Korupsi Kian Menggurita, Bukti Nyata Lemahnya Penghayatan Takwa di Indonesia

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
85
Dr Agung Danarto, MAg

Dr Agung Danarto, MAg

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Setiap personal umat Islam, telah diseru Allah untuk bertakwa. Adalah jelas, takwa sebagai basis fundamental dalam kehidupan, lebih-lebih dipertegas di Qs ali-Imran ayat 102.

Tapi, fakta di lapangan menunjukkan sesuatu yang tidak berimplikasi dengan seruan Allah sebagaimana termaktub di redaksi surat tersebut.

“Pesan ini nampaknya kurang begitu merasuk, kurang begitu dijiwai oleh umat Islam yang ada di Indonesia,” tegas Agung Danarto, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Padahal mestinya, ketakwaan ini harus mendapat basis aksentuasi yang sedemikian rupa bagi umat Islam di Indonesia. Kata Ali bin Abi Thalib, takwa itu, pertama, adalah takut kepada Allah.

“Orang yang beriman itu harus menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Karena Allah Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Menentukan Segala Sesuatu. Maka seorang manusia yang beriman harus takut,” tekannya.

Dari pada itu, muncul pertanyaan laik dikontemplasikan: apakah para pelaku korupsi tidak takut kepada Allah? Apakah pelaku cabul tidak takut kepada Allah, lebih-lebih dilakukan oleh tokoh agama sekalipun?

“Yang seperti itu, kira-kira apa masih takut kepada Allah melaksanakan (tindakan) seperti itu?” tanya Agung, Ahad (31/5) saat Pengajian Ahad Pagi Al Manar di Halaman Masjid Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo Budi Utomo, Ronowijayan, Siman, Ponorogo, Jawa Timur.

Kedua, mengamalkan isi Al-Qur’an. Yang telah menjadi kewajiban, harus diamalkan. Sementara, yang telah menjadi larangan, hendaknya dtinggalkan. “Apa yang menjadi petunjuk dilaksanakan,” ujarnya.

Ketiga, rida dengan (pemberian) yang sedikit. Disebut Agung kalau tidak banyak orang yang memiliki perangai ini. Sebagai sampel, gaji yang diterima dinilai kurang banyak hatta mencari jalan pintas, jalan yang lain untuk mendapat gaji sebagaimana dikehendaki.

“Cuma masalahnya jalan yang lain itu bukan jalan yang halal, jalan yang haram. Dia bisa terkena KPK, bisa kemudian terkena terjerat masalah hukum,” bebernya.

Di sinilah menjadi titik kontemplasi. “Kalau seseorang sudah tidak rida dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah walaupun kecil, maka menjadi sumber malapetaka,” tegasnya, sekali lagi.

Apakah kalau demikian, orang Islam tidak boleh kaya? Apakah orang rida dan ikhlas untuk diberikan yang kecil? “Rida, ikhlas harus, tetapi berusaha untuk kaya adalah hal yang lain,” sebutnya.

Tapi yang paling penting, kata Agung, adalah tawakalnya. Tawakal kepada apa pun yang telah Allah berikan. Menurutnya, ikhtiar tetap diperlukan, tetapi batas ikhtiarnya itu sebenarnya rentangnya tidak terlalu lebar.

“Kenapa? Karena Allah pada dasarnya sudah menakdirkan manusia orang pada ukurannya masing-masing,” jelasnya.

Meskipun begitu, peluangnya tetap ada dan bisa melakukan seperti itu juga berupaya mencapai hal yang diinginkan. “Tetapi butuh usaha yang luar biasa, yang sangat keras untuk bisa melakukan seperti itu,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Banyak jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SwT (Taqarru....

Suara Muhammadiyah

21 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dunia saat ini benar-benar dalam kondisi yang superkompleks. ....

Suara Muhammadiyah

16 March 2026

Berita

BULUKUMBA, Suara Muhammadiyah - Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Muha....

Suara Muhammadiyah

12 October 2025

Berita

LEBAK, Suara Muhammadiyah – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah be....

Suara Muhammadiyah

8 March 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Kepala OIF UMSU Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar MA memaparkan “....

Suara Muhammadiyah

24 July 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah