Mangan Longan, Turu Longan

Publish

20 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
453
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Mangan Longan, Turu Longan 

Oleh: Khafid Sirotudin

Longan adalah istilah dalam bahasa Jawa yang menunjuk pada ruang kosong di bawah ranjang, tempat tidur berbahan kayu atau besi. Dalam konteks produk hortikultura (buah-buahan dan sayuran), longan (Dimocarpus longan) adalah buah kelengkeng atau lengkeng. Buah tropis yang berasal dari suku lerak-lerakan (Sapindaceae), yang sekarang sering dipakai sebagai pelengkap ransum Makanan Bergizi Gratis (MBG), selain pisang, jeruk, semangka, melon, pepaya dan anggur.

Mas Arief Budiman menyampaikan materi pengajian setelah jamaah salat Subuh di masjid An-Nur Kedonsari Penyangkringan Weleri, Kamis 19 Februari 2026, bertema “Mangan Longan, Turu Longan”. Mendengarkan uraian yang disampaikan beliau, saya teringat literasi ajaran yang pernah disampaikan KH. Abdurrohim, Muassis Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kota Banjar Jawa Barat tahun 1960-an. 

Tiga wasiat Kiai Abdurrohim yang dikenang hingga sekarang, yaitu Cengkir, Turu Longan dan Madang Longan. Tiga wasiat berbahasa Jawa ini menemukan relevansinya ketika kita merunut kepada perintis awal Ponpes Miftahul Huda. Yaitu Kiai Marzuki Mad Salam, orang tuanya yang berasal dari desa Gung Agung, kecamatan Bulus Pesantren Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah jauh sebelum masa kemerdekaan RI tahun 1945.

Cengkir secara harfiah bermakna buah kelapa yang masih sangat muda, belum terbentuk buah tebal di batok kelapa. Cengkir Gading (Kelapa Kuning) biasa digunakan dalam prosesi adat “tingkeban” pernikahan Jawa yang melambangkan kemauan keras calon pengantin untuk membentuk keluarga. Tetapi Cengkir yang diwasiatkan Kiai kepada para santrinya bermakna “Kencenge Pikir” (Pikiran yang Kencang). Sebuah Kerata Basa atau Jarwo Dosok dalam bahasa Jawa (Bahasa Indonesia: ringkasan, singkatan, kependekan). Mengandung pesan atau wasiat kepada para santrinya agar belajar keras menuntut ilmu selama di ponpes maupun setelah lulus melanjutkan studi di tempat lain.

Turu Longan (Turu: tidur) mengandung nasihat atau wejangan agar santri mengurangi tidur malam untuk beribadah, yakni salat lail, “nderes” (membaca) dan muthala’ah (mempelajari, mengkaji) Al-Quran. Sedangkan Madang Longan (Madang: mangan, makan) mengandung pesan agar mengurangi makan (puasa, tirakat). Sebab orang yang kebanyakan tidur dan makan sulit menerima hikmah, ilmu, laku spiritual dan kepekaan sosial.

Materi pengajian yang disampaikan mas Arief Budiman pagi ini, memberikan pesan penting bahwa puasa ramadan yang wajib dijalani setiap tahun merupakan syariat Islam yang telah didesain sempurna oleh Allah. Bukan sekedar laku ritual yang membuat pelakunya menjadi sehat jasmani dan rohani saja, namun bernilai ibadah sosial spiritual dan memberikan pahala berlimpah yang tidak ditemukan pada bulan dan hari-hari selain ramadan.

Praktek puasa (fasting) telah diteliti oleh Yoshinori Ohsumi, Profesor di Tokyo Institute of Technology yang memenangkan hadiah Nobel Fisiologi dan Kedokteran tahun 2016. Sebuah penelitian tentang autolisis yang berfokus pada dua area utama. Yaitu mekanisme biologis (autofagi) dalam sel tubuh manusia dan studi kimia pada penguraian jaringan daging (autolisis pascamortem). Belakangan banyak teman saya yang mempraktekkan Intermittent Fasting (IF). Sebuah metode diet terukur dan ketat untuk mengidealkan berat badan agar terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan kegemukan tubuh (over weight).

Mas Arief juga mengkaitkan materi pengajian dengan materi dari ustadz Said pada hari pertama ramadan. Dimana ustadz Said mengajarkan sebuah doa dari ulama Salaf (bukan hadits marfu’ dari Nabi Saw). Lafaznya berbunyi: “Allahumma sallimni ila ramadhana wa sallim li ramadhana wa tasallamhu minni mutaqabbalan”. Artinya: “Ya Allah antarkanlah aku sampai (bulan) ramadan, dan antarkanlah ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan ramadan”.

Ajaran Mangan Longan, Turu Longan dari Kiai Abdurrohim maupun lafadz doa dari ulama salaf merupakan ajaran dan amalan yang baik di bulan ramadan. Sebuah warisan peradaban dan budaya keagamaan yang tidak bertentangan dan menselisihi fikih dan syariat Al-Quran.

Pagersari, Kamis 19 Februari 2026.

 

 

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Presiden (tak) Lumrah Oleh Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Tangeran....

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

Humaniora

Pengabdian Kader Sang Surya di Tubaba Tubuhnya kurus, berjenggot, dengan sorot mata yang teduh namu....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Humaniora

Sajadah Kirman  Cerpen Ichsan Nuansa Asyhadu al Laa Ilaaha Illallah... Suara adzan Rido melun....

Suara Muhammadiyah

26 April 2024

Humaniora

Oleh: Buya Ari Al Linggawi, Alumnus Megister ITB Ahmad Dahlan Di kaki Gunung Singgalang, dihembus a....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Humaniora

Sayap Kertas Cerpen Syakira Vita Sasmaya Di sebuah kota kecil di London, hiduplah seorang anak la....

Suara Muhammadiyah

19 January 2026