Kiprah Buya Zainoel Abidin Syoe’aib (ZAS) Menyuburkan Muhammadiyah
Oleh: Efri Yoni, Dosen UM Sumbar
Zainoel Abidin Syoe'aib atau yang dikenal dengan Buya ZAS adalah anggota Konstituante dari Fraksi Masyumi yang terpilih pada Pemilu 1955. Sebelum duduk di parlemen, ZAS berkiprah sebagai Konsul Muhammadiyah di Bengkulu. Setelah meninggalkan politik praktis pasca dibubarkannya Masyumi oleh rezim Soekarno, ZAS kembali ke Sumatera Barat dan terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat. Selain itu, ZAS juga dikenal sebagai pendakwah dan penulis handal baik di media massa lokal maupun nasional.
ZAS dilahirkan tahun 1913 di Galapung, Kenagarian Tanjung Sani, Tanjung Raya, Agam. Ayahnya bernama Sjoe’aib St Mangkuto (Suku Malayu) sedangkan ibunya Aisyah (Suku Chaniago dibawah payung Datuk Sinaro Panjang). Kedua orang tuanya berasal dari Jorong Galapung di tepian Danau Maninjau.
Ayah Sjoe’aib bekerja sebagai petani. Tidak lama kemudian, dia berpindah profesi sebagai pedagang kain yang berdagang sampai ke Lampung. ZAS merupakan anak ke-3 dari 8 bersaudara yaitu: 1) Abdurrahim Sjoe’aib, 2) Burhanuddin Sjoe’aib, 3) Zainoel Abidin Sjoe’aib (ZAS), 4) Siti Aisyah Sjoe’aib, 5) Dalipah Sjoe’aib, 6) Syarikam Sjoe’aib, 7) Intan Zaman Sjoe’aib, dan 8) Bakhtiar Sjoe’aib.
Pada tahun 1928, ZAS meninggalkan Galapung ke Padang Panjang untuk menimba ilmu di Thawalib dan melanjutkan ke “Tabligh School” yang dipimpin HAMKA. Dalam perkembangannya, sekolah ini bermetamorfosis menjadi “Kulliyatul Mubalighien”. Di sekolah berasrama inilah ZAS menimba pengetahuan agama sekaligus dididik sebagai kader Muhammadiyah. Di asrama itu pula, dia sekamar dengan HAMKA sehingga hubungan mereka tidak hanya sebatas guru dengan murid tapi juga sebagai sahabat karib.
Tidak hanya itu, atas anjuran HAMKA tahun 1928, ZAS juga bergabung dengan Muhammadiyah Afdelling Padang Panjang sehingga terlibat aktif dalam gerakan dakwah Muhammadiyah bersama dengan HAMKA.
Setelah menimba ilmu di “Kulliyatul Mubalighien”, ZAS diminta mengajar di sekolah tersebut sekaligus sebagai aktivis Muhammadiyah yang militan.
Sejak siswa, ZAS banyak terlibat dalam berbagai kegiatan Kepanduan dan Kelasykaran. Pada tahun 1939, dia terpilih sebagai Menteri Daerah Hizbul Wathan (HW) Minangkabau yang setara dengan Kwartir Daerah HW Sumatera Barat. Kepanduan HW yang didirikan oleh HR Hadjid di Yogyakarta tersebut merupakan organisasi di bawah Muhammadiyah. Selama kepemimpinannya, ZAS menyelenggarakan Jambore HW Minangkabau di Ngarai Sianok (Anai Gloofd) selama seminggu.
Pada tahun 1940, bersama dengan HAMKA, ZAS diutus Muhammadiyah Afdelling Padang Panjang mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta. Pada tahun 1950, ZAS diutus oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke Bengkulu untuk mengembangkan Muhammadiyah. ZAS berstatus sebagai guru yang beralamat di Kampung Tionghoa, Bengkulu. Dua tahun kemudian, ZAS terpilih sebagai Konsul Muhammadiyah Bengkulu tahun 1952, menggantikan Oey Tjeng Hien atau Abdul Karim Oey.
ZAS menikah pertama kali dengan Aisyah yang berasal dari Pandan, Sungai Batang tahun 1940. Dalam pernikahan ini mereka dikaruniai 2 orang anak laki-laki, bernama Hisyam dan Fahmi. Anak bungsu mereka meninggal dunia pada saat masih kecil. Sang isteri, Aisyah kemudian meninggal dunia tahun 1948. Tidak lama ditinggal isteri, ZAS menikah bulan November 1952 dengan Latifah Hanum yang berasal dari Batuhampar, dekat Payakumbuh. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai 6 orang anak yaitu: Rahmi, Muhammad Saqid, Muhammad Sabir, Maisarah, Evawafda, dan Muhammad Luthfi.
Pada Pemilu pertama tahun 1955, ZAS terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Masyumi (KTA Nomor: 109). Usai dewan ini dibubarkan, ZAS pulang kampung, terjun sebagai penggerak Muhammadiyah. ZAS didapuk menerajui “kapal” Muhammadiyah Sumatera Barat selama 12 tahun sejak terpilih sebagai Ketua PWM Sumatera Barat pada bulan Januari 1972, menggantikan HAK Dt. Gunung Hijau. Usai periode pertama berakhir pada bulan Januari 1982, ZAS masih diberikan kepercayaan memimpin Muhammadiyah sampai wafatnya. Kepemimpinannya dilanjutkan oleh H. Hasan Ahmad tahun 1983 sampai 1984.
Sebagai seorang penulis, ZAS pernah menerbitkan buku berjudul “Salaam Rahmat dan Barakat” yang diterbitkan oleh Penerbit Umar Hasan Mansoor di Bandung tahun 1962. Tulisannya banyak dimuat di koran lokal seperti “Haluan” dan “Singgalang” maupun media nasional seperti “Panji Masyarakat” dan “Suara Muhammadiyah”.
Sebagai kader Muhammadiyah yang militan, ZAS aktif menjadi motor penggerak Muhammadiyah ke berbagai daerah di Indonesia. Selama menakhodai Muhammadiyah, ZAS dan keluarganya berpindah-pindah domisili. Sebut diantaranya Padang Panjang, Maninjau, Pilubang Pariaman, Belawan (Sumatera Utara), Kerinci (Jambi), Muara Enim (Sumatera Selatan), Bengkulu, Bandung (Jawa Barat), terakhir kembali ke kampung halamannya di Sumatera Barat.
Salah satu jasa besarnya adalah memimpin penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-39 tahun 1975 di Padang. Kesuksesan perhelatan akbar ini seolah mengulang kesuksesan Kongres Muhammadiyah ke-19 tahun 1930 di Bukittinggi. Padahal menjelang muktamar, Masjid Taqwa tempat lokasi sekretariat panitia tiba-tiba runtuh tanggal 6 Januari 1975.
Usai Muktamar, ZAS segera bergerak untuk membangun kembali Masjid Taqwa Padang melalui penggalangan dana dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam setiap kesempatan dakwahnya, ZAS dikenal lihai mengetuk pintu hati kaum Muslimin untuk mengeluarkan infak, sadakah guna menyelesaikan pembangunan masjid.
Sebelumnya, ZAS juga memelopori berdirinya Masjid “Ansharullah Muhammadiyah“ yang terletak di pusat Kota Payakumbuh. Pendirian masjid ini diawali tahun 1965, saat itu Muhammadiyah di kabupaten ini berusia 40 tahun.
Buya ZAS meninggal dunia tanggal 10 Maret 1983, dalam usia 70 tahun dan dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta (EYB).
Referensi: Efri Yoni Baikoeni, 2022. “Masjid Boleh Runtuh, Iman Tidak Boleh Goyah: Biografi Buya H. Zainoel Abidin Sjoe’aib (ZAS) Ketua PWM Sumatera Barat 1971-1983”, Padang: UMSB Press.

