Masa Depan Kerja Anak Muda di Era AI

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

155
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Masa Depan Kerja Anak Muda di Era AI

Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II, Jakarta Timur

Setiap zaman melahirkan alat yang mengubah cara manusia bekerja. Mesin uap menggantikan tenaga otot. Komputer menggantikan sebagian pekerjaan administratif. Kini, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) mulai mengambil alih pekerjaan yang mengandalkan pola pikir berulang. 

Jika dahulu gerbang dunia kerja dijaga oleh manusia, hari ini gerbang itu semakin banyak dijaga oleh algoritma.

Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan peradaban. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengambil alih sebagian pekerjaan manusia. Pertanyaannya adalah: apakah manusia mampu mengendalikan arah perubahan itu atau justru tertinggal di belakangnya?

Di sinilah tantangan terbesar generasi muda Indonesia.

Muhammadiyah sejak awal hadir sebagai gerakan pencerahan yang tidak memusuhi kemajuan. Sebaliknya, Muhammadiyah memandang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk memajukan kehidupan manusia. Karena itu, yang diperlukan bukanlah ketakutan terhadap AI, melainkan kemampuan menguasai dan mengarahkannya agar tetap berpihak pada kemanusiaan.

Dalam pandangan Islam, kemampuan berpikir, mencipta, dan berinovasi merupakan bagian dari amanah kekhalifahan manusia. Allah Swt. berfirman:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'" (QS. Al-Baqarah: 30)

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia diberi akal untuk mengelola kehidupan dan membangun peradaban. Teknologi pada hakikatnya adalah hasil ikhtiar manusia. Karena itu, persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana teknologi digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.

1. Ketika Pintu Masuk Dunia Kerja Menyempit

Bagi banyak anak muda, AI bukan lagi sekadar topik diskusi teknologi. AI mulai memengaruhi peluang mereka mendapatkan pekerjaan.

Fenomena ini tampak nyata di berbagai kota di Indonesia. Banyak pekerjaan administrasi, layanan pelanggan, pengolahan data, dan konten digital tingkat pemula yang dahulu menjadi batu loncatan karier kini semakin menyempit. Perusahaan tidak selalu melakukan PHK. Yang sering terjadi justru lebih halus: mereka mengurangi perekrutan karena sebagian pekerjaan telah dapat diselesaikan dengan bantuan AI.

Di sektor kreatif digital, AI generatif mampu menghasilkan draf desain, caption, dan video sederhana dalam hitungan menit. Di bidang administrasi, sistem otomatis dan chatbot menggantikan berbagai pekerjaan rutin yang selama ini menjadi ruang belajar bagi pekerja muda.

Akibatnya, persaingan semakin ketat. Satu lowongan dapat diperebutkan ratusan bahkan ribuan pelamar. Banyak lulusan baru menghadapi dilema: sulit memperoleh pekerjaan karena kurang pengalaman, tetapi tidak memperoleh pengalaman karena tidak mendapatkan pekerjaan.

Data Badan Pusat Statistik pada awal 2026 menunjukkan sekitar 62 persen pekerja usia 15–24 tahun berada pada sektor-sektor yang paling rentan terhadap otomatisasi berbasis AI. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) juga mengingatkan bahwa pekerjaan klerikal yang banyak diisi pekerja muda, khususnya perempuan, termasuk kategori yang paling terdampak.

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum memproyeksikan sekitar 92 juta pekerjaan akan tergantikan oleh otomatisasi dan AI sepanjang 2025–2030. Namun pada saat yang sama, sekitar 170 juta pekerjaan baru diperkirakan lahir pada bidang kecerdasan buatan, ekonomi hijau, keamanan siber, dan layanan berbasis manusia.

Masalahnya, pekerjaan yang hilang dan pekerjaan yang muncul tidak berada pada titik yang sama. Yang menghilang banyak berada pada level pemula, sementara pekerjaan baru menuntut keterampilan yang lebih kompleks, kemampuan belajar yang cepat, dan daya adaptasi yang tinggi.

Perubahan ini mengingatkan kita pada firman Allah Swt.:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)

Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Yang menentukan masa depan bukanlah datang atau tidaknya perubahan, melainkan kesiapan manusia dalam meresponsnya.

2. Ruang yang Tetap Menjadi Milik Manusia

Meski AI berkembang sangat cepat, tidak semua pekerjaan dapat digantikan mesin.

Pertama, pekerjaan yang membutuhkan pemahaman konteks sosial dan budaya. AI dapat menghasilkan bahasa yang baik, tetapi belum sepenuhnya memahami pengalaman hidup, kearifan lokal, dan dinamika hubungan antarmanusia.

Kedua, pekerjaan hibrida yang memadukan keahlian manusia dan kecerdasan mesin. Dokter yang menggunakan AI untuk membantu diagnosis, guru yang memanfaatkan AI untuk personalisasi pembelajaran, atau pelaku usaha yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas merupakan contoh profesi yang justru akan berkembang.

Laporan PwC Global AI Jobs Barometer 2025 menunjukkan pekerja yang memiliki keterampilan AI memperoleh premium pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memilikinya.

Ketiga, pekerjaan yang bertumpu pada empati, kepemimpinan, negosiasi, konseling, pelayanan, dan pembangunan kepercayaan. Inilah wilayah yang hingga kini tetap menjadi keunggulan manusia.

Dunia sedang bergerak dari knowledge economy menuju wisdom economy. Yang dibutuhkan bukan hanya orang yang memiliki banyak informasi, melainkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bijaksana.

Allah Swt. berfirman:

"Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi karunia yang banyak." (QS. Al-Baqarah: 269)

AI dapat mengolah data dalam jumlah sangat besar, tetapi ia tidak memiliki hikmah. AI dapat memberikan rekomendasi, tetapi ia tidak memiliki tanggung jawab moral. Karena itu, semakin maju teknologi berkembang, semakin penting kehadiran manusia yang berintegritas, berempati, dan memiliki kebijaksanaan.

3. Jalan Pencerahan Muhammadiyah

Perkembangan AI sesungguhnya menghadirkan momentum baru bagi aktualisasi Islam Berkemajuan. Dalam Risalah Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menegaskan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan kemaslahatan.

Karena itu, respons umat Islam terhadap AI tidak seharusnya berupa ketakutan atau penolakan. Yang diperlukan adalah penguasaan yang disertai tanggung jawab moral. Teknologi yang maju harus berjalan seiring dengan kemajuan akhlak dan keadilan sosial.

Semangat tersebut telah dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan. Beliau mengajarkan bahwa agama tidak boleh terasing dari perkembangan zaman. Umat Islam harus mampu membaca perubahan, menguasai ilmu pengetahuan, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

Jika pada awal abad ke-20 Muhammadiyah merespons modernitas melalui pembaruan pendidikan dan pelayanan sosial, maka pada abad ke-21 tantangan itu hadir dalam bentuk transformasi digital dan kecerdasan buatan.

Karena itu, ada beberapa agenda yang perlu diperkuat:

1. Mengembangkan literasi AI berbasis akhlak. Pendidikan Muhammadiyah perlu membekali generasi muda dengan kemampuan memahami dan memanfaatkan AI secara produktif sekaligus bertanggung jawab.  

   Rasulullah saw. bersabda:  

   "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya." (HR. al-Baihaqi)  

Nilai ihsan tersebut harus menjadi fondasi dalam penggunaan teknologi.

2. Memperkuat pendidikan vokasi dan kewirausahaan. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah perlu menjadi ruang lahirnya talenta yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan solusi berbasis teknologi.

3. Memperkuat ekonomi berbasis kemanusiaan. Bidang pendidikan, kesehatan, konseling, pemberdayaan masyarakat, dan dakwah akan tetap membutuhkan sentuhan manusia yang tidak dapat digantikan algoritma.

4. Membangun kolaborasi agar transisi menuju era AI berlangsung secara adil. Jangan sampai kemajuan teknologi hanya dinikmati oleh sebagian kelompok, sementara kelompok lain semakin tertinggal.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali alat baru lahir, manusia selalu menghadapi pilihan yang sama: menjadi pengendali perubahan atau menjadi korban perubahan.

Anak muda Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menghadapi era AI. Mereka tumbuh bersama teknologi dan memiliki optimisme yang tinggi terhadap masa depan. Namun modal itu harus diperkuat dengan kemampuan belajar yang cepat, kemauan beradaptasi, dan karakter yang kokoh.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan seberapa besar teknologi itu mampu mencerdaskan kehidupan, memuliakan manusia, dan menghadirkan keadilan sosial.

Karena itu, doa yang diajarkan Al-Qur'an tetap relevan di tengah revolusi kecerdasan buatan:

"Rabbi zidnii 'ilmaa" — "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (QS. Thaha: 114)

Masa depan tidak akan memisahkan manusia dari AI. Yang membedakan adalah mereka yang mampu memanfaatkan AI untuk memperluas manfaat dan mereka yang tertinggal karena gagal beradaptasi.

Ketika teknologi semakin pintar, manusia harus semakin bijaksana. Ketika mesin semakin cepat, manusia harus semakin bermakna. Dan ketika dunia berlari bersama AI, Muhammadiyah harus hadir sebagai gerakan pencerahan yang memastikan bahwa kemajuan selalu berjalan seiring dengan kemanusiaan.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pilkada dalam Ancaman Ketidakpercayaan Warga  Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Wawasan

Rakyat Melayani, Pemimpin Menikmati Oleh: Ahsan Jamet Hamidi. Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah L....

Suara Muhammadiyah

25 June 2026

Wawasan

Tarawih Berjamaah, Menyatukan Hati Umat Penulis: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Modern Muhammadiyah S....

Suara Muhammadiyah

5 March 2026

Wawasan

Pancasila dalam Pengamalan Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen FH UAD Meskipun kontroversial, peringatan ....

Suara Muhammadiyah

9 June 2024

Wawasan

Membangun Badan Usaha Koperasi  Oleh Dr.Ir. Armen Mara, M.Si, Ketua Majlis Ekonomi dan Bisnis ....

Suara Muhammadiyah

9 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah