BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Adalah fakta bahwa hidup menjadi Muslim yang disiplin tidaklah mudah. Apalagi, menjalankan seluruh ajaran Islam secara istikamah dan disiplin tinggi, niscaya butuh pergumulan begitu rupa.
Demikian Hilman Latief mengemukakan saat Khutbah Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3) di di Lapangan Softball Lodaya, Malabar, Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat.
“Berislam dengan baik tidaklah cukup dilakukan dengan cara berleha-leha atau santai-santai saja. Kedisiplinan kita diuji dalam banyak hal diberbagai tempat,” ujar Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Hilman menegaskan, kedisiplinan sebagai kunci kesuksesan. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian adanya. “Kedisiplinan perlu kita pupuk untuk anak-anak kita dan untuk pribadi kita sendiri,” tekannya.
Sebuah bangsa yang besar, sambung Hilman, adalah bangsa yang berdisiplin tinggi. Bangsa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu kehidupannya secara produktif dan bermanfaat.
“Kita berharap bangsa Indonesia, sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi bangsa yang maju dan sukses. Dan kita sebagai seorang Muslim, menjadi pribadi-pribadi yang mulia dan penuh kedisiplinan,” tegasnya.
Tidak hanya itu. Seorang Muslim mesti menjadi pribadi yang memberikan manfaat. Ini menjadi tugas besar kita bila kita sudah mampu menjadi pribadi yang disiplin, yaitu kita dapat memberikan manfaat kepada orang lain,” tutur Hilman.
Sebuah hadis menyatakan, “Sebaik-baiknya manusia adalah memberikan manfaat bagi manusia lainnya, Khayr al-nas ‘anfauhum li al-nas.” Tarikan napas hadis ini mengajak kepada manusia sejagat untuk berkontemplasi apakah hidupnya telah memberikan manfaat nyata kepada lingkungan sekitar atau sebaliknya, jauh panggang dari api?
“Saya berpesan untuk diri saya sendiri dan jamaah sekalian, marilah kita kuatkan niat kita untuk menjadi orang-ornag yang terbaik dalam memberikan manfaat bagi manusia lainnya, dengan apa yang kita miliki,” sebutnya.
Menjadi manfaat tidak harus menjadi orang yang kaya raya, tegas Hilman. Akan tetapi, pada saat yang sama, perlu menjadi orang kaya hatinya, pikirannya dan niatnya.
“Kita harus merancang potensi yang kita miliki untuk memberikan manfaat dengan ilmu (bila anda orang yang pintar), dengan harta (bila anda orang kaya), dengan tenaga (bila anda orang yang kuat),” sambungnya.
Demikian yang paling substansial lagi, menjadi Muslim yang cerdas bersyukur. Kata Hilman, bersyukur artinya berterima kasih. Dengan bersyukur niscaya memiliki jiwa yang tenang dan tidak selalu gelisah.
“Kita sadar bahwa sebagai manusia, kita memiliki nafsu yang kadang sulit untuk dikendalikan, nafsu mengejar kekuasaan, nafsu menambah harta benda, dan berbagai keinginan yang mungkin tidak bisa dikendalikan sehingga menjadi mansuia yang tidak pernah merasa cukup,” jelasnya.
Semua hal yang telah diperoleh, betapapun terbatasnya, haruslah disertasi dengan sikap yang bersyukur. Bagi seorang Muslim, di antara sikap syukur juga adalah menggembirakan perintah Allah berupa pelaksanaan zakat infak dan sadaqah.
Dengan menunaikan zakat, setidaknya telah berupaya membersihkan harta, membersihkan jiwa, dan bersyukur dan menolong orang-orang lain yang membutuhkan.
“Saya berharap dan saya juga yakin, insya allah di Hari yang Fitri ini, Hari kemenangan, setiap pribadi yang hadir saat ini, juga telah menunaikan zakat al-fitr sebagai wujud dari rasa syukur,” pungkas Hilman. (Cris)
