Lestarikan Budaya Pembuatan Wayang Kulit

Suara Muhammadiyah

9 April 2026

536
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Tatah Sungging 

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 83 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan field trip dengan mengunjungi sentra pembuatan wayang kulit milik Suprih di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/4/2026).

Kegiatan bertajuk Cultural Creation: Learning to Creatively Carve Wayang ini menjadi jembatan antara pembelajaran akademik dan upaya pelestarian warisan budaya leluhur. Kunjungan tersebut tidak sekadar wisata edukatif, melainkan implementasi pembelajaran kontekstual yang memadukan mata pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya.

Koordinator Tim Kelas III, Yuli Ekowati, menegaskan pentingnya pengalaman belajar yang bersifat empiris dan bersentuhan langsung dengan objek nyata.
“Kami tidak ingin para murid hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pelaku yang memahami proses di balik layar. Kegiatan ini memberikan wawasan tentang seni tradisional sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap para perajin,” ujarnya.

Selama kegiatan berlangsung, para murid dipandu langsung oleh Suprih, maestro wayang kulit yang karyanya telah menembus pasar internasional, seperti Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, Suprih mengajak murid mengamati secara langsung proses pembuatan wayang kulit yang autentik melalui tiga tahapan utama.

Tahap pertama adalah pengolahan bahan baku. Kulit kerbau berkualitas dipilih, kemudian direndam selama satu malam, dibentangkan, dan dikeringkan hingga sempurna. Tahap kedua, pembersihan, yaitu proses pengerokan lemak dan rambut hingga permukaan kulit siap diberi pola. Tahap ketiga adalah tatah dan sungging. Proses pemahatan (tatah) disesuaikan dengan karakter tokoh pewayangan, sedangkan pewarnaan (sungging) menuntut ketelitian dan estetika tinggi.

Di sela-sela kegiatan, Suprih juga menyampaikan pesan agar generasi muda senantiasa mencintai dan bangga terhadap kekayaan budaya Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, seni tatah sungging dinilai mampu mengasah sensitivitas estetika serta keterampilan motorik halus murid. Ia berharap regenerasi perajin dan penikmat wayang terus tumbuh agar kesenian ini tidak tergerus zaman.

Salah satu murid, Gibran Alfan Mahardika, mengungkapkan kesan mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, field trip ini tidak hanya memberikan pengalaman seni, tetapi juga pembelajaran tentang manajemen waktu dan kesabaran.
“Ketelitian adalah kunci untuk menghasilkan wayang berkualitas tinggi. Satu wayang kulit bisa dikerjakan hingga dua bulan. Belajar seni budaya sejak dini adalah wujud nyata cinta tanah air,” tuturnya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai karakter, seperti kesabaran, ketekunan, serta kecintaan terhadap budaya bangsa, sekaligus memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi para murid. (Nikmah Hidayati)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangkaian acara Ramadhan di Kampus Universitas Ahmad Dahlan (....

Suara Muhammadiyah

9 March 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasme....

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Badan Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Karir dan Alumni (BPPKK....

Suara Muhammadiyah

23 May 2025

Berita

Purworejo  Suara Muhammadiyah- Dalam upaya meneguhkan semangat kebangsaan dan memperkuat ideolo....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Prodi Administrasi Publik UM Bandung bekerja sama dengan Dinas P....

Suara Muhammadiyah

5 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah