Ramadan dan EcoJihad: Jalan Iman Merawat Bumi
Oleh: Hening Parlan dan Dani Wahyu Munggoro(*
Krisis iklim hari ini bukan lagi sekadar isu lingkungan. Ia telah menjelma menjadi krisis peradaban. Kenaikan suhu bumi, meningkatnya frekuensi bencana ekologis, serta kerusakan ekosistem yang meluas menunjukkan bahwa manusia sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlanjutan kehidupan di planet ini. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mendasar muncul: bagaimana iman dapat berperan dalam memulihkan bumi?
Buku EcoJihad: Sepenggal Narasi Islam, Perempuan, dan Lingkungan Hidup hadir sebagai refleksi sekaligus panggilan moral bagi umat manusia, khususnya umat Islam, untuk melihat kembali hubungan antara iman dan tanggung jawab ekologis. Buku ini mengingatkan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memperlakukan alam selama ini. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, sistem ekonomi yang ekstraktif, serta pola pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis telah membawa bumi pada kondisi yang mengkhawatirkan.
Dalam pengantar buku tersebut bahkan disebutkan bahwa kondisi bumi saat ini telah memasuki fase yang sangat kritis, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai code red for humanity—kode merah bagi kemanusiaan. Artinya, krisis iklim bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung dan membutuhkan respon serius dari seluruh umat manusia.
Al-Qur’an sebenarnya telah lama memberikan peringatan mengenai hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan alam. Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini memberikan dasar teologis yang kuat bahwa kerusakan lingkungan bukanlah takdir semata, tetapi konsekuensi dari tindakan manusia. Karena itu, upaya memulihkan bumi juga merupakan tanggung jawab moral manusia.
Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan bukan sekadar sebagai penghuni bumi, tetapi sebagai khalifah, penjaga yang bertanggung jawab merawat keseimbangan alam. Al-Qur’an menegaskan:
“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Konsep khalifah ini memiliki makna yang sangat mendalam. Ia menegaskan bahwa manusia memiliki amanah untuk menjaga keberlanjutan kehidupan di bumi. Ketika manusia justru merusak alam, maka sesungguhnya ia telah menyimpang dari tugas spiritualnya. Dalam kerangka ini, menjaga lingkungan bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi juga bagian dari manifestasi iman. Merawat bumi menjadi bagian dari ibadah.
Salah satu kekuatan buku ini adalah penekanannya pada peran perempuan dalam gerakan ekologis. Perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan kehidupan. Mereka sering berada di garis depan dalam menghadapi dampak perubahan iklim, terutama dalam urusan pangan, air, dan kesehatan keluarga. Karena itu, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam gerakan penyelamatan lingkungan.
Dalam buku ini juga muncul metafora yang kuat tentang “Ibu Bumi.” Alam dipandang sebagai ibu yang memberi kehidupan. Ketika alam dirusak, sesungguhnya manusia sedang menyakiti sumber kehidupan itu sendiri. Metafora ini mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam bukanlah hubungan eksploitasi, melainkan hubungan perawatan dan tanggung jawab.
Selain konsep EcoJihad, buku ini juga memperkenalkan gagasan EcoHijrah—sebuah perubahan cara pandang dan gaya hidup menuju kehidupan yang lebih selaras dengan alam. EcoHijrah mengajak manusia untuk berpindah dari ketidakpedulian menuju kesadaran ekologis, dari pola hidup yang merusak menuju pola hidup yang merawat.
Perubahan ini tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari: mengurangi sampah, menjaga air, menghemat energi, serta membangun komunitas yang peduli lingkungan. Dalam perspektif spiritual, tindakan kecil ini adalah bagian dari ibadah yang mencerminkan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Berikut adalah catatan reflektif Dani Wahyu Munggoro, Pendiri Inspirasi Tanpa Batas membaca buku EcoJihad sebagai sebuah manifesto optimisme ekologis. Dalam resensinyabeliau menuliskan Jihad Memulihkan Bumi. Menurutnya buku EcoJihad adalah oase. Isinya menyegarkan di tengah kegerahan krisis iklim. Hening tak sekadar meratap. Ia mengajak kita melihat potensi besar: kekuatan iman sebagai mesin pemulihan bumi. Bagi saya, ini bukan sekadar refleksi. Ini instrumen fasilitasi. Menjembatani teks suci dengan aksi nyata. Mengubah gelisah menjadi harapan terorganisir.
Kenapa penganut agama taat tidak otomatis jadi ekologis? Jawabannya: hegemoni penafsiran. Foucault benar. Pengetahuan berkelindan dengan kekuasaan. Selama ini, tafsir dominan memisahkan antara urusan akhirat (fardlu 'ain) dan dunia (fardlu kifayah). Narasi kelestarian jadi marjinal. Bumi cuma dianggap komoditas. Inilah mata rantai yang putus (missed link). Harus disambung dengan Islam yang utuh (kaffah).
Logika pemulihan ini makin kuat di ranah kuantum. Ada prinsip keterikatan (entanglement). Zikir dan tindakan kecil merawat alam beresonansi langsung ke struktur semesta. Kita tak pernah benar-benar terpisah. Manusia itu khalifatullah. Tugasnya penjaga (guardian), bukan penguasa (ruler). Kita harus meruntuhkan hegemoni antroposentrisme yang melegitimasi perusakan atas nama pembangunan.
Istilah EcoJihad dipilih bukan tanpa alasan. Jihad berarti kesungguhan radikal melawan ekonomi ekstraktif yang rakus. Hening menawarkan visi ekonomi restoratif sebagai tandingan hegemoni profit. Nilai iman jadi fondasi kebijakan. Ekonomi harus melingkar, bukan sekadar mengeruk. Ini panggilan suci yang militan namun damai. Mengubah “kekuasaan atas alam” menjadi “ketulusan memulihkan alam”.
Hening juga memunculkan konsep heterotopia. Inisiatif “Masjid Hijau” adalah ruang nyata di tengah masyarakat, tapi aturannya beda. Ia menjadi heterotopia yang mengoreksi kegagalan ruang publik dalam merawat alam. Di sini, perempuan atau “Ibu Bumi” adalah motor penggeraknya. Mereka memfasilitasi ruang alternatif, dari dapur hingga komunitas. Jihad ekologi di tangan mereka jadi konkret, membayangi hegemoni patriarki yang eksploitatif.
Lalu ada EcoHijrah. Sebuah undangan menuju kualitas hidup lebih damai. Ini lompatan paradigma. Pindah dari ruang ekstraktif menuju restoratif. Dari gaya hidup sampah menuju zikir yang selaras frekuensi semesta. Setiap langkah kecil adalah upaya menciptakan “surga kecil” di bumi. Nyata dan bisa dimulai sekarang melalui penguatan literasi digital untuk menghancurkan hegemoni ketidaktahuan.
EcoJihad adalah manifesto optimisme. Menjadi taat berarti membela bumi. Melalui pembentukan heterotopia di akar rumput, kita merajut kembali harmoni yang koyak. Dengan cinta dan iman, kita pastikan rumah bersama ini layak huni bagi anak cucu. Kita sedang bergerak. Dunia heterotopia itu mungkin. Another world is possible.
Pada akhirnya, membaca EcoJihad bukan sekadar membaca buku tentang lingkungan, tetapi membaca kembali makna iman dalam kehidupan manusia. Buku ini mengingatkan bahwa krisis ekologis tidak hanya membutuhkan solusi teknologis atau
kebijakan ekonomi, tetapi juga memerlukan perubahan cara pandang spiritual manusia terhadap alam. Ketika manusia kembali menyadari dirinya sebagai khalifah di bumi, maka menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan amanah keimanan.
Dalam konteks ini, EcoJihad menjadi seruan untuk membangun kesadaran baru: bahwa membela bumi adalah bagian dari membela kehidupan itu sendiri. Dari masjid, rumah tangga, komunitas, hingga ruang sosial yang lebih luas, gerakan merawat bumi dapat dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.
Sebab pada akhirnya, seperti yang diingatkan dalam semangat EcoJihad, merawat bumi bukan hanya tentang menyelamatkan alam—melainkan juga tentang memastikan bahwa rumah bersama ini tetap layak dihuni oleh generasi yang akan datang.
EcoJihad mengingatkan kita bahwa membela bumi sesungguhnya adalah bentuk cinta yang paling sederhana sekaligus paling mendalam untuk menjaga masa depan kehidupan.
*) Hening Parlan penulis Buku EcoJihad: Sepenggal Narasi Islam, Perempuan, dan Lingkungan Hidup, dan Dani Wahyu Monggoro, Founder INSIPIRIT/Inspirasi Tanpa Batas)
