METRO, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyelenggarakan kegiatan Leadership Camp yang berlangsung di kawasan Edupark 29, Kota Metro. Agenda yang digelar selama dua hari, yakni Jumat hingga Sabtu 30-31 Januari 2025, merupakan hasil kolaborasi strategis antara PWM Lampung dengan Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Lampung. Kegiatan ini dirancang sebagai momentum konsolidasi organisasi di awal tahun untuk memperkuat gerak langkah persyarikatan dalam melayani umat.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 60 peserta yang terdiri dari unsur pimpinan pleno PWM, Unsur Pembantu Pimpinan (UPP), serta perwakilan Organisasi Otonom (Ortom) tingkat wilayah. Pemilihan konsep perkemahan di alam terbuka bertujuan untuk membangun suasana egaliter dan keakraban, melepaskan sejenak formalitas rapat gedung demi membangun bonding yang lebih kuat antar pimpinan.
Prof. Sudarman Ketua PWM Lampung, menjelaskan bahwa format kegiatan di alam terbuka ini diadopsi untuk menyegarkan kembali semangat pengabdian para pimpinan. Menurutnya, suasana alam membantu peserta untuk berpikir lebih jernih dalam merumuskan langkah strategis organisasi. "Agenda yang pasti adalah kita mencoba untuk sesekali mengikuti gaya Hizbul Wathan, hidup dan tidur di lapangan sembari kita merenung, kemudian berdiskusi, dan memikirkan langkah dakwah ke depan. Mudah-mudahan ikhtiar ini dicatat sebagai ibadah oleh Allah SWT," ujar Prof. Sudarman di sela-sela kegiatan.
Dalam sesi pembekalan spiritual, Prof. Sudarman juga menekankan pentingnya integritas kader dalam menghadapi dinamika sosial dan politik. Ia mengingatkan bahwa setiap pimpinan memikul amanah dakwah "Amar Ma'ruf Nahi Mungkar" yang harus dijalankan dengan kehati-hatian dan ketulusan, agar kehadiran Muhammadiyah senantiasa membawa kesejukan dan solusi. "Kader-kader Muhammadiyah ini betul-betul harus selektif, jangan sampai kita terbawa oleh situasi kondisi yang pada akhirnya akan merugikan muruah organisasi. Mari kader-kader Muhammadiyah memberikan pencerahan kepada diri kita dan masyarakat," tegas Sudarman dalam amanatnya.
Forum Leadership Camp ini juga menjadi wadah diskusi strategis lintas majelis untuk merespons kebutuhan masyarakat. Salah satu sorotan utama adalah peningkatan kualitas pendidikan agama. Majelis Tarjih dan Tajdid bersama Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) didorong untuk memperkuat kolaborasi dalam program standarisasi dan sertifikasi kompetensi bagi guru Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Langkah ini diambil untuk menjamin mutu pendidikan karakter di seluruh sekolah Muhammadiyah di Lampung.
Di sektor pemberdayaan ekonomi, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) memaparkan rencana strategis untuk mendampingi kelompok masyarakat marjinal. Fokus utama diarahkan pada pemberdayaan nelayan dan petani di kawasan pesisir, seperti Teluk Betung dan Pesisir Barat. Program ini bertujuan menciptakan kemandirian ekonomi umat melalui pendampingan yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.
Sinergi program sosial ini juga diperkuat oleh peran Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU). Dalam forum tersebut, disepakati bahwa LAZISMU akan mengoptimalkan enam pilar program pendayagunaannya melalui kolaborasi erat dengan majelis-majelis terkait. Hal ini dimaksudkan agar dana umat yang terhimpun dapat dikelola secara transparan dan berdampak langsung pada penyelesaian masalah sosial, pendidikan, dan kemanusiaan di Lampung.
Sebagai penutup, kegiatan Leadership Camp ini diharapkan dapat melahirkan figur-figur pemimpin yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan yang melayani. Bagi masyarakat luas, soliditas internal yang terbangun dari kegiatan ini menjanjikan hadirnya layanan pendidikan, sosial, dan keagamaan yang lebih responsif dan profesional dari Muhammadiyah. Dengan sinergi yang kokoh, Muhammadiyah Lampung optimis dapat terus berkontribusi aktif di lingkungan masyarakat luas. (pri)

