BENGKULU, Suara Muhammadiyah - Sejumlah mahasiswa program International Undergraduate Program on Communication Studies (IPCS) Universitas Muhammadiyah Bengkulu turun ke Pantai Panjang pada Senin, 6 Juli 2026. Mereka memunguti sampah plastik, puntung rokok, dan sisa jaring nelayan yang tersangkut di sepanjang garis pantai. Bukan aksi sukarela biasa, kegiatan ini masuk sebagai bagian dari penilaian tugas akhir mata kuliah.
IPCS adalah program kelas internasional di UMB yang diperuntukkan bagi mahasiswa lokal Bengkulu, dengan pengantar bahasa Inggris dan kurikulum komunikasi berstandar internasional. Bersih pantai kali ini dirancang untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 14 tentang ekosistem laut, sekaligus melatih mahasiswa membaca sampah pesisir sebagai bahan kajian komunikasi lingkungan. Sampah yang terkumpul dipilah di tepi pantai berdasarkan jenis material, sebelum diangkut petugas kebersihan setempat.
Dosen pengajar mata kuliah, Pebria Prakarsa Renta, mengatakan tugas lapangan semacam ini sengaja dirancang agar mahasiswa tidak hanya membahas isu lingkungan dari layar laptop. Menurutnya, mahasiswa perlu merasakan langsung kondisi pantai yang mereka pelajari di kelas, bukan sekadar membaca data dari jurnal.
Dio Alfiano, salah satu mahasiswa yang ikut turun ke pantai, mengaku sebenarnya sudah lama tahu soal bahaya sampah plastik dan larangan membuang puntung rokok sembarangan. Namun ia baru benar-benar menyadari skalanya setelah memunguti sampah satu per satu di sepanjang garis pantai. Ia sempat kaget mendapati tumpukan puntung rokok dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari perkiraannya, dan baru memahami bahwa akumulasi sampah sekecil itu ternyata cukup signifikan untuk masuk kategori pencemaran mikro sesuatu yang selama ini ia anggap remeh karena ukurannya yang kecil. Rena Novriani, mahasiswa lain dalam kelompok yang sama, menambahkan bahwa sebelumnya SDGs baginya cuma istilah di slide dosen. Setelah memilah sampah sendiri dan mencocokkannya dengan poin 14, ia mengaku lebih paham kenapa isu sekecil puntung rokok bisa masuk dalam pembahasan pembangunan berkelanjutan dunia.
UMB mulai tahun 2026 menegaskan komitmennya mendukung implementasi SDGs sebagai pijakan menjaga keberlanjutan kampus dan lingkungan sekitarnya. Kampus memilih fokus pada enam poin, yaitu poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 13 tentang penanganan perubahan iklim, poin 14 tentang ekosistem lautan, poin 15 tentang ekosistem daratan, dan poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Kepala UMB Global Engagement, Andi Azhar, turut memantau jalannya kegiatan bersih pantai ini. Ia menyebut kegiatan semacam ini penting ditunjukkan ke publik, bukan hanya sebagai laporan kinerja kampus, tapi sebagai bukti bahwa mahasiswa muda Bengkulu ikut ambil bagian menjaga aset wisata daerahnya sendiri. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam isu lingkungan lokal seperti ini justru memperkuat posisi UMB di mata jejaring pendidikan tinggi, karena menunjukkan dampak nyata di luar ruang kelas. Ia berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan tidak berhenti sebagai formalitas tugas kuliah semata.
Kegiatan mahasiswa IPCS ini sejalan dengan semangat program Bengkulu BISA yang digaungkan Pemerintah Kota Bengkulu di bawah Wali Kota Dedy Wahyudi, yang mendorong kawasan Pantai Panjang menjadi kawasan wisata yang bersih, indah, dan nyaman dengan melibatkan bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat. Pemkot Bengkulu sendiri diketahui rutin menggelar gotong royong lintas OPD di kawasan yang sama untuk menjaga kebersihannya. Bagi UMB, aksi bersih pantai mahasiswa IPCS menjadi salah satu bukti kecil bahwa target SDGs yang mereka canangkan tahun ini mulai berjalan di luar rapat dan dokumen strategi, sekaligus ikut menyokong upaya kota menjaga ikon wisatanya sendiri.. Rena Novriani, mahasiswa lain dalam kelompok yang sama, menambahkan bahwa sebelumnya SDGs baginya cuma istilah di slide dosen. Setelah memilah sampah sendiri dan mencocokkannya dengan poin 14, ia mengaku lebih paham kenapa isu sekecil puntung rokok bisa masuk dalam pembahasan pembangunan berkelanjutan dunia.
UMB mulai tahun 2026 menegaskan komitmennya mendukung implementasi SDGs sebagai pijakan menjaga keberlanjutan kampus dan lingkungan sekitarnya. Kampus memilih fokus pada enam poin, yaitu poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, poin 4 tentang pendidikan berkualitas, poin 13 tentang penanganan perubahan iklim, poin 14 tentang ekosistem lautan, poin 15 tentang ekosistem daratan, dan poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
Kepala UMB Global Engagement, Andi Azhar, turut memantau jalannya kegiatan bersih pantai ini. Ia menyebut kegiatan semacam ini penting ditunjukkan ke publik, bukan hanya sebagai laporan kinerja kampus, tapi sebagai bukti bahwa mahasiswa muda Bengkulu ikut ambil bagian menjaga aset wisata daerahnya sendiri. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam isu lingkungan lokal seperti ini justru memperkuat posisi UMB di mata jejaring pendidikan tinggi, karena menunjukkan dampak nyata di luar ruang kelas. Ia berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut dan tidak berhenti sebagai formalitas tugas kuliah semata.
Kegiatan mahasiswa IPCS ini sejalan dengan semangat program Bengkulu BISA yang digaungkan Pemerintah Kota Bengkulu di bawah Wali Kota Dedy Wahyudi, yang mendorong kawasan Pantai Panjang menjadi kawasan wisata yang bersih, indah, dan nyaman dengan melibatkan bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat. Pemkot Bengkulu sendiri diketahui rutin menggelar gotong royong lintas OPD di kawasan yang sama untuk menjaga kebersihannya. Bagi UMB, aksi bersih pantai mahasiswa IPCS menjadi salah satu bukti kecil bahwa target SDGs yang mereka canangkan tahun ini mulai berjalan di luar rapat dan dokumen strategi, sekaligus ikut menyokong upaya kota menjaga ikon wisatanya sendiri.

