Kontrol Diri Kunci Perencanaan Keuangan Gen Z

Suara Muhammadiyah

13 May 2026

221

Dosen UMY: Jangan Sampai Uang Cuma Numpang Lewat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perencanaan keuangan menjadi salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan kondisi pemasukan yang belum stabil, generasi Z dinilai perlu mulai memahami pentingnya financial planning sejak dini agar tidak terjebak pada kondisi “besar pasak daripada tiang”.

Planning is bringing the future into the present. Artinya kita memotret masa depan ke kondisi hari ini supaya kita tahu apa yang harus dilakukan sekarang,” ujar Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph.D., pakar ekonomi dan keuangan syariah UMY saat diwawancarai di Gedung AR Fachruddin A UMY, Rabu (13/05/2026).

Menurut Dimas, langkah pertama dalam perencanaan keuangan adalah memahami kondisi finansial diri sendiri melalui financial profile. Seseorang perlu mengetahui apakah dirinya berada dalam kategori sejahtera, semi sejahtera, kurang sejahtera, atau tidak sejahtera berdasarkan perbandingan antara pendapatan dan pengeluaran.

Ia menjelaskan, kondisi ideal adalah ketika pendapatan berada di atas biaya hidup sehingga seseorang masih memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun membangun dana darurat. Sebaliknya, kondisi paling berbahaya terjadi ketika biaya hidup justru lebih besar dibanding pemasukan.

“Kalau cost lebih tinggi daripada income, tingkat kemakmuran kita akan menurun. Makanya penting membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” jelasnya.

Dimas juga menekankan pentingnya financial check sebagai kontrol kesehatan keuangan. Dalam praktiknya, generasi muda disarankan membagi pemasukan ke dalam tiga pos utama, yakni living, saving, dan refreshing. Pos living mencakup kebutuhan hidup sehari-hari, saving untuk tabungan dan investasi, sementara refreshing bersifat opsional.

Selain itu, pengeluaran juga perlu dikontrol menggunakan rasio keuangan tertentu, seperti proporsi tabungan, investasi, dana darurat, hingga batas aman utang. Menurutnya, standar ideal utang maksimal berada di bawah 50 persen dari total pendapatan.

“Kalau income kita sudah dibagi-bagi berdasarkan posnya, berarti kita sudah punya desain keuangan. Jadi bukan hidup by accident, tapi by design,” katanya.

Lebih lanjut, Dimas menilai generasi Z perlu mulai memahami konsep time value of money, yakni nilai uang hari ini lebih berharga dibanding masa depan karena adanya inflasi. Pemahaman ini penting agar anak muda tidak hanya fokus menghabiskan uang untuk gaya hidup sesaat, tetapi juga mulai memikirkan aset jangka panjang.

Ia pun mengingatkan bahwa kemampuan mengelola uang bukan semata soal nominal pendapatan, melainkan soal kedisiplinan dan arah tujuan hidup.

“Yang paling penting itu kontrol diri dan tujuan hidup. Uang itu harus punya nilai manfaat, bukan hanya habis untuk hal-hal impulsif,” pungkasnya. (jeed)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Fokus Eksekusi Program Prioritas 2026 dan Penguatan Keluarga PANGANDARAN, Suara Muhammadiyah &ndash....

Suara Muhammadiyah

20 January 2026

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah - Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Gading I, Desa Belangwetan, Keca....

Suara Muhammadiyah

22 December 2024

Berita

BENGKULU, Suara Muhammadiyah - Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Univers....

Suara Muhammadiyah

31 May 2024

Berita

PRINGSEWU, Suara Muhammadiyah - Wakil Menteri (Wamen) Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Dr.....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fachrodin terlampau komplit jika hanya diposisikan sebagai tokoh pe....

Suara Muhammadiyah

12 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah