ يُحَافِظُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا.
ٱللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا ٱلْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَٱحْفَظْ بِلَادَنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

