YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menekankan urgensi memperdalam pemahaman ke-Muhammadiyahan dan ke-Islaman untuk menggerakkan Muhammadiyah serta 'Aisyiyah tetap pada koridor pergerakannya.
Pesan ini disampaikan Haedar saat Pengajian Ramadhan 1447 H PP Muhammadiyah di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (20/2).
"Koridor itu krusial karena kita adalah pergerakan Persyarikatan bernama Muhammadiyah," ujarnya tegas.
Menurut Haedar, pemahaman mendalam soal koridor ini menjadi keniscayaan. Tanpa itu, gerakan persyarikatan hanya tampak di permukaan, tapi tak punya jangkar kuat, yang ada hanya mengikuti "state of mind" pribadi.
"Ini bisa dikonfirmasi dari pemikiran resmi yang hidup di Muhammadiyah," tambahnya.
Dalam kerangka pemikiran keislaman yang luas, Islam niscaya menjadi sumber ajaran, fondasi gerakan, bingkai, orientasi, dan nilai yang segala-galanya. Pada titik ini, kata Haedar, “pemahaman dan aktualisasi keislaman itu, berkembang secara dinamis,” sebutnya.
Di tengah lalu lintas perkembangan pemikiran keislaman, Muhammadiyah, kata Haedar, dalam kajian pemikiran keislaman dikelompokan sebagai modernisme Islam. Pun, dikenal sebagai reformisme Islam.
“Kehadiran Muhammadiyah secara sosiologis merupakan jawaban terhadap perkembangan modernisme yang melahirkan genre pemikiran dan gerakan Islam tersendiri dalam dunia Islam,” terangnya. (Cris)

