BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1447 H di halaman Masjid Muhammadiyah Al-Furqan, Jalan Bumi Mas, Banjarmasin, berlangsung khidmat pada Rabu, 10 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan 27 Mei 2026. Kegiatan yang berada di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banjarmasin 11 tersebut dihadiri ratusan jamaah yang memadati halaman masjid sejak pagi hari untuk menunaikan shalat Idul Adha bersama.
Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Muhamad Faiq Arham. Sementara khutbah Idul Adha disampaikan oleh Prof. Dr. H. Syaugi Mubarak Seff, M.A. dengan tema “Makna Ibadah Qurban dalam Peningkatan Spiritualitas Iman.”
Dalam khutbahnya, Prof. Syaugi menegaskan bahwa hakikat qurban bukanlah pada daging dan darah hewan yang dipersembahkan, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan orang yang melaksanakannya. Menurutnya, pemilihan hewan qurban yang terbaik mencerminkan kebersihan hati dan ketulusan seorang muslim dalam menjalankan perintah Allah SWT.
“Yang sampai kepada Allah bukan daging dan darah hewan qurban, tetapi ketakwaan dari sahibul qurban dalam memenuhi dan melaksanakan qurban,” tegas khatib di hadapan jamaah.
Khatib kemudian mengulas secara mendalam kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai fondasi utama ibadah qurban. Ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan ujian besar tentang pilihan antara kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada sesuatu yang sangat dicintai manusia. Nabi Ibrahim AS berhasil menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah harus berada di atas segala-galanya.
Menurut khatib, pelajaran terbesar dari qurban adalah totalitas ketundukan kepada Allah SWT. Karena itu, qurban tidak boleh dipahami hanya sebagai penyembelihan hewan, tetapi juga sebagai upaya menyembelih berbagai sifat buruk yang ada dalam diri manusia.
Salah satu bagian khutbah yang mendapat perhatian jamaah adalah ketika khatib menjelaskan bahwa ibadah qurban mengajarkan manusia untuk melepaskan keterikatan berlebihan terhadap harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia yang sering menjadi sumber kesombongan. Ia mengingatkan bahwa seluruh yang dimiliki manusia hanyalah titipan Allah SWT yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.
Dalam perspektif yang lebih luas, khatib mengajak jamaah untuk menjadikan qurban sebagai budaya hidup sederhana dan menjauhi gaya hidup konsumtif. Ia mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk membedakan antara kebutuhan dan kemewahan serta mengutamakan kepedulian sosial dibandingkan perilaku berlebihan dalam konsumsi.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa sifat-sifat yang sesungguhnya harus “disembelih” dalam momentum Idul Adha adalah kerakusan, ambisi yang tidak terkendali, kesombongan, kedengkian, serta berbagai perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, qurban merupakan sarana pendidikan spiritual yang membentuk manusia menjadi pribadi yang lapang dada, bersih hati, dan berakhlak mulia.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banjarmasin 11, H. Natsir Barjat, juga menyampaikan rasa syukur atas tingginya partisipasi warga dalam pelaksanaan qurban tahun ini. Tercatat sebanyak 21 ekor sapi qurban berhasil dihimpun oleh panitia untuk disembelih dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tumbuhnya kesadaran beribadah sekaligus kepedulian sosial di kalangan jamaah dan warga Muhammadiyah setempat.
Ia berharap nilai-nilai qurban yang menekankan keikhlasan, kepedulian sosial, kesederhanaan, dan ketundukan kepada Allah SWT tidak hanya dipahami sebagai materi khutbah, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas.
Pelaksanaan Shalat Idul Adha dan Qurban tahun 1447 H di Masjid Muhammadiyah Al-Furqan menjadi momentum penting untuk memperkuat spiritualitas, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta meneguhkan kembali semangat pengorbanan dan kepedulian sosial sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

