Kolaborasi Siapkan Keder Unggul Persyarikatan: Sekarang Menerima, Besok Memberi

Suara Muhammadiyah

21 August 2026

104
Pentasyarufan Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026

Pentasyarufan Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam acara Pentasyarufan Beasiswa Kader Muhammadiyah 2026, Salmah Orbayinah, Ketua Umum PP Aisyiyah, berpesan bahwa keder harus memiliki setidaknya 4 kompetensi dasar dalam hidupnya. Pertama, berkompeten di bidang akademik. Hal ini dapat ditunjukkan melalui capaian prestasi di bangku pendidikan formal. Menorehkan nilai yang memuaskan pada setiap mata pelajaran yang diajarkan. 

Pada sektor ini, Salmah mendorong setiap kader memiliki daya juang yang tinggi untuk terus belajar. Memilih salah satu bidang keahlian yang disukai dan kemudian menekuninya sampai menjadi ahli di bidang tersebut. “Geluti apa saja yang kalian pilih sampai menjadi ahli,” ujar Salmah di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta (20/8).

Kedua, memiliki kompetensi di bidang keagamaan. Kader Muhammadiyah, menurutnya harus memiliki kompetensi ini sebagai landasan penguatan karakter dan kapasitas diri sebagai Muslim yang unggul dan berkemajuan. Hemat Salmah, kompetensi dalam hal agama ini dapat didorong melalui penguatan ideologi secara bertahap.

Kompetensi selanjutnya adalah kompetensi di bidang sosial. Kader dituntut memiliki kepekaan terhadap kondisi di sekitarnya. Dan itulah yang dilakukan KH Ahmad Dahlan hingga dirinya tergerak untuk mendirikan Muhammadiyah. Karena ia menyadari bahwa permasalahan umat tidak dapat diselesaikannya seorang diri. Maka dibutuhkan sebuah gerakan kolektif untuk memberikan dampak yang lebih besar.

Dan yang terakhir adalah kompetensi kepemimpinan. Menurutnya setiap kader memiliki tanggung jawab untuk memimpin. Memimpin tidak harus dimulai dari struktur tertinggi, tapi dapat dimulai dari memimpin diri sendiri. Dan kemudian meningkat ke jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi.

“Program pentasyarufan ini bukan sekedar serah terima, tapi nantinya juga akan ada program-program penguatan kompetensi kepemimpinan,” tegasnya dalam forum yang berlangsung berkat kerjasama antara MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Lazismu, dan PT GKBI Investment.

Menurutnya, beasiswa adalah tahap awal bagi kader untuk menerima privilege sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Sebelum nantinya akan memberi kepada masyarakat dari kepetensi yang telah dikuasai.

“Inilah siklus kader, hari ini menerima, tapi suatu saat nanti akan memberi,” ungkapnya.

Presiden Direktur PT GKBI Investment, dalam sebuah forum bersama kader Muhammadiyah menegaskan bahwa nilai yang dibangun Muhammadiyah memiliki kesamaan dengan DNA GKBI, terutama dalam semangat kemitraan dan kebermanfaatan. Kolaborasi tidak semestinya dibangun hanya untuk kepentingan kelompok atau organisasi masing-masing, tetapi diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

“Bermitra itu untuk saling bermanfaat, bukan untuk kelompoknya masing-masing, tetapi untuk kebermanfaatan yang lebih luas,” ujarnya.

Menurut Edy, kekuatan kolaborasi menjadi penting di tengah arus zaman. Persatuan akan membuat setiap elemen memiliki daya yang lebih besar, sementara berjalan sendiri-sendiri justru membuat kekuatan menjadi terbatas.

“Kita bersatu, kita akan kuat. Kalau sendiri-sendiri, kita akan lemah. Itulah pentingnya kolaborasi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa hubungan antara Muhammadiyah dan dunia usaha bukan sesuatu yang baru. Jika ditarik ke belakang, banyak saudagar pada masa awal bangsa ini berdiri berasal dari kalangan Muhammadiyah. Tradisi kewirausahaan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang dapat terus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian dan kebermanfaatan persyarikatan.

Di hadapan para kader, Edy juga memberikan sebuah “payung” sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan. Payung tersebut, katanya, adalah empat sifat utama yang harus dimiliki seorang kader, yakni siddiq, tabligh, amanah, dan fathanah.

Menurutnya, empat nilai tersebut harus menjadi bekal yang terus dibawa kader, termasuk ketika mereka telah menyelesaikan proses perkaderan dan terjun ke tengah masyarakat.

“Begitu keluar dari Muhammadiyah, pegang payung itu,” pesannya.

Lebih jauh, Edy menekankan bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari pencapaian material. Ada nilai keberkahan yang membuat seseorang mampu merasakan kecukupan dan menjadikan apa yang dimiliki memiliki manfaat bagi orang lain.

“Keberkahan itu memberikan kita rasa cukup,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa gerakan ekonomi dan kewirausahaan harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai keislaman dan kebermanfaatan sosial. Muhammadiyah dan dunia usaha, khususnya GKBI diharapkan dapat terus membangun ekosistem kolaboratif yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada kemajuan umat. (diko)

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Gelar IHT Pembelajaran Mendalam dan Asesmen HOTS MANGGARAI TIMUR, Suara Muhammadiyah – D....

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Tim dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung melaksanakan Pro....

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

Berita

PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Gerakan Haji Muda Bersama BTM yang merupakan  kemitraan antara....

Suara Muhammadiyah

25 September 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) dengan penuh khidmat meny....

Suara Muhammadiyah

18 September 2025

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – di Banyuwangi, sebuah pengajian akbar diselenggarakan dengan ....

Suara Muhammadiyah

11 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah