Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (5)

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

187
Istimewa

Istimewa

Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (5)

Oleh: Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, Masjid dan Pesantren PWM Sulawesi Barat

Jumat, 26 Juni 2026

Saya terbangun ketika suara azan menggema dari kejauhan. Refleks saya melihat jam.

Dalam hati saya berkata, "inalillahi... jangan-jangan saya kesiangan." Maklum, selama ini saya terbiasa bangun jauh sebelum azan Subuh. Namun ketika layar ponsel saya menyala, saya justru tersenyum.Pukul 03.00 dini hari. Saya baru tersadar...Saya sedang berada di Solo. Kota yang pernah menempa sebagian perjalanan hidup saya. 

Di kota inilah saya kembali mendengar tradisi yang sudah lama tidak saya jumpai. Azan pertama, bukan azan Subuh. Melainkan azan yang dikumandangkan sebagai panggilan lembut agar kaum muslimin bangun menunaikan tahajud. Suara itu seakan membawa saya kembali menjadi mahasiswa dua puluh tahun silam. Waktu boleh berlalu, akan tetapi suara azan itu tetap sama. Masih setia membangunkan orang-orang yang rindu bermunajat kepada Allah di sepertiga malam. Saya pun segera beranjak, mandi, berwudhu, lalu berdiri menghadap kiblat.Tahajud, tilawah, dzikir.Sebuah rutinitas sederhana yang selalu saya usahakan untuk menjaga agar hati tetap hidup sebelum menjalani kesibukan dunia.

Tak lama kemudian adzan Subuh benar-benar berkumandang. Saya membangunkan Ahmad Dahlan. "Bangun Nak... kita ke masjid." Ia mengusap matanya pelan, lalu tersenyum kecil. Beberapa menit kemudian kami sudah berjalan menuju Masjid KH. Mas Mansur di kompleks Pesma UMS.

Udara Solo pagi itu begitu sejuk. Langit masih gelap. Pepohonan di sekitar masjid bergoyang pelan ditiup angin. Suasana yang selalu saya rindukan. Jamaah Shubuh belum terlalu banyak. Sebagian besar penguhuni asrama, dan peserta lain yang baru datang dinihari tampaknya masih beristirahat setelah perjalanan panjang dari berbagai daerah di Indonesia. Saya hanya sempat berbincang dengan peserta asal Pontianak, Kalimantan Barat, mas Viki dan mas Kholid, Obrolan kami sederhana. Tentang perjalanan, tentang daerah asal dan tentu tentang harapan mengikuti ToT.

Selepas Subuh saya tidak langsung kembali ke kamar. Saya mengajak Ahmad Dahlan berjalan santai mengelilingi kawasan kampus. Setiap sudut jalan menghadirkan kenangan. Saya tahu... Tak jauh dari Pesma tinggal seorang sahabat lama. Pak Mahmudi namanya. Tanpa banyak berpikir saya mengajak Ahmad Dahlan menuju rumah beliau. Tok... Tok...Tok...Assalamu alaikum

Pintu rumah diketuk.,.wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarokaatuh,.Tak lama kemudian pintu terbuka. Begitu melihat saya berdiri di depan rumahnya, wajah beliau langsung berubah penuh kegembiraan. "Ustadz Furqan...!"

Kami berjabat tangan erat. Lalu saling berpelukan. Pertemuan yang sederhana akan tetapi hangatnya mampu menghapus jarak belasan tahun yang telah memisahkan kami. Beliau langsung berkata, "Sudah... jangan lama-lama di sini. Kita ngobrol sambil makan soto." Saya langsung tertawa. Kalimat itu khas orang Solo. Kalau sudah bertemu, rasanya kurang lengkap kalau belum makan bersama. Kami pun meluncur menuju sebuah warung soto di kawasan Colomadu.

Begitu semangkuk soto panas tersaji di depan saya, seketika kenangan masa mahasiswa kembali memenuhi ingatan. Soto Solo memang berbeda. Kuahnya bening, nasinya sudah menyatu di dalam mangkuk. Lauk pendampingnya beragam. Ada sate usus, sate telur puyuh, ati ampela, tahu bakso, tempe goreng. Dan aneka gorengan yang saya kurang hafal semua apa namanya, yang jelas  semuanya menggoda selera. Ditambah segelas jeruk hangat, makin maksyuss,..

Pagi itu terasa begitu sempurna. Saya selalu percaya bahwa setiap kota memiliki rasa. Dan rasa Solo, bagi saya, selalu identik dengan semangkuk soto hangat di pagi hari. Di tengah kami menikmati sarapan, mata saya tertuju kepada seorang yang baru saja masuk ke warung. Saya memandang beberapa detik. Rasanya wajah itu tidak asing. Ketika beliau semakin dekat, hati saya makin mengenal beliau. Prof. Taufik Kasturi. Dosen, Guru dan sekaligus co-promotor saya ketika menempuh program doktor di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Saya segera berdiri dan menghampiri beliau. bersalaman erat Lalu kami berpelukan. Tidak lama kemudian hadir pula Prof. Farid Wajdi, Direktur Pascasarjana UMS.Warung soto akhirnya  menjadi ruang temu yang penuh kenangan. Di sana tidak ada jarak antara guru dan murid, yang ada hanyalah kehangatan, candaan, tawa, daan rasa syukur kerana Allah masih mempertemukan kami dalam keadaan sehat.

Setelah kembali ke Pesma, sebuah pesan WhatsApp masuk. Pengirimnya adalah Pak Dodi, Kepala Seksi Mentoring Lembaga Pengembangan dan Pengkajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMS. Isi pesannya singkat.

"Pak Doktor, mohon berkenan menjadi imam dan khatib Shalat Jumat di Masjid Fadhlurrahman Kampus 1 UMS.saget njih?"

Saya membaca pesan itu beberapa kali. Lalu saya menjawab singkat. "Bismillah., Njih Insya Allah siap."

Hati saya kembali bergetar. Saya datang ke Solo sebagai peserta ToT. Namun Allah kembali memberi amanah untuk berdiri di mimbar kampus yang dahulu menjadi tempat saya belajar. Betapa indah cara Allah mempertemukan seorang hamba dengan masa lalunya.

Menjelang pukul sebelas siang, saya dan Ahmad Dahlan memesan Grab motor menuju Kampus 1 UMS. Begitu memasuki Masjid Fadhlurrahman, begitu banyak kenangan berputar dalam kepala. Di sinilah dulu saya sering menjadi makmum dan menjadi rohisnya masjid ini,.sangat banyak kenangan di masjid ini ketika saya dulu menjadi mahasiswa S1 di kampus ini ,rapat, makan hingga nginap di masjid ini merupakan rutinitas yang biasa kami lakukan,.apalagi apabila ada event event tertentu.

Hari ini... Allah mengizinkan saya berdiri sebagai khatib.Di antara jamaah saya masih mengenali beberapa wajah. Ada Prof. Kuswaji, ada Pak Tri. Beberapa dosen senior dan beberapa pegawai lama. Namun lebih banyak lagi wajah-wajah baru. Usai shalat Jumat, kami berbincang sejenak. Mereka mengabarkan bahwa beberapa dosen yang dahulu mengajar saya kini telah pensiun. Sebagian lagi bahkan telah lebih dahulu dipanggil menghadap Allah.

Saya terdiam sejenak, waktu benar-benar berjalan tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun. Dulu saya duduk mendengarkan mereka mengajar. Kini...Sebagian telah tiada. Dan roda kehidupan terus berputar.Saat itulah saya berkata dalam hati,"Ya Allah... jangan hanya panjangkan umur kami. Panjangkan pula kebermanfaatannya."

Kami segera kembali ke Pesma. Pesan di grup WhatsApp panitia sudah mengingatkan bahwa pembukaan ToT akan dimulai tepat waktu. Ruang aula kini telah dipenuhi peserta dari berbagai provinsi.

Seragam LPCRPM Muhammadiyah dengan beragam warna daerah memenuhi ruangan. Saya memandang sekeliling. Ada dari Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra,  Jawa, Bali . Dan banyak daerah lainnya.

Semuanya datang dengan satu tujuan. Memakmurkan masjid. Betapa indahnya Muhammadiyah.Ia mempertemukan orang-orang dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia dalam satu ikatan perjuangan. Pembukaan berlangsung sangat khidmat.

Ketika Bapak  Dahlan Rais memberikan tausiah, ruangan menjadi sangat hening.

Beliau tidak banyak bersuara lantang. Tidak pula menggunakan retorika yang berlebihan. Namun setiap kalimatnya terasa masuk ke dalam hati. Beliau mengingatkan tentang pentingnya keikhlasan.

Mengutip pesan Imam Al-Ghazali yang sering disampaikan Kiai Ahmad Dahlan,

"Manusia semuanya binasa kecuali yang berilmu. Yang berilmu pun lalai kecuali yang mengamalkan. Yang mengamalkan pun berada dalam bahaya kecuali mereka yang ikhlas."

Saya menundukkan kepala, sebenarnya kalimat itu sebenarnya sudah sering saya baca. Namun malam itu terasa berbeda. Karena keluar dari lisan orang yang telah menghidupinya. Saya semakin yakin... Nasihat yang paling kuat bukanlah yang paling indah susunan katanya. Tetapi yang lahir dari kehidupan orang yang mengamalkannya.

Suasana kemudian berubah penuh semangat ketika Pak Jamaludin Ahmad sang ketua LPCR Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil mikrofon.

Beliau memimpin yel-yel khas LPCR PM.

"Masjiiid!"

Serentak seluruh peserta menjawab,

"Makmur memakmurkan!"

Beliau kembali berseru,

"Masjiiid!"

Jawaban kembali menggema,

"Dari masjid kita bangkit!"

Sekali lagi beliau mengangkat tangan.

"Masjiiid!"

Kali ini seluruh ruangan bergemuruh,

"Apa pun masalahnya... masjid solusinya!"

Saya melihat wajah-wajah peserta berbinar. Semangat itu menular dan  Energi itu hidup.

Saya memahami mengapa beliau begitu dicintai kader-kader LPCR. Karena beliau tidak hanya berbicara tentang memakmurkan masjid. Beliau telah menjadikan semangat itu sebagai jalan hidupnya.

Malam ditutup dengan materi oleh Ki Kusnadi Al-Ikhawani, Master Trainer Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah. Beliau membedah kurikulum, menjelaskan arah besar akademi, dan berkisah bagaimana Masjid Al-Falah Sragen tumbuh menjadi salah satu masjid percontohan Muhammadiyah.

Materi terasa ringan. Penuh humor, penuh pengalaman dan penuh inspirasi. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00

Hari pertama ToT pun berakhir. Saya kembali ke kamar, disana sudah hadir teman sekamar dari Papua.

Kami saling berkenalan, saling bertukar cerita, lalu sama-sama beristirahat.  Sebelum memejamkan mata, saya memandang langit-langit kamar cukup lama. Hari ini saya bertemu sahabat, bertemu guru, bertemu amanah, bertemu keluarga besar Muhammadiyah dari seluruh penjuru negeri. Dan saya kembali diyakinkan bahwa... Allah selalu mempertemukan orang-orang yang sedang berjuang di jalan yang sama.

Bersambung...


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerpen R Toto Sugiharto  Saya tersesat. Terpisah dari kawan-kawan. Kami baru survei untuk loka....

Suara Muhammadiyah

23 February 2024

Humaniora

Sapi Kurban Oleh: Wahyudi Nasution Sudah lama sekali Pak Bei tidak berjumpa dengan sahabatnya yang....

Suara Muhammadiyah

4 May 2026

Humaniora

Kang Dayat, Pak Guru yang Bermanfaat Sepanjang Hayat Oleh: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM Bantul K....

Suara Muhammadiyah

31 October 2025

Humaniora

Kontribusi Sutrimo untuk Muhammadiyah Oleh: Shubhi Mahmashony Harimurti, Dosen Universitas Islam In....

Suara Muhammadiyah

12 July 2026

Humaniora

Kisah Perjalanan Mengikuti ToT Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (5) Oleh: Furqan Mawardi, Ketua L....

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah