Kritik Matan terhadap Narasi Klasik Ayat-Ayat Setan dalam Tafsir Al-Qur'an

Publish

9 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
66
Foto: Freepik

Foto: Freepik

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Apakah Setan benar-benar menyisipkan kata-kata ke dalam bacaan Nabi Muhammad? Tulisan ini ingin mengulas Surah 22 ayat 52. Ali Quli Qara'i menerjemahkan, "Kami tidak mengutus sebelummu seorang rasul atau nabi pun, melainkan apabila ia membacakan kitab suci, Setan menyisipkan sesuatu dalam bacaannya itu. Maka Allah menghapuskan apa yang disisipkan Setan itu, dan kemudian Allah menguatkan ayat-ayat-Nya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Lalu ada terjemahan lain dari Mustafa Khattab, "Setiap kali Kami mengutus seorang rasul atau nabi sebelummu, wahai Nabi, dan ia membacakan wahyu Kami, Setan akan memengaruhi pemahaman orang-orang atas bacaannya tersebut. Namun akhirnya, Allah akan melenyapkan pengaruh Setan tersebut. Kemudian Allah akan meneguhkan wahyu-wahyu-Nya." Terjemahan Mustafa Khattab mengatakan, "Setan akan memengaruhi pemahaman orang-orang terhadap bacaannya." Jadi, poinnya ada pada pemahaman. 

Kita perlu memahami cara lain dalam menerjemahkannya yang bergantung pada makna kata umniya. Dalam bahasa Arab, umniya bisa berarti "bacaan." Sebagaimana kata-kata dalam bahasa Inggris memiliki makna yang bervariasi, begitu pula dalam bahasa Arab; sebuah kata bisa memiliki arti yang berbeda tergantung konteksnya. Kata umniya yang sama ini juga bisa berarti "harapan."

Nah, ketika kata ini muncul dalam ayat tersebut, apa maknanya? Sekali lagi, kedua makna tersebut memungkinkan. Di satu sisi bisa berarti bacaan, di sisi lain bisa berarti harapan.

Narasi Klasik vs. Pemahaman Modern

Para mufasir klasik cenderung memaknainya sebagai "bacaan." Dua terjemahan di atas mengikuti makna tersebut. Namun, terjemahan lain akan mengatakan "Setiap kali Kami mengutus seorang nabi atau rasul, Setan akan melemparkan keraguan pada harapan-harapan mereka. Namun Allah menghapuskan apa yang disisipkan Setan, dan Allah menguatkan wahyu-Nya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Terjemahan pertama dari Ali Quli Qara'i mengikuti narasi klasik yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW membacakan Al-Qur'an pada suatu kesempatan, beliau sedang membaca surah ke-53 (An-Najm). Ketika sampai pada bagian tertentu, tiba-tiba—yang mengejutkan semua orang—beliau membacakan kalimat yang merujuk pada dewa-dewa pagan seolah-olah syafaat mereka kepada Tuhan layak diharapkan.

Menurut cerita ini, kaum musyrik mendengarnya dan merasa gembira. Mereka merasa seolah-olah Nabi telah berkompromi dan mengizinkan dewa-dewa mereka dipanggil sebagai perantara. Ketika beliau sampai di akhir surah dan bersujud, mereka pun ikut bersujud bersama beliau karena merasa semuanya sudah damai; Nabi sudah berada di pihak mereka.

Namun kemudian,—berbagai riwayat menyebutkan jangka waktu yang berbeda, bahkan ada yang menyebut enam bulan kemudian—Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan berkata, "Kalimat yang kamu bacakan itu bukan dariku."

Bagi pembaca non-Muslim, sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan Muslim bahwa wahyu turun kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril. Jika Jibril tidak membawanya, lalu dari mana asalnya? Maka ini jelas dianggap sebagai pengaruh Setan. Setan entah bagaimana membisikkan hal itu ke lidah Nabi sehingga beliau membacakannya dan orang-orang mendengarnya.

Anda bisa melihat bagaimana para pengkritik di zaman sekarang akan mengeksploitasi hal ini. Mereka menyebutnya sebagai "Ayat-Ayat Setan" (Satanic Verses), lalu mereka akan bertanya, "Bagaimana Anda tahu bahwa bagian Al-Qur'an lainnya benar-benar dari Tuhan? Jangan-jangan seluruh isinya dipengaruhi oleh Setan?"

Mengkritisi Narasi Tersebut
Para ulama klasik tidak kesulitan dengan hal ini karena mereka menulis untuk audiens Muslim yang sudah beriman. Bagi mereka, ayat ini justru menunjukkan bahwa Allah memegang kendali penuh: Dia membiarkan Setan memberi pengaruh sejenak, namun kemudian menghapusnya dan menguatkan wahyu-Nya.

Akan tetapi, banyak orang saat ini merevisi narasi-narasi dalam hadis tersebut dengan menggunakan apa yang kita sebut sebagai kritik teks (naqd al-matn). Kita menggunakan akal sehat untuk bertanya: "Apakah narasi ini masuk akal?" Jika kejadian ini benar-benar terjadi, kaum pagan tidak hanya akan melanjutkan penganiayaan mereka, tetapi mereka akan menggunakan kejadian ini sebagai senjata untuk terus menyerang Nabi. Mereka akan berulang kali bertanya, "Apakah kamu yakin apa yang kamu katakan selanjutnya benar-benar dari Tuhan? Jangan-jangan itu dari Setan lagi?" Namun, kita tidak menemukan catatan sejarah tentang ejekan semacam itu. Ini menunjukkan bahwa cerita tersebut tidak terjadi seperti yang digambarkan.

Terjemahan yang menyatakan bahwa itu adalah harapan Nabi yang sedang coba dipadamkan oleh bisikan setan sangatlah masuk akal. Itulah yang dilakukan setan kepada kita semua—ia mencoba meruntuhkan harapan kita kepada Tuhan. Meskipun Setan mencoba memadamkan harapannya, Allah memberikan kekuatan dan keberanian lebih kepada Nabi Muhammad, menguatkan hatinya dengan lebih banyak wahyu dan inspirasi ilahi, hingga pesannya akhirnya mencapai kemenangan.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Meningkatkan Kualitas Takwa Melalui Membaca Al-Qur'an Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Ketua PRM Le....

Suara Muhammadiyah

16 March 2025

Wawasan

Pemikiran Revitalisasi Ajaran Islam Oleh: Dr. Masud HMN, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. H....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Wawasan

Memahami Hari Kiamat Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Apa seben....

Suara Muhammadiyah

1 March 2024

Wawasan

Oleh: Prof Dr Drs A Hilal Madjdi, MPd, Wakil Ketua PDM Kudus   Gegap gempita selamat dan syuk....

Suara Muhammadiyah

14 May 2025

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah “Belajarlah, karena ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya, juga keutamaan ....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah