Lawan Arus Digital, Nasyiatul Aisiyiyah Ajak Anak Kembali ke Akar Aksara

Suara Muhammadiyah

11 November 2025

681
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Di sudut Car Free Day (CFD) Bukit Kencana Jaya, Meteseh, udara pagi beraroma krayon dan bubuk pensil warna. Puluhan lembar kertas putih berubah jadi kanvas cerita. Anak-anak duduk bersila di atas terpal biru. Fokus mereka bukan pada pedagang di seberang jalan, melainkan pada garis hitam yang harus diisi.

Sebuah tangan mungil, dengan krayon biru indigo yang kokoh, tekun mewarnai figur yang diberi. Di tengah riuh hari Ahad, ini adalah ritual sunting gambar yang menanamkan fondasi berbagi melalui aktivitas motorik sederhana.

Generasi Alpha tumbuh dengan konten digital instan. Menghadapi arus cepat itu, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang menawarkan perlawanan elegan: mengembalikan kecintaan pada bahasa ibu dan nilai luhur melalui seni.

Prasasti Nugrahaing Gusti, S.H., Ketua PDNA Kota Semarang, melihat keramaian anak. Baginya, ini strategi ganda.

"Tujuan utama kami, anak-anak semakin mencintai dan melestarikan bahasa dan sastra Indonesia. Formatnya harus menyenangkan. Kami ajak mereka kembali ke akar aksara di tengah gempuran digital," tegasnya, Ahad (9/11/25).

Keceriaan pagi ini ditopang EMINA (Educare Milik Nasyiatul Aisyiyah). EMINA bukan sekadar lembaga PAUD; ia adalah jaring pengaman bagi ibu-ibu muda kader Nasyiah. Ia memungkinkan mereka aktif berorganisasi tanpa mengabaikan pengasuhan.

Seorang ibu muda yang mendampingi putranya ke acara mengakui, "Saya khawatir dengan screen time anak. Acara ini memberi ruang bernapas, sekaligus tahu bahwa anak saya belajar nilai positif di luar rumah."

Program literasi PDNA ini menjangkau lintas usia. Kategori SMP dan SMA diangkat melalui lomba bercerita, menghidupkan kembali dongeng atau cerita rakyat khas Kota Semarang.

Sementara untuk usia dini, lomba mewarnai dipilih dengan tema spesifik dan kuat: Sedekah.

"Kami memilih tema sedekah untuk menanamkan arti berbagi sejak dini. Aktivitas ini melatih psikomotorik, mengenalkan warna, dan memantik imajinasi positif mereka tentang kebaikan," papar Prasasti.

Di tengah mewarnai, Fajar (7), mengangkat tangannya penuh bangga. "Ini kotak sedekah. Nanti aku mau kasih makanan ke kucing," ujarnya polos.

Sebuah transfer nilai terjadi melalui kehangatan sentuhan dan fokus sederhana: pembelajaran karakter yang melampaui kurikulum.

Matahari makin meninggi. Kertas-kertas gambar itu kini penuh warna, penuh janji. Setiap goresan krayon merekam kejujuran imajinasi anak.

Di tengah arus informasi yang serba cepat, PDNA membuktikan bahwa menanamkan kebaikan dan kecintaan pada bahasa ibu cukup dengan krayon, terpal, dan waktu yang diluangkan. Ini adalah perayaan literasi yang bermula dari tindakan sederhana di kaki bukit Semarang. (Adib Abyan)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Universi....

Suara Muhammadiyah

12 March 2026

Berita

ITESA Muhammadiyah Semarang Serahkan Mahasiswa Magang untuk Program Desa Cantik BPS Kendal 2026 KEN....

Suara Muhammadiyah

14 April 2026

Berita

PAREPARE, Suara Muhammadiyah - Wali Kota Parepare Tasming Hamid menyatakan dukungannya atas pelaksan....

Suara Muhammadiyah

15 September 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dengan moto generasi siap 5.0 Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.....

Suara Muhammadiyah

30 January 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Prestasi yang diraih Tim Klanceng Edufarm Universitas Muhammad....

Suara Muhammadiyah

29 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah