SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada saat Nabi Muhammad Saw melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, salah satu hal yang dilakukan adalah membangun masjid: Quba namanya.
“Dan juga sekaligus menjadi pusat pemerintahan,” ucap Ahmad Dahlan Rais.
Pertanyaannya ialah, mengapa berupa masjid? “Memang belum punya gedung pusat pemerintahan,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Sehingga, operasionalisasi masjid kala itu selain tempat beribadah, juga tempat yang berkaitan dengan pertahanan, keamanan, dan siasat pertempuran.
“Dan sekaligus untuk melaksanakan latihan fisik menghadai musuh yang datang, termasuk menjadi pusat-pusat kebijakan lain.” ujarnya.
Dahlan mengemukakan itu saat Training of Trainer (ToT) Akademik Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) di Pesantren Mahasiswa Pesantren Mahasiswa Internasional KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (26/6).
Merujuk pada zaman Nabi itu, barangkali kondisi itu tidak lepas. Karena menjadi pusat segalanya. “Semuanya kemudian berlangsung di masjid,” imbuhnya.
Dan bersambung sampai saat ini, hal paling melekat dari masjid ialah sebagai pusat keilmuan.
“Ada kajian-kajian tentang keislaman. Kemudian dibangun ruang-ruang kelas yang memiliki masjid itu,” terangnya.
Lantas, bagaimana dengan masjid Muhammadiyah? “Marilah kita cari formulanya,” ajak Dahlan.
Jika disimplifikasikan, kemajuan peradaban sebuah bangsa berpokok pangkal ilmu. Karena itu sebagai basis yang paling fundamental.
“Yang pasti dan ini menjadi bagian juga teramat penting yaitu bagaimana masjid itu bisa melekat dengan perkembangan ilmu pengetahuan,” tekannya.
Di situlah relevansi ilmu dalam kehidupan. Sebab, sebagian kemajuan itu bersumber dari ilmu. Tapi, fakta lain menampakkan di permukaan.
“Kenapa kita tercecer di belakang? Karena dalam hal ilmu kita tertinggal,” yang disebut Dahlan, tidak dipelajari secara berkelanjutan.
Jauh daripada itu, masjid harus bisa membentuk moral dan akhlak. Terlebih, tampilan moral saat ini menunjukkan ironi.
“Akhlak kita pun juga dalam keadaan amburadul,” beber Dahlan, turut mengomentari kalau, masyarakat muslim saat ini, telah kehilangan tiga variabel paling substansial.
“Kehilangan keteladanan, kehilangan kesederhanaan, dan kehilangan kejujuran,” ungkapnya.
Di sinilah, menurut Dahlan, masjid Muhammadiyah perlu mengambil peran yang lebih strategis, tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembinaan akhlak, serta pembentukan karakter umat.
"Maka akan menghasilkan manusia yang sempurna, Insyaallah," pungkasnya. (Cris)

