Korupsi Kian Menggurita, Bukti Nyata Lemahnya Penghayatan Takwa di Indonesia

Suara Muhammadiyah

22 June 2026

232
Dr Agung Danarto, MAg

Dr Agung Danarto, MAg

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Setiap personal umat Islam, telah diseru Allah untuk bertakwa. Adalah jelas, takwa sebagai basis fundamental dalam kehidupan, lebih-lebih dipertegas di Qs ali-Imran ayat 102.

Tapi, fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang tidak berimplikasi dengan seruan Allah sebagaimana termaktub di redaksi surat tersebut.

“Pesan ini nampaknya kurang begitu merasuk, kurang begitu dijiwai oleh umat Islam yang ada di Indonesia,” tegas Agung Danarto, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Padahal mestinya, ketakwaan ini harus mendapat basis aksentuasi yang sedemikian rupa bagi umat Islam di Indonesia. Kata Ali bin Abi Thalib, takwa itu, pertama, adalah takut kepada Allah.

“Orang yang beriman itu harus menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Karena Allah Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Menentukan Segala Sesuatu. Maka seorang manusia yang beriman harus takut,” tekannya.

Dari pada itu, muncul pertanyaan laik dikontemplasikan: apakah para pelaku korupsi tidak takut kepada Allah? Apakah pelaku cabul tidak takut kepada Allah, lebih-lebih dilakukan oleh tokoh agama sekalipun?

“Yang seperti itu, kira-kira apa masih takut kepada Allah melaksanakan (tindakan) seperti itu?” tanya Agung, Ahad (31/5) saat Pengajian Ahad Pagi Al Manar di Halaman Masjid Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo Budi Utomo, Ronowijayan, Siman, Ponorogo, Jawa Timur.

Kedua, mengamalkan isi Al-Qur’an. Yang telah menjadi kewajiban, harus diamalkan. Sementara, yang telah menjadi larangan, hendaknya dtinggalkan. “Apa yang menjadi petunjuk dilaksanakan,” ujarnya.

Ketiga, rida dengan (pemberian) yang sedikit. Disebut Agung kalau tidak banyak orang yang memiliki perangai ini. Sebagai sampel, gaji yang diterima dinilai kurang banyak hatta mencari jalan pintas, jalan yang lain untuk mendapat gaji sebagaimana dikehendaki.

“Cuma masalahnya jalan yang lain itu bukan jalan yang halal, jalan yang haram. Dia bisa terkena KPK, bisa kemudian terkena terjerat masalah hukum,” bebernya.

Di sinilah menjadi titik kontemplasi. “Kalau seseorang sudah tidak rida dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah walaupun kecil, maka menjadi sumber malapetaka,” tegasnya, sekali lagi.

Apakah kalau demikian, orang Islam tidak boleh kaya? Apakah orang rida dan ikhlas untuk diberikan yang kecil? “Rida, ikhlas harus, tetapi berusaha untuk kaya adalah hal yang lain,” sebutnya.

Tapi yang paling penting, kata Agung, adalah tawakalnya. Tawakal kepada apa pun yang telah Allah berikan. Menurutnya, ikhtiar tetap diperlukan, tetapi batas ikhtiarnya itu sebenarnya rentangnya tidak terlalu lebar.

“Kenapa? Karena Allah pada dasarnya sudah menakdirkan manusia orang pada ukurannya masing-masing,” jelasnya.

Meskipun begitu, peluangnya tetap ada dan bisa melakukan seperti itu juga berupaya mencapai hal yang diinginkan. “Tetapi butuh usaha yang luar biasa, yang sangat keras untuk bisa melakukan seperti itu,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Yogyakarta menggel....

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

Berita

METRO, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) menganugerahkan penghargaan ke....

Suara Muhammadiyah

25 February 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Studi Magister Ilmu Politik (MIPOL) FISIP Universitas Mu....

Suara Muhammadiyah

9 October 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau masa khidma....

Suara Muhammadiyah

14 February 2026

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Bertepatan dengan rencana peresmian UMLA tower, medical center dan do....

Suara Muhammadiyah

12 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah